Sejarawan Terkenal Ungkap Kerajaan Sriwjaya Hanya Fiktif, Tapi Arkeolog Pernah Temukan Ini Buktinya?

Seorang sejarawan bernama Ridwan Saidi menyebut bahwa kerajaan Sriwijaya fiktif belaka. Pernyaataan Ridwan Saidi tersebut menjadi viral di media

Tayang:
Penulis: Romi Rinando | Editor: Reny Fitriani
tribunsumsel
Ekskavasi - Seorang masyarakat setempat sedang melakukan ekskavasi penggalian Candi untuk membantu Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi di komplek Candi Kedaton dalam kawasan percandian Muarajambi,Selasa (16/7/2013).Kawasan percancian Muarajambi diduga merupakan peninggalan pusat pembelajaran agama Budha di Sriwijaya,luas pencandian Muarajambi tersebut sekitar 17 kilometer persegi dan percandian ini merupakan komplek percandian terbesar di Asia Tenggara. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID – Seorang sejarawan bernama Ridwan Saidi menyebut bahwa kerajaan Sriwijaya fiktif belaka.

Pernyaataan Ridwan  Saidi tersebut menjadi  viral di media sosial, dan menimbulkan perdebatan.

Sebuah video di YouTube yang menyatakan bahwa kerajaan Sriwijaya fiktif belaka viral di media social. Ridwan menyebut bahwa tidak pernah ada tentara dan benteng Portugis.

Sebab, menurut Ridwan, orang-orang Portugis datang ke Nusantara bukan untuk berperang, melainkan hanya untuk berdagang.

Dalam waktu singkat, video yang diunggah pada 23 Agustus 2019 di kanal YouTube Macan Idealis tersebut mendapat berbagai reaksi keras dari warganet.

Lagi pula, seolah melupakan kejayaan Indonesia di bidang maritim masa lalu.

Sebab, melalui kerajaan yang berbasis di Sumatera tersebut dikenal sebagai leluhur kekuatan maritim Indonesia.

Bahkan, kerajaan ini juga dikenal sebagai leluhur bangsa Indonesia terkait dengan toleransi.

 Simak Videonya 

Indonesia ‘pernah’ berjaya dalam kemaritiman pada masa kerajaan Sriwijaya.

Pelajaran sejarah yang kita dapatkan semasa sekolah mungkin tidak secara mendalam membahas kejayaan Sriwijaya kala itu.

Beberapa nilai yang paling menonjol adalah tentang toleransi, kekuatan maritim, serta perdagangan.

Kini pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya berusaha mengembalikan kekuatan maritim milik Indonesia.

"Kami pernah jaya sebagai bangsa pelaut. Kehidupan ekonomi kami sebagian berasal dari sumber daya maritim dan hasil perdagangan laut. Kami berada di tengah pusat gravitasi ekonomi dan politik dunia sebagai titik tumpu dua samudera, Pasifik dan Hindia," ujar Joko Widodo saat menjadi pembicara dalam acara International Maritime Organization (IMO) di gedung IMO, London, pada 20 April 2016.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan juga menyoroti kebesaran bangsa Indonesia.

Sumber: Intisari Online
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved