Bandar Lampung

Apa Itu DBD, Penyebab, Sampai Gejalanya

DBD adalah penyakit yang disebabkan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti. Simak ulasan apa itu DBD, penyebab, sampai gejalanya berikut.

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Kiki Novilia
Dokumentasi
dr Aldo Aprizo. Apa Itu DBD, Penyebab, Sampai Gejalanya 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Meski saat ini sedang merebak pandemi Covid-19, jangan abaikan penyakit lainnya, terutama DBD (demam berdarah dengue). Simak ulasan terkait apa itu DBD, penyebab, sampai gejalanya berikut ini.

Owner Ganta Sehat Medical Center dr Aldo Aprizo mengatakan, penyakit DBD banyak mengintai di pergantian musim, seperti yang sedang terjadi saat ini.

DBD adalah penyakit yang disebabkan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti.

"Nyamuk aedes aegypty biasanya ada pada pagi hingga sore hari. Kalau malam biasanya tidak ada. Jika nyamuk ini mengigit, bisa terkena DBD," kata dr Aldo, Kamis 12 Agustus 2021

Saat terkena DBD di hari pertama hingga ketiga, akan mengalami gejala yang persis seperti gejala masuk angin yakni demam, mual, sakit kepala, dan badan terasa pegal. 

Baca juga: Penyebab Alami Anosmia Saat Terinfeksi Covid-19

Gejala ini yang sering membuat banyak orang tidak sadar kalau mengalami DBD. Sehingga banyak yang tidak mau ke dokter dan memilih meminum obat yang biasa diminum kalau masuk angin.

Di hari ke 4-7 demam turun dan muncul gejala sedang yakni mimisan, gusi berdarah, dan muncul bintik-bintik merah kecil ditubuh.

Gejala ini muncul karena adanya pendarahan yang terjadi karena kebocoran trombosit, yang menyebabkan jumlah trombositnya turun.

Selanjutnya muncul gejala berat yakni syok dengue.

Gejalanya mengalami gelisah, lemas, kesadaran menurun, dan bisa saja masih terjadi pendarahan.

Baca juga: Apa Itu Anosmia, Cara Atasi Anosmia Secara Alami

Menurut dr Aldo, kebanyakan pasien datang dalam kondisi sudah gejala sedang dan berat, karena saat gejala ringan mereka menganggap pasti ini hanya masuk angin jadi tidak perlu datang ke dokter.

"Padahal kalau masih gejala ringan, pengobatan mudah. Pasien hanya diberi infus, banyak minum air putih, banyak makan makanan bergizi, dan minum obat. Setelah itu sembuh," kata dr Aldo. 

Sedangkan kalau sudah gejala sedang hingga berat, dokter akan melakukan cek trombosit pasien di laboratorium.

Kalau trombosit dibawah 50 ribu per mikroliter darah, maka harus cepat melakukan transfusi trombosit.

Setelah itu trombosit harus dicek terus setiap 12-24 jam sekali

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved