Gara-Gara Virus Corona, Palestina dan Israel Sementara Bersatu, Lawan Covid 19 

Hingga Kamis (2/4/2020) Ada lebih dari 5.500 kasus virus corona yang dikonfirmasi dalam 10 juta populasi Israel, dan 122 kasus di sekitar 2,7 juta war

Editor: Romi Rinando
(Ammar Awad/REUTERS)
PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Menteri Kesehatan Israel Yaakov Litzman (kanan), saat memberi keterangan di Kementerian Kesehatan Israel di Yerusalem, 4 Maret 2020. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Wabah virus corona juga membawa berkah, pasalnya Negara Palestina dan Israel terpaksa bersatu untuk mengatasi pandemi tersebut.

Sebelumnya pada 7 Maret Israel dan Palestina juga menunjukkan kekompakan untuk melawan virus corona. Israel telah mengunci akses ke kota Betlehem, sedangkan Palestina menutup Gereja Betlehem selama dua minggu. 

Wujud kerja sama kedua negara mulai terlihat sejak Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah bekerja sama dengan pejabat kesehatan Israel.

Mereka berkolaborasi untuk mengatur pergerakan warganya dan menerapkan kebijakan manajemen rumah sakit.

Bulan lalu, Israel dan Otoritas Palestina menyetujui kebijakan yang berupaya membatasi pergerakan populasi, sembari membiarkan warga Palestina tetap bekerja.

Sekte Yahudi Ortodok Ini Ingin Lenyapkan Negara Israel dan Dukung Palestina Merdeka, Ini Alasannya

Virus Corona Masuk Israel,  Al-Aqsa Ditutup, Umat Yahudi Dilarang datang ke Tembok Barat dan Berdoa

Sebelum Dieksekusi di Jurang Babi Yar, 33 Ribu Warga Yahudi Diminta Kumpul Bawa Barang Berharga

Para pekerja diberi waktu 72 jam untuk memutuskan apakah tetap tinggal di Israel selama krisis, atau kembali ke Tepi Barat.

"Kami telah memutuskan untuk mencegah masuknya wisatawan dalam jangka waktu 14 hari, dan mengimbau hotel di semua kota untuk tidak menerima warga negara asing," kata Menteri Pariwisata Palestina Rula Maayah pada AFP, Sabtu (7/3/2020).

Langkah ini ditempuh setelah pihak berwenang Palestina mengatakan ada 9 kasus infeksi virus corona di daerah Betlehem di selatan Yerusalem.

Hingga Kamis (2/4/2020) Ada lebih dari 5.500 kasus virus corona yang dikonfirmasi dalam 10 juta populasi Israel, dan 122 kasus di sekitar 2,7 juta warga Palestina.

Namun, jumlah pengujian yang dilakukan di Palestina lebih rendah daripada Israel.

Disarankan bersatu Persatuan yang digalang Israel dan Palestina mendapat sambutan positif, salah satunya oleh Ofer Zalzberg dari International Crisis Group.

"Terlepas dari ketegangan, kerja sama diperlukan karena 'kepentingan pribadi'." "Karena dua populasi saling terkait, membatasi virus hanya dalam satu masyarakat tidak mungkin," kata Zalzberg dikutip dari AFP, Kamis (2/4/2020).

Yotam Shefer dari cabang militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di wilayah Palestina (COGAT), juga menegaskan kerja sama harus kuat.

"Koordinasi dengan Otoritas Palestina sangat ketat dan sangat kuat," katanya pada jurnalis AFP. Mantan kepala COGAT Eitan Dangot pun mengatakan pada wartawan bahwa Otoritas Palestina telah "sepenuhnya mengadopsi kebijakan Israel tentang cara menangani virus corona."

Riak pertikaian masih ada Meski kedua negara telah memutuskan untuk menggalang persatuan, sejumlah pertikaian tetap tidak terelakkan.

Sumber: Juara.net
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved