VIDEO Annisya Reskyla Izati, Penikmat Kuliner Pedas yang Sensasinya Bikin Nagih
Cita rasanya yang nampol di lidah bahkan bisa membuat penyantapnya sampai berkeringat menjadikan makanan bercita rasa pedas begitu digemari.
Penulis: Wahyu Iskandar | Editor: Ridwan Hardiansyah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Masyarakat Indonesia termasuk pencinta kuliner pedas.
Cita rasanya yang nampol di lidah bahkan bisa membuat penyantapnya sampai berkeringat, menjadikan makanan bercita rasa pedas begitu digemari.
Gemar menyantap ragam kuliner pedas dilakoni milenial Lampung Annisya Reskyla Izati sejak sekolah menengah pertama.
Hal itu mulai dari yang berkuah seperti bakso, mie kuah, ayam geprek level 10 atau keripik seblak level 5.
"Sejak SMP berani sampai pedas “setan”. Suka makan pedas karena mama kebetulan juga suka pedas," ujar dara kelahiran Krui, 1 Agustus 2000 ini.
Gadis akrab disapa Ica ini menambahkan, saat pergi ke luar kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bali pasti mencari kuliner berbalur banyak bumbu cabai.
“Wisata kuliner keluar Lampung kayak pas pergi gitu pasti nyari makanan very spicy,” kata Muli 4 Lampung 2019 ini.
Ica menjelaskan, saat wisata kuliner keluar kota menyambangi Richesse Factory level 5 saat di Bandung, ayam bebek mafia di Jakarta Barat, hingga makan nasi campur ekstra pedas di Bali.
"Kalau makan bakso atau mie kuah gitu sambelnya bisa 4 sampai 6 sendok," ungkapnya.
“Biasanya kalau resto kayak ke Shabu Kitchen gitu atau pas ada Food Festival pasti nyempetin kulineran pedes. Bujet sekali makan berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu," terang Annisya Reskyla Izati.
Anak kedua dari dua bersaudara ini menyatakan, saat menyantap makanan pedas, minuman yang dibutuhkannya untuk menetralkan rasa cukup es teh atau air mineral.
Kebiasaannya menyantap makanan pedas bahkan pernah memberikan dampak kurang mengenakkan baginya. Ica pernah sampai dirawat di rumah sakit karena penyakit maagnya kambuh.
Kondisi itu tak lantas membuatnya terhenti menikmati kuliner pedas.
Orangtuanya hanya meminta untuk membatasi agar jangan sampai sakit lagi.
Menyiasati agar tak gampang sakit saat makan kulineran pedas, Ica membiasakan perutnya dalam kondisi sudah terisi makanan terlebih dahulu.
Selain itu menyantap makanan pedas tidak dilakukannya setiap makan demi menjaga kesehatannya.
"Setiap makan selalu pedas nggak baik juga," ujar mahasiswi Manajemen Semester 3 di Darmajaya itu. (*)
(Tribunlampung.co.id/Sulis Setia Markhamah)
Videografer Tribunlampung.co.id/Wahyu Iskandar