Tribun Lampung Barat
Dinas TPH Lampung Barat Berdayakan Pengolahan Pasca Panen, Atasi Anjloknya Harga Tomat
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Lampung Barat berupaya mengembangkan program pascapanen untuk mengatasi anjloknya harga tomat di pasaran.
Penulis: Ade Irawan | Editor: Noval Andriansyah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LIWA - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Lampung Barat (Lambar) berupaya mengembangkan program pascapanen untuk mengatasi anjloknya harga tomat di pasaran.
Kepala Bidang Hortikultura DTPH Lambar Patoni mengatakan, pihaknya memiliki program pengolahan pascapanen untuk mengatasi anjloknya harga.
"Sehingga hasil panen petani dapat diolah dan dikembangkan melalui produk jadi, sehingga mempunyai nilai lebih dan diminati semua masyarakat," ucap Patoni, Senin (9/9/2019).
Menurut Patoni, kegiatan tersebut bersumber dari APBD yang terfokus pada pengolahan hasil panen petani.
Bentuk kegiatannya, lanjut Patoni, adalah pelatihan pengolahan dan pemberian bantuan alat.
"Syaratnya kelompok tani, mempunyai produk dan telah teregistrasi, selain itu juga kelompok tani sudah terdata dengan pengajuan proposal," ucap Patoni.
• Polisi Jalan Kaki 5 Jam Tangkap 3 Pembantu Asal Lampung, Terkait Kasus Istri Bakar Suami dan Anak
• Bocah 8 Tahun Menjerit-jerit Dibakar Teman Sekolah, Para Pelaku Menonton Sambil Tertawa
Patoni menambahkan, untuk saat ini terdapat lima kelompok tani yang telah mendapat bantuan alat produksi, yaitu kelompok petani di pekon Batu Kebayan Kecamatan Batu Ketulis, pekon Waspada Kecamatan Sekincau, pekon Ujung Kecamatan Lombok Seminung, pekon Sukamarga Kecamatan Suoh dan Plamboyan Kelurahan Way Mengaku.
Adapun bantuan yang diberikan, imbuh Patoni, di antaranya alat berupa blender untuk pengolahan tomat di pekon Waspada, juser untuk pengolahan ekstrak jahe di pekon Batu Kebayan, alat pemisah minyak spinner di Plamboyan, alat kemas pengolahan manisan salak di pekon Sukamarga dan alat sangrai pengolahan kacang kulit dan kripik di pekon Ujung.
"Kegiatan itu sudah dilaksanakan secara simbolis, namun ada beberapa alat yang sedang dipesan," ungkapnya.
Patoni berpesan kepada petani untuk membentuk kelompok dan dapat mengolah hasil panen sehingga mempunyai nilai lebih.
"Saya harap petani mau belajar berwirausaha dengan menciptakan sebuah produk yang laku di pasaran, sehingga tidak ada kata hasil panen sia-sia," tandasnya.
Sebelumnya, harga tomat yang anjlok hingga Rp 300 rupiah menjadi perhatian pihak-pihak terkait, salah satunya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Lampung Barat.
Yedi Ruhyadi Kepala Dinas TPH Lambar saat dikonfirmasi wartawan Tribunlampung.co.id mengatakan akan mencari mitra kerja pengolahan tomat, Jumat (6/9/2019).
Yedi menjelaskan, dari hasil survey saat rapat di provinsi, tomat sekarang dalam masa panen dan produksi sedang meningkat.
"Sementara pemasaran hanya ke Bandar Lampung dan Palembang. Sehingga harga mengalami penurunan," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/dinas-tph-lampung-barat-berdayakan-pengolahan-pasca-panen-atasi-anjloknya-harga-tomat.jpg)