Tribun Bandar Lampung
Terdampak Pandemi, Penjualan Keripik Pisang Melte Vanana Merosot hingga 50 Persen
Menjual keripik di masa pandemi ini sangat tertatih-tatih dan harapannya ada bantuan dari pemerintah.
Penulis: Bayu Saputra | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Bayu Saputra
TRIBUN LAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Pandemi Corona menyebabkan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ikut terdampak terhadap penjualan.
Termasuk Melte Vanana yang sering dikenal dengan keripik pisang lumer juga mendapatkan imbasnya akibat wabah corona tersebut.
Salah satu owner Melte Vanana Kervien saat dihubungi Tribunlampung.co.id, Jumat (23/10/2020) mengatakan bahwa penurunan penjualannya sejak adanya wabah yang mematikan tersebut.
Menurutnnya penurunan penjualan sekitar 50 persen.
Setiap bulan produksi yang dihasilkan sektar 10 ribu pcs, namun sekarang ini dirinya bersama tim hanya mampu menghasilkan 5 ribu pcs saja.
Menjual keripik di masa pandemi ini sangat tertatih-tatih dan harapannya ada bantuan dari pemerintah.
“Sangatlah berdampak penjualan keripik sekarang ini, dapat 5 ribu pcs ini saja kami sudah alhamdulillah, mau gimana lagi dan harapannya segera pandemi ini segera selesai dan kita pasarnya sampai negeri jiran Malaysia,” kata sang juara kompetisi Kewirausahan Mahasiswaan Indonesia (KMI) yang digelar Direktorat Kemahasiswaan Kemenristek Dikti November 2018 silam.
Demi mempertahakan penjualannya dirinya tetap menjalankan iklan dan bangun model revenue stream (cara bagaimana membuat tetap ada pemasukan) baru.
Dirinya terus membuat produk baru yang ada fungsi atau berbau tentang kesehatannya.
Terpenting karyawan juga bisa bertahan dan harapannya pemerintah bisa menyelesaikan corona secepat mungkin.
Saat ini ada 10 karyawan yang mengatur tentang pendistrbusian keripik pisang lumer yang dihasilkan tersebut.
Usaha yang dibangun bersama dua mahasiswa Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian lainnya Eka Irawati dan Ali Alhafif semasa kuliah di Universitas Lampung (Unila) Desember 2017 silam ini memiliki reseller mencapai 500 lebih yang terdaftar tetapi yang aktif hanya 100an dengan 24 distributor.
“Semoga jeritan para pelaku UMKM ini bisa didenger oleh pemerintah dan harapannya wabah ini selesai dan kami juga dapatkan stimulus,” kata alumni prodi Agroteknologi ini. (Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)