Breaking News:

Tribun Lampung TV

Pengamat Bicara Dampak PSBB di Jakarta terhadap Ekonomi Lampung

Syahril menyebut sekitar 70 persen perekonomian Lampung ditopang oleh sektor pertanian, dan Jakarta merupakan salah satu market produk pertanian Lampu

Tribunlampung.co.id/Ahmad Robi
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik UBL Syahril Daud. 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Ahmad Robi

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Universitas Bandar Lampung (UBL) Syahril Daud menilai pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta akan berdampak pada ekonomi Lampung.

Syahril menyebut sekitar 70 persen perekonomian Lampung ditopang oleh sektor pertanian, dan Jakarta merupakan salah satu market produk pertanian Lampung.

"Ekonomi Lampung kita ditopang oleh bidang agribisnis, dimana 70 persen bergerak di bidang pertanian," jelas Syahril dalam webinar Bussiness to Bussiness di Tribun Lampung TV, Sabtu (12/9/2020).

"Kita lihat jika PSBB di Jakarta kembali diberlakukan akan berdampak secara nasional, termasuk Lampung. Karena market produk pertanian Lampung merupakan penopang Jakarta. Kalau sampai terjadi PSBB di Ibu Kota, otomatis Lampung akan terkena imbasnya sangat cepat," terang Syahril.

Syahril menjelaskan, sejumlah program stimulus yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi perlu diapresiasi.

Namun, efektivitas program tersebut harus diperhatikan.

VIDEO Anies Baswedan Kembali Terapkan PSBB Total di Jakarta Mulai 14 September

Rekor Baru, Ada Penambahan 44 Kasus Covid-19 di Lampung

"Saat ini sejumlah stimulus seperti di bidang UMKM dan pendidikan terus dilakukan. Hal tersebut bertujuan agar terjadi perputaran uang di tengah masyarakat kita, sehingga ada daya beli masyarakat, terutama di bidang UMKM," jelas Syahril.

"Apabila konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga rendah, ditambah ekspor yang kecil, maka ekonomi akan kembali melanjutkan tren penurunan pada kuartal ketiga dan kita akan masuk ke resesi," imbuh Syahril.

Syahril mengatakan, perlu adanya stimulus dan pemberdayaan di kalangan petani agar hasil pertanian tidak hanya dijual langsung melainkan sudah dilakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai jual dan ketahanan produk.

"Harapan kita tidak hanya UMKM-nya, tetapi di pihak petaninya pun harus diberikan stimulus juga, sehingga hasil pertanian yang tidak bisa dijual langsung bisa dilakukan pengolahan sehingga nilai jual dan daya tahan produk semakin baik," beber Syahril.

Syahril mengatakan, pelaku usaha di Lampung harus mulai melakukan perubahan, terutama dalam sistem penjualan mereka.

Harga Emas Hari Ini Sabtu 12 September 2020, Simak Harga Beli Logam Mulia dan Harga Jual Logam Mulia

"Market dan daya beli semakin rendah maka harus membentuk kemampuan baru seperti pemasaran digital, UMKM mulai didorong menggunakan e-commerce, termasuk packaging dan sistem bisnisnya," jelas Syahril.

"Jika masih mengandalkan pola lama akan sulit bertahan mengikuti perkembangan," pungkasnya. (Tribunlampung.co.id/Ahmad Robi)

Penulis: ahmad robi ulzikri
Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved