Breaking News:

Metro

Gapoktan Metro Gropyokan Usir Hama Tikus

Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk mengadakan gropyokan.

Penulis: Wahyu Iskandar
Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id / Indra Simanjutak
Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau gapoktan setempat untuk mengadakan gropyokan hama tikus. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk mengadakan gropyokan hama tikus.

Kepala DKP3 Kota Metro Hery Wiratno mengatakan pihaknya telah menggerakkan sejumlah Gapoktan untuk melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal) hama dengan cara gropyokan. 

Kata Hery Wiratno, kegiatan ini dilaksanakan untuk meminimalisir kerugian akibat hama tikus, karena hama tikus kini menjadi momok pada musim gadu tahun ini.

"Hama tikus saat ini sedang mewabah. Dan berpotensi menyebabkan gagal panen. Jadi, harus adanya pengendalian untuk mengusir dan meminimalisir," terangnya saat gropyokan bersama Gapoktan Usaha Maju dan Makmur di Margodadi, Kamis (10/6/2021).

Hery Wiratno mengimbau agar para petani Metro juga meningkatkan kreativitas meski lahan terbatas.

"Kita beruntung, karena seperti Lampung Tengah atau Lampung Timur enggak semua dapat air. Boleh kita kalah lahan, tapi produktivitas dan kreativitas harus terus jalan," imbuhnya.

Sementara Kepala Pengendali Organisne Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kota Metro Slamet menilai pengendalian hama tikus bisa menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Seperti di Margodadi ini sudah tepat melakuan gropyokan, karena lahan sawah belum ditanami padi," terangnya. 

Ia mengaku, ada beberapa metode pengendalian hama tikus selain gropyokan, yakni dengan memasang jebakan serta umpan beracun untuk meminimalisir perkembangan tikus. 

"Kalau sawah sudah ditanami padi, itu lain lagi. Lebih tepat pakai perangkap dan racun. Kalau gropyokan sudah pasti mendongkel pematang sawah, bisa mengakibatkan kerusakan," ucapnya.

"Tapi kalau sudah masuk masa tanam metode yang kita gunakan itu dibakar atau umpan beracun dan perangkap," imbuhnya.

Slamet menambahkan, untuk mengusir hama tikus juga bisa menggunakan urine hewan.

Seperti sapi, kambing dan kelinci, karena tikus tidak suka dengan bau urine yang sangat menyengat.

"Caranya dengan menyemprotkan ke seputar lubang dan padi. Terakhir bisa juga dengan memagari sawah, tapi ini ongkosnya yang mahal. Makanya rata-rata petani enggan," tuntasnya. ( Tribunlampung.co.id / Indra Simanjutak )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved