VIDEO Kenali Penyebab dan Gejala Skizofrenia

Beberapa hari lalu ramai diberitakan anak Elvy Sukaesih bernama Haidar mengamuk di warung karena tidak diberi utang rokok.

Tayang:
Penulis: Wahyu Iskandar | Editor: Heribertus Sulis

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Beberapa hari lalu ramai diberitakan anak Elvy Sukaesih bernama Haidar mengamuk di warung karena tidak diberi utang rokok. Diduga Haidar mengalami skizofrenia.

Kaprodi Psikologi Universitas Malahayati Octa Reni Setiawati S.Psi, M.Psi mengatakan, skizofrenia termasuk dalam golongan gangguan jiwa.

Skizofrenia adalah gangguan persepsi, afektif, perilaku, dan kondisi psikilogis.

Seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami kesulitan berhadapan dengan realita dan tidak mampu memahami dirinya.

Sehingga orang itu kerap disebut sebagai "orang gila", karena "orang gila" kalau ditanya namanya pasti tidak jawab atau menjawab dengan bahasa lain.

Skizofrenia bisa disebabkan faktor herediter yang berkaitan dengan keturunan.

Ada beberapa penelitian yang menyebutkan skizofrenia bisa diturunkan. Misal, ibunya menderita skizofrenia, kemungkinan besar, anaknya juga akan mengalami skizofrenia.

Penyebab lain adanya gangguan dari neurotransmitter yang biasanya salah satunya tingkat hormon dopamin terlalu tinggi. Penyebab itu termasuk faktor biokimia yang merupakan unsur yang terkait dalam otak atau tubuh.

Dapat pula disebabkan faktor psikososial. Ini merupakan faktor psikologis seseorang mengalami skizofrenia, seperti pola asuh keluarga yang patologi. Dalam pola asuh itu orangtua tidak bisa memberikan peran psikologis.

Misalnya seorang ibu yang dominan, tidak hangat, dan tidak komunikatif. Sehingga anak seolah hanya siap diperintah. Anak tidak ada kesempatan untuk mengembangkan dan membangun dirinya secara positif.

Selain pola asuh patologi, lingkungan sekitar yang tidak sehat juga termasuk psikososial.

Lingkungan yang tidak sehat itu bisa menimbulkan trauma yang luar biasa. Misal ada pengalaman yang tidak bisa diterima karena menyakitkan.

Dalam banyak kasus atau penelitian, kejadian awal skizofrenia muncul pada usia remaja akhir hingga dewasa dini. Biasanya skizofrenia paling banyak menyerang laki-laki dibandingkan perempuan.

Berdasarkan pravelensi penduduk, 1 persen dari seluruh penduduk dunia alami skizofrenia

Gejala Skizofrenia dibagi menjadi gejala positif dan negatif. Gejala positif salah satunya halusinasi, yakni seseorang memiliki persepsi sesuatu tapi tidak ada sumber inderanya.

"Misal dia berkata, itu ada api yang bergerak dan api itu melihat aku, atau ada suara yang bisik-bisik ditelinga aku. Padahal sebenarnya itu tidak ada. Hanya halusinasi dia saja. Halusinasi itu masuk gejala positif," ujar Octa

Gejala positif lain delusi yang mengarah sampai paranoid. Misal dia bilang, aku dilihat orang-orang terus sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara gejala negatif, muncul perasaan apatis dan depresi.

Segera Bawa ke Rumah Sakit Jiwa

Jika memiliki anggota skizofrenia, harus peduli dengan dia, langsung lakukan pendekatan dan berbicara kepadanya.

Mungkin dia ingin bisa curhat mengenai apa yang dia rasakan atau alami. Sehingga harapannya, dia tidak langsung menjadi skizofrenia

Tapi kalau dia sudah tidak ada kontak dengan realita dan nama sendiri saja tidak tahu, paling cepat bawa dia ke rumah sakit jiwa. Disana penanganan lebih komprehensif, serta ada dokter jiwa dan psikolog.

Namun sayangnya, masih banyak yang berpendapat kalau ke rumah sakit jiwa itu membuat malu dan aib. Pendapat itu harus diubah. Masyarakat harus bisa menilai rumah sakit jiwa sebagai solusi kesehatan mental.

"Apalagi jika ada keluarga yang menderita skizofrenia. Anggota keluarga lain harus mengerti, kalau dia membutuhkan pengobatan di rumah sakit jiwa. Jadi bawa dia kesana. Jangan bawa ke psikolog, kecuali dia sudah dalam keadaan yang positif, sehingga psikolog bisa memberikan konseling dan psikoterapi," kata Octa.

Pengobatan memang tidak bisa menyembuhkan skizofrenia, artinya penderita skizofrenia akan terus hidup dengan skizofrenia. Meski tidak bisa sembuh namun bisa meminimalkan gejalanya. Sehingga penderita skizofrenia bisa hidup dengan positif.

(Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)

Videografer Tribunlampung.co.id/Wahyu Iskandar

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved