Iran Ungkap Cara Perekrutan Mata-mata CIA
Dalam konferensi pers, kepala kontra-intelijen memaparkan, badan intelijen AS itu bisa memperoleh mata-mata berkat "jebakan visa".
Penulis: Beni Yulianto | Editor: wakos reza gautama
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TEHERAN - Pekan lalu, Iran mengklaim menangkap mata-mata Amerika Serikat.
Kali ini Iran mengungkap modus perekrutan mata-mata CIA, agen rahasia negeri Paman Syam itu.
Intelijen Iran mengungkapkan cara Badan Intelijen Amerika Serikat ( CIA) merekrut agen rahasia mereka, dan kemudian disusupkan ke sektor penting.
Dalam konferensi pers, kepala kontra-intelijen yang menolak disebutkan namanya memaparkan, badan intelijen AS itu bisa memperoleh mata-mata berkat "jebakan visa".
"Jebakan itu dibuat oleh CIA bagi warga Iran yang hendak bepergian ke AS," ujar pejabat itu seperti dikutip media pemerintah IRNA via AFP Senin (22/7/2019).
Pejabat itu menjelaskan, agen CIA bakal mendekati individu yang tengah mengurus visa.
Sementara yang lain dipaksa ketika hendak memperbarui visa mereka.
Dari metode itu, terkumpullah 17 orang yang kemudian mendapat pelatihan tentang bagaimana membangun jaringan komunikasi untuk menyerahkan informasi rahasia dengan aman.
"Misi mereka adalah mendapatkan informasi rahasia dan melakukan kegiatan spionase di kawasan sensitif dan penting menggunakan teknologi canggih," ujar pejabat itu.
Jaringan agen rahasia itu kemudian bakal disebar ke berbagai sektor penting Iran seperti ekonomi, pengembangan nuklir, maupun militer serta bekerja sebagai kontraktor maupun konsultan.
Intelijen Iran melanjutkan, seluruh terduga mata-mata yang berasal dari CIA telah ditangkap antara Maret 2018 hingga Maret 2019, dan diserahkan ke pengadilan.
"Mereka yang dengan sengaja ingin mengkhianati negara telah dibawa kepada hukum dengan beberapa di antaranya dihukum mati. Yang lain mendapat hukuman penjara," ujar si pejabat.
Intelijen Iran bisa membongkar jaringan agen rahasia itu berkat bantuan "negara asing".
Namun, Teheran tidak bersedia membuka negara mana yang dimaksud.
Sebelumnya, Teheran terlibat perseteruan panas dengan AS sejak Mei 2018, yakni tatkala Presiden Donald Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir 2015.
Washington kemudian membuat kebijakan dengan menerapkan sanksi kepada Iran, dan dibalas dengan pengayaan uranium melebihi kesepakatan dalam perjanjian 2015.
Juni lalu, Trump sempat membatalkan serangan udara yang diperintahkannya sendiri sebagai balasan setelah Iran mengumumkan sudah menembak jatuh drone AS.
Tensi kemudian berkembang ketika Marinir Inggris menyerbu kapal tanker super di perairan Gibraltar Juli ini karena diduga melanggar sanksi Uni Eropa.
Teheran melalui Garda Revolusi menanggapi dengan mengumumkan penangkapan kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz pada Jumat (19/7/2019).
Tangkap Mata-mata
Sebelumnya Iran menyatakan sudah membongkar jaringan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat ( CIA), dan memberi hukuman mati bagi terduga mata-mata.
Dalam pemberitaan kantor berita Fars, Kementerian Intelijen Iran mengklaim menangkap 17 "mata-mata CIA" dengan beberapa di antaranya dihukum mati.
Dilaporkan Daily Mirror Senin (22/7/2019), agen rahasia itu disebut disusupkan di sektor kritis Itan.
Seperti ekonomi, nuklir, hingga teknologi siber.
"Intelijen kami berhasil membongkar jaringan mereka. Beberapa di antaranya dihukum mati karena sudah bertindak korup," ujar pejabat anonim Iran.
Washington hingga saat ini belum memberikan tanggapan, dengan kabar itu terjadi di tnegah hubungan yang memanas antara Iran dengan negara-negara Barat.
Pada akhir pekan kemarin, Teheran mengumumkan sudah menahan kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz karena dituduh melanggar "peraturan maritim internasional".
Minggu (21/7/2019), muncul rekaman percakapan antara kapal perang Inggris HMS Montrose dengan kapal patroli Iran perihal kapal tanker Stena Impero.
Perdana Menteri Inggris Theresan May rencananya memimpin rapat kabinet darurat atau Pertemuan Kobra untuk membahas Stena sekaligus sikap London.
Kemudian pada Sabtu (20/7/2019), negara Teluk itu merilis video yang mematahkan klaim Presiden AS Donald Trump bahwa kapal perangnya sudah menghancurkan drone Iran.
• Indonesia Sempat Gegerkan Dunia dengan Ciptakan Bom Nuklir Sendiri, Amerika Sampai Lakukan Ini
Trump mengatakan kapal angkut helikopter USS Boxer "bertindak defensif" setelah drone Iran mengabaikan peringatan dan terbang hingga jarak 900 meter.
Ketegangan antara Barat dengan Iran utamanya dipicu dengan keputusan Presiden Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir yang dibuat pada 2015.
• Iran Klaim Sudah Menangkap 17 Mata-mata CIA Amerika
Perjanjian yang diteken di era pendahulu Trump, Barack Obama, mensyaratkan Iran mengurangi produksi nuklir sebagai ganti pencabutan sanksi ekonomi. (kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Iran Klaim Bongkar Jaringan CIA dan Hukum Mati Terduga Mata-mata dan Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-mata-mata.jpg)