VIDEO Bungker dan Gua Jepang di Bandar Lampung
Penjajahan Jepang selama 3,5 tahun di Indonesia, turut dirasakan masyarakat Lampung.
Penulis: Wahyu Iskandar | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Penjajahan Jepang selama 3,5 tahun di Indonesia, turut dirasakan masyarakat Lampung.
Jejak peninggalan penjajah Jepang pun masih bisa ditemui hingga saat ini di Bandar Lampung.
Satu di antaranya bungker dan gua Jepang di Kelurahan Gotong Royong, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung.
Totalnya ada satu gua dan lima bungker.
Kelima bungker Jepang itu tersebar di beberapa titik.
Bungker
Sedikitnya diketahui, ada lima bungker Jepang di kelurahan Gotong Royong, Bandar Lampung.
Adapun, lokasi kelima bungker Jepang di Bandar Lampung, di antaranya di area SMAN 2 Bandar Lampung, di depan SMPN 25 Bandar Lampung, serta di depan dan belakang kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bandar Lampung.
Mengenai waktu pembangunan bungker, hal tersebut tidak diketahui secara pasti.
"Kita juga nggak tahu pasti tahun kapan dibangunnya, tapi yang pasti sudah ada sejak zaman Jepang," kata seorang tokoh masyarakat setempat sekaligus mantan ketua RT Burhanuddin Adam (64), Kamis, 19 Desember 2019.
Bungker yang masih tampak kokoh terbuat dari beton.
Dahulu, bungker digunakan para tentara Jepang untuk berlindung dari serangan musuh.
"Bentuknya persegi dan ada yang besar dan kecil," ujarnya.
Ia mengatakan, bungker yang besar ukurannya sekitar 4x4 meterpersegi.
Sedangkan, bungker yang kecil berukuran 3x4 meterpersegi.
Bangunannya yang timbul di atas tanah, membuatnya mudah diidentifikasi oleh warga sekitar.
Mereka tidak perlu melakukan penggalian untuk menemukan bungker tersebut.
Ketika masih kecil, Burhanuddin dan teman-temannya bahkan menjadikan tempat bersejarah tersebut sebagai tempat bermain.
Mereka sempat masuk dan melihat-lihat kondisi di dalam bungker.
"Ruangannya kecil, pengap, tapi kokoh," ujarnya sambil mengenang.
Di sana, tidak ada perabotan atau barang-barang peninggalan apapun.
Hal yang ada hanya lubang-lubang kecil tempat para prajurit mengintai musuh dan tempat mereka beristirahat.
Burhanuddin juga mengatakan, lumut atau tumbuh-tumbuhan liar tidak ditemukan di dalam bungker Jepang itu.
"Bersih, nggak ada apapun di dalamnya," katanya menambahkan.
Gua Jepang
Sementara, gua Jepang ada di samping bungker di depan kantor Disdikbud Bandar Lampung.
Jika dilihat dari jauh, mulut gua tersebut memang sudah tidak dapat dikenali.
Permukaannya telah rata dengan tanah dan di atasnya dijadikan warung oleh warga setempat.
Saksi sejarah yang masih hidup, Burhanuddin mengatakan, gua Jepang tersebut juga digunakan sebagai tempat berlindung tentara Jepang.
Sedangkan setelah zaman kemerdekaan hingga sekitar tahun 1980-an, gua itu masih digunakan sebagai tempat bermain anak-anak.
"Namanya anak-anak, jadi penasaran gimana kondisi di dalam gua," katanya.
Berbekal tekad dan rasa penasaran tersebut, Burhanuddin kecil bersama teman-temannya akhirnya masuk ke dalam gua.
Sepanjang perjalanan, Burhanuddin mengaku napasnya sesak karena kondisi di dalam gua yang pengap dan minim oksigen.
Ia menuturkan, gua Jepang tersebut masih dalam kondisi bersih tanpa lumut, tumbuhan liar, perabotan atau pun sampah.
"Pas jalan saya pernah sekali ketemu kayak lemari, tapi dari beton, terus dalam keadaan ketutup," kenangnya.
Keinginan untuk membuka lemari tersebut dipendam dalam-dalam oleh Burhanuddin dan kawan-kawan.
Selain karena ukurannya yang besar, kokoh lagi keras, mereka juga takut di dalamnya ada hal-hal yang berbahaya.
Selain itu, mereka juga sempat bertemu beberapa ekor ular besar.
Namun, ia berkeyakinan, selama dirinya tidak mengganggu, maka ular-ular tersebut juga tidak akan mendekatinya.
"Yang penting kan nggak mengganggu, jadi aman," katanya.
gua tersebut kabarnya memiliki dua cabang.
Ada yang tembus ke arah Sumur Putri di Telukbetung dan Taman Kera di Telukbetung Utara.
Namun, kabar tersebut belum diketahui kebenarannya karena ia sendiri hanya sanggup menyusuri setengahnya.
Di samping udara yang semakin lama semakin sedikit, ia juga takut bertemu dengan ular yang ukurannya lebih besar di dalam.
"Namanya cerita orang-orang tua zaman dulu, katanya begitu," ujarnya.
Jadi septic tank hingga tempat sampah
Di usianya yang sudah renta, kondisi bungker Jepang cukup memprihatinkan.
Menurut Burhannudin, beberapa bungker kini dialihfungsikan sebagai septictank, tempat pembuangan sampah, dan sebagian lagi dicor dengan semen hingga tidak dapat dimasuki kembali.
"Ada sih yang bisa dimasuki, di belakang dinas pendidikan, tapi itu semak-semak tinggi, takut jadi sarang ular," ujarnya.
Mulai dari awal kemerdekaan hingga saat ini, bungker-bungker tersebut dibiarkan terbengkalai.
Burhanuddin mengatakan, sekitar tahun 1980 atau 1990-an, ada orang dari dinas pariwisata yang mendata dan berjanji akan mengelola tempat tersebut.
Namun, realisasinya tak tampak hingga saat ini.
"Dulu saya terjun langsung. Saya bawa gambarnya. Saya kasih detail tempatnya, tapi ya sebatas itu aja," katanya.
Pria paruh baya itu mengatakan, ia tidak dapat berbuat banyak karena hal tersebut di luar kewenangannya sebagai warga biasa.
"Kita sebagai warga biasa nggak bisa selalu memperjuangkan itu (bungker), karena punya kehidupan pribadi dan keluarga juga," ujarnya.
Sebagai orang yang pernah berkunjung ke dalamnya, Burhanuddin mengaku meyayangkan kondisi tersebut karena tidak dapat diteruskan kepada anak cucunya di masa depan.
"Yah, mau digimanain lagi, pemerintah juga nggak ambil tindakan nyata buat melestarikan sejarah yang ada," terangnya.
Sejak saat itu, ia yang awalnya bersemangat melestarikan, kini lambat laun lempam.
Disebut angker
Peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut diakui masyarakat setempat lumayan angker.
"Dulu kan ada jalan setapak di situ, jadi angker," ungkap Ketua RT, Kelurahan Gotong Royong, Ahmad Soleh (40).
Menurut Ahmad Soleh, sejumlah orang mengaku pernah melihat makhluk halus di wilayah tersebut.
Meski, hal tersebut belum bisa dipastikan.
Karena, banyak juga orang yang mengaku biasa saja saat melintas.
"Di depan bungker itu ada yang lihat buto ijo, tapi ada juga yang nggak pernah liat sama sekali," ungkapnya.
Keberadaan gua Jepang dan Bungker Jepang merupakan saksi bisu sejarah di Bandar Lampung. (tribunlampungwiki.com/kiki novilia).
Videografer Tribunlampung.co.id/Wahyu Iskandar
Artikel ini telah tayang di Tribuntribunlampungwiki.com dengan judul Gua dan Bungker Jepang di Bandar Lampung