Cerita Komunitas Gbox Dancer Tampil di Belanda dan Juara Nasional
Latihan menari tradisional, hip hop, kreasi, etnik, dan jazz, dan ballet setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 16.00-17.30 menjadi rutinitas.
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: martin tobing
Laporan Wartawan Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Latihan menari tradisional, hip hop, kreasi, etnik, dan jazz, dan ballet setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 16.00-17.30 menjadi rutinitas personel G-Box Dancer.
Latihan dilakukan di Sanggar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, di tempat senam, atau di basecamp G-Box Dancer.
Founder G-Box Dancer Yogi Romli Saputra mengatakan, selama latihan berlangsung, masing-masing anggota sesuai genre tarian latihan bergantian. Mereka dilatih dua pelatih utama dan dua asisten pelatih.
"Saat istirahat latihan, anggota bisa sharing mengenai kesulitan apa saja yang dialami ketika dance. Kemudian diberikan solusi untuk mengatasi kesulitan itu," ujarnya.
Selain latihan, G-Box Dancer imbuh Yogi, komunitas ini sering menerima job berbagai kegiatan. Misalnya, menghadiri launching produk, pembukaan event, acara perusahaan, dan sebagainya.
• Komunitas Jalan-jalan Edukasi Lampung Usung Ragam Misi Sasar Anak Panti Asuhan
Bahkan, dancer komunitas ini pernah tampil di luar negeri seperti di Korea, Cina, Belanda, Taipei, Malaysia, dan Singapura. Selain itu G-Box Dancer juga sering mengikuti berbagai lomba hingga tingkat provinsi hingga nasional.
Kejuaraan nasional modern dance pernah diikuti diantaranya, Jakarta, Palembang, Bandung, Tangerang, dan Surabaya.
Dari perlombaan itu, ada member meraih juara dua saat di Palembang, juara tiga di Bandung, dan juara dua Lampung Festival Krakatau Tahun 2012.
Dalam waktu dekat, personel G-Box akan ikut lomba dance antar SMA se-Provinsi Lampung 12 Oktober 2019.
Dalam lomba tersebut, mereka akan menari modern dance bertema Disney sesuai ketentuan panitia lomba.
Menurut Yogi, awal terbentuknya G-Box Dancer melalui perjuangan yang tidak mudah. Awal berdiri 2003 silam, komunitas ini pernah hanya memiliki satu kostum saja.
• Komunitas Sahabat Difabel Lampung Rutin Gelar Kelas Isyarat Tiap Sabtu
Sedikit demi sedikit anggota mengumpulkan uang dari kas, bayaran job, hadiah lomba untuk membuat kostum baru. Cerita lain yang meninggalkan kesan adalah saat mengikuti lomba di Palembang 2007 lalu.
G-Box Dancer harus mencari penginapan yang murah. Itu karena saat itu dana untuk mengikuti lomba minim, hanya berasal dari anggota. Alhasil, mereka harus cermat menggunakan dana.
"Sejak tahun 2003, dana yang kami miliki murni hanya dari uang kas, bayaran job, dan hadiah lomba".
"Baru pada tahun 2013, kami mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung dari sisi dana maupun sanggar," urai Yogi. (*)