Komunitas Sadila Ajari Anggotanya Bahasa Isyarat

Menurut Clara, terbentuknya komunitas ini bermula dari ketertarikan dengan bahasa isyarat oleh para founder komunitas.

Tribunlampung.co.id/Sulis
Anggota Komunitas Sadila 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID,BANDARLAMPUNG - Bahasa merupakan penghubung untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Baik itu melalui bahasa lisan ataupun bahasa isyarat.

Namun tak banyak orang yang memahami bahasa isyarat sehingga menjadi penggagas terbentuknya Komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila).

Wakil Ketua 1 Sadila Arif Fianto mengatakan, komunitas ini resmi terbentuk sejak 23 November 2018 tahun lalu.

Hal yang mendasari terbentuknya ialah ingin membuat teman-teman disabilitas merasa sama atau sepadan dengan orang normal lainnya melalui komunikasi yang baik.

"Kegiatan rutin yang kami lakukan adalah kelas isyarat tiap Sabtu untuk anggota Sadila dan teman-teman normal, agar kita mampu memahami bahasa mereka dan apa yang mereka sampaikan," kata Arif kepada Tribun, Kamis (1/5/2019).

Salah satu founder Sadila Clara R menambahkan, kelas tersebut dimulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. bahkan selain belajar bahasa isyarat secara berkelanjutan, juga ada sesi sharing setelahnya hingga pukil 17.00 WIB.

"Karena anggota kita banyak yang bekerja jadi kelas diadakan setiap Sabtu siang hingga sore hari," ungkap karyawan swasta di Panjang ini.

Menurut Clara, terbentuknya komunitas ini bermula dari ketertarikan dengan bahasa isyarat oleh para founder komunitas.

Diantaranya Eti Mudmainah, Akbar Repanji, Arif Fianto, Apriliana, Meranti, Clara R, Edovan, Musas, Rayadi Ikhsan, Chandra, dan Gian Adi.

Bahkan kegiatan berkumpul untuk belajar bahasa isyarat jauh sudah dilakukan sebelum memiliki wadah, yakni sejak tahun 2017 lalu.

"Sebelum Sadila memang tidak ada nama, tidak ada identitas. Awalnya tertarik mempelajari bahasa isyarat yang digunakan teman-teman tuli," beber perempuan yang akrab disapa Lala ini.

Lalu Eti Mutmainah yang juga Ketua Sadila mencetuskan untuk membuat kelas bahasa isyarat ke masyarakat umum dua kali seminggu saat itu.

Tujuannya agar masyarakat umum bisa memahami teman-teman berkebutuhan khusus melalui pemahaman bahasa mereka. Karena itu adalah hak teman-teman tuli.

Pesertanya kebanyakan mahasiswa, seperti dari UIN, Unila, Teknokrat, UBL karyawan swasta, dan umum.

"Saya pribadi sendiri tertarik mempelajari bahasa isyarat karena pernah bertemu teman yang ternyata tuna wicara dan rungu. Lalu menjadi luas jadi ingin memberi hak mereka saja," kata dia.

Dia berharap sumbangsih kecil komunitas ini mampu menjadi jembatan komunikasi dengan kaum disabilitas secara umum, bukan hanya untuk yang tuna rungu saja.

Menurutnya, banyak kisah yang bisa digali juga dari para penyandang disabilitas. Anggota Komunitas Sadila merupakan kumpulan bukan penyandang dan juga penyandang disabilitas.

(Tribunlampung.co.id/Sulis Setia M)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved