Tribun Bandar Lampung

Diduga Dianiaya Senior Saat Diksar, Mahasiswa Unila Lapor ke Polda Lampung

Diduga mendapat perlakuan kasar saat menjalani pendidikan dasar (Diksar), seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unila melapor ke Polda Lampung.

Diduga Dianiaya Senior Saat Diksar, Mahasiswa Unila Lapor ke Polda Lampung
Tribunlampung.co.id/Hanif
Rifaldi Dwi Prasetya (19) warga Labuhan Ratu yang melapor atas dugaan penganiayaan yang telah dilakukan oleh seniornya. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Diduga mendapat perlakuan kasar saat menjalani pendidikan dasar (Diksar), seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unila melapor ke Polda Lampung.

Mahasiswa ini bernama Rifaldi Dwi Prasetya (19) warga Labuhan Ratu yang melapor atas dugaan penganiayaan yang telah dilakukan oleh seniornya.

Mahasiswa Fakultas Hukum Unila angkatan 2019 mengaku dugaan penganiayaan ini bermula saat ia mengikuti diksar di salah satu UKM.

"Saat sebelum Diksar saya memang lagi sakit karena sempat dirawat dua hari sebelum ikut," ungkapnya saat melapor, Rabu 18 September 2019.

Lanjutnya, Diksar ini diikuti oleh 12 mahasiswa dan dilaksanakan selama dua hari di Gunung Betung, Pesawaran pada 12-15 September 2019.

Revaldi menuturkan saat pelaksanaan Diksar ia sempat mengaku tidak kuat dan izin pulang, namun malah mendapat perlakuan kasar.

"Saat ditanya senior siapa yang tidak kuat dan izin pulang, saya ngangkat (tangan). Tapi saya malah dipanggil dan dipisahin, saya dipukulin, nanti masuk barisan lagi, jadi setiap ada sesi saya selalu bilang enggak kuat, saya dibawa ke hutan dipukulin," bebernya.

Pengurus IMI Lampung Alami Penganiayaan, Mata Bengkak Dipukul YR, di Gor Saburai

Puncak penganiayaan pada hari kedua.

Ia dibawa oleh 5 seniornya yakni A, F, D alias F, dan G, ke hutan.

"Kacamata saya diambil dan digebukin sampai pingsan. Saya dipaksa bangun, ditendang-tendang. Katanya enggak usah pura-pura pingsan, laki kok lemah," tuturnya.

Ibu Rifaldi, Novi Ursal (49), berharap kasus ini ditindaklanjuti oleh aparat dan pihak kampus.

"Kami sudah membawa bukti visum dari RSUAM. Kalau biasa saya masih terima. Tapi kalau sampe pemukulan kan berujung pidana. Anak saya itu bibirnya pecah ditonjok, kukunya hampir lepas, kepalanya ditendang, dada ditonjok, perut diinjek, enggak manusiawi," tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa)

Penulis: hanif mustafa
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved