Dampak Buruk Kabut Asap Karhutla Bagi Kesehatan dari Dokter Riyan Wahyudo
Maraknya kebakaran hutan atau lahan (karhutla) yang terjadi saat ini tak dipungkiri menyebabkan kabut asap di beberapa kota besar di Indonesia.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Maraknya kebakaran hutan atau lahan (karhutla) yang terjadi saat ini tak dipungkiri menyebabkan kabut asap di beberapa kota besar di Indonesia. Contohnya Jambi, Riau, Sumatera Barat, dan sebagian daerah di Kalimantan.
Kondisi kabut asap akibat karhutla ini berdampak buruk bagi kesehatan tubuh baik jangka pendek maupun panjang, secara langsung maupun tidak langsung.
Dokter umum dari Rumah Sakit DKT Bandar Lampung dr Riyan Wahyudo mengatakan, dampak langsung yang dirasakan sendiri tergantung bagian tubuh mana yang terpapar asap.
"Misal terkena mata tentu akan merasakan iritasi pada bagian mata. Begitu juga ketika terkena lapisan kulit, responnya bisa alergi yang menimbulkan rasa gatal, panas ataupun nyeri," beber dokter Riyan kepada Tribunlampung.co.id, Jumat (27/9/2019).
Tak hanya itu saja, dampak langsung lainnya ketika asap terhirup cukup banyak akan menganggu fungsi paru-paru dan saluran pernafasan berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Itu karena ukuran partikel debu pada asap yang sangat kecil yakni kurang dari 10 mikrometen (PM10). Bahkan jika asap itu memiliki bau bisa menyebabkan mual dan muntah.
Selain itu dampak paparan kabut asap yang mengenai makanan atau minuman yang dikonsumsi tentu akan lebih kompleks lagi karena langsung masuk ke saluran pencernaan. Bisa menimbulkan diare, mual muntah, hingga gangguan pencernaan lainnya.
Jenis gas yang terkandung dalam asap sendiri ada karbondioksida dan karbonmonoksida (pada pembakaran kendaraan bermotor), nigrogen, sulfur, dan ozon juga.
"Ketika kadar karbonmonoksida tinggi, hemoglobin akan banyak berikatan dengan CO dibandingkan dengan oksigen dan menimbulkan sesak nafas bagi penghirupnya," ujarnya.
• Komunitas di Lampung Mulai Galang Dana untuk Kabut Asap
Asap sendiri selain mengandung debu, juga terdapat partikel lain dari zat yang terbakar salah satunya bersifat karsinogenik (dapat mengakibatkan kanker).
• Viral Gubernur Riau Pelesiran ke Thailand Saat Kabut Asap, Anak Buahnya Buka Suara
Asap ini tak hanya dari hasil pembakaran hutan, lahan, atau sampah saja, tetapi juga mobilitas kendaraan seperti yang terjadi di Jakarta saat ini.
Mencegahnya sendiri menurut dr Riyan tentu dengan menghindari paparan kabut asap jika memungkinkan.
Lalu tidak keluar rumah atau jika harus keluar runah untuk memakai masker respirator (N95) yang mampu menghambat debu masuk saluran nafas.
Banyak konsumsi buah dan sayur dan kondisi makanannya pastikan bersih. Lalu jangan menambah jumlah asap dengan membakar sampah di rumah, berperilaku hidup sehat dan tidak merokok.
"Pastikan sumber air minumnya bersih dan sebaiknya ke dokter jika mengalami gejala berlebih akibat paparan asap," tandasnya.
(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia M)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/dokter-riyan-wahyudo-aa.jpg)