Berita Terkini Nasional

Kesaksian Nakes Diserang KKB, Disiksa hingga Satu Orang Meninggal

Nahas sembilan orang tenaga kesehatan (nakes) yang tengah menjalankan tugasnya diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), satu suster meninggal.

Tayang:
Editor: Hanif Mustafa
handover
ilustrasi anggota KKB, sembilan orang tenaga kesehatan (nakes) yang tengah menjalankan tugasnya diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Nahas sembilan orang tenaga kesehatan (nakes) yang tengah menjalankan tugasnya diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Peristiwa ini terjadi di Distrik Kiwirok , Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Dari sembilan nakes tersebut satu orang meninggal dunia.

Diketahui korban meninggal suster G saat disiksa di sungai.

Korban selamat dari aksi keji KKB di Distrik Kiwirok ini memberi kesasksian.

Sebagaimana dilansir dari Tribunnews.com, 9 nakes yang menjadi korban aksi kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dari Distrik Kiwirok ke Jayapura, Jumat (17/9/2021) siang.

Mengabdi di kawasan terpencil bukan hal yang mudah bagi para tenaga kesehatan.

Baca juga: KKB Tetap Tembak Mati Pekerja yang Sudah Teriak Minta Ampun

Distrik Kiwirok hanya bisa dijangkau dengan penerbangan melalui Distrik Oksibil, jarak tempuhnya sekitar 30 menit sementara bila berjalan kaki, biasanya masyarakat setempat bisa sampai Kiwirok dari Oksibil, dalam waktu dua malam.

Lamanya waktu tempuh jalan darat dikarenakan belum terbukanya akses jalan darat. Sebab, kawasan tersebut dipenuhi perbukitan cukup tinggi.

Mirisnya pengabdian para Nakes di Kiwirok justru menjadikan mereka sebagai sasaran utama KKB.

Marselinus Ola Attanila, Nakes Puskesmas Kiwirok yang menjadi salah satu korban selamat dari penyerangan brutal KKB menuturkan kisahnya.

Ia mengisahkan,  saat KKB datang, ia dan rekan-rekannya saat itu tidak bisa berbuat banyak karena lokasi pertama yang didatangi KKB adalah Puskesmas Kiwirok.

"Saat kejadian, kami sedang bersiaga di Puskesmas Kiwirok, karena sudah ada informasi akan ada penyerangan KKB terhadap Pos Pamtas," ujarnya di Jayapura, Jumat.

"Namun puluhan anggota KKB justru menyerang Puskesmas.

Baca juga: Kapolda Papua Bereaksi Kalem Saat Ditantang Perang oleh KKB

Mereka memecahkan kaca dan mulai menyiram bensin dan membakar puskesmas.

Jadi Puskesmas yang dibakar pertama, kemudian bangunan lainnya," sambung Ola.

Setelah membakar Puskesmas, KKB bergerak ke barak dokter yang saat itu ada dokter, suster dan Mantri.

Kemudian KKB juga membakar barak dokter sehingga nakes yang tengah bersembunyi di dalamnya terpaksa keluar.

"Karena (barak dokter) dibakar mereka berusaha menyelamatkan diri.

Dokter sempat digiring ke pinggir jurang, lalu ditendang masuk ke jurang," kata Ola.

Sementara ia bersama tiga rekan suster yakni suster K, suster A dan suster G bersembunyi di barak medis.

Nahas, KKB juga membakar tempat persembunyian mereka sehingga mereka pun terpaksa keluar.

"Saat itu kami berempat bersembunyi di kamar mandi, namun karena mereka mulai membakar, kami pun keluar tapi mereka ternyata telah menunggu di depan barak dengan senjata lengkap dan panah, lalu kami ke belakang mereka juga ada di sana sementara api semakin membesar," ungkap Ola.

Lompat ke jurang dan disiksa

Karena merasa terjepit, akhirnya mereka sepakat menyelamatkan diri dengan lompat ke jurang.

"Saya yang lompat pertama lalu diikuti ketiga suster.

Saya tersangkut di akar pohon, ada juga yang tersangkut di semak semak," ujar dia.

Tak disangka, KKB justru mengikuti mereka turun ke bawah.

"Kami pikir sampai dibawah jurang sudah aman ternyata mereka ikut turun ke bawah.

Mereka menemukan ketiga suster, sementara saya tidak ditemukan karena bersembunyi di antara tebing dan akar pohon," beber Ola yang menjadi juru bicara bagi delapan Nakes lainnya.

KKB yang ikut turun ke dalam jurang, justru melakukan aksi lebih kejam kepada tiga suster yang mereka temukan di tengah jurang.

Aksi tersebut disaksikan langsung oleh Ola yang bersembunyi di antara ranting pohon dan semak-semak.

"Saat menemukan ketiga suster, mereka langsung kumpulkan dan melakukan tindakan tidak manusiawi.

Ketiganya ditelanjangi, disiksa, wajahnya dipukul bahkan ada yang ditikam.

Membuat ketiga suster ini tidak berdaya dan pingsan," cerita Ola.

KKB kemudian melempar mereka lagi ke jurang.

Beruntung suster A dan K berhasil selamat dan sadar dari pingsannya, sementara suster G meninggal dunia.

Sempat Diperingatkan namun Memilih Bertahan

Para tenaga kesehatan (naskes) yang bertugas di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua sebenarnya mendapat peringatan akan adanya serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), sekitar pukul 07.00 WIT.

Namun para tenaga kesehatan (nakes) tetap bertahan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, meski nyawa taruhannya.

Pikirnya, nakes tak akan diganggu, karena pelayanan kesehatan yang diberikan toh kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Mereka tetap tinggal apabila ada warga yang membutuhkan pertolongan medis.

“Kami mengambil langkah bijak untuk tetap di dalam barak medis dan juga puskesmas sehingga apabila penyerangan dan ada korban, kami sebagai nakes bisa melakukan pertolongan,” kata Marselinus satu di antara nakes yang bertugas di Kiwirok.

Namun persitiwa yang tak disangka terjadi, sekitar pukul 09.00 WIT, terjadi letusan pertama kalinya di Pos Pamtas.

“Kami tidak mengira akan terjadi penyerangan terhadap nakes.

IDI Papua Minta Jaminan Keamanan

Permohonan jaminan keamanan datang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Papua usai kejadian yang menewaskan satu orang tenaga kesehatan  oleh tindakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Senin (13/9/2021)

Ketua IDI Wilayah Papua, Dr Donald Aronggear mengatakan, keberadaan para tenaga kesehatan adalah murni melaksanakan tugas melayani masyarakat.

"Kami organisasi wilayah IDI di Tanah Papua meminta kepada pemerintah, dapat memberikan jaminan keamanan pada seluruh tenaga kesehatan kami yang bertugas," kata Donald dalam jumpa pers virtual, Jumat (17/9/2021).

Donald menjelaskan, kejadian kekerasan yang diterima oleh nakes membuat banyak program pelayanan kesehatan lain terdampak, lantaran nakes harus diliputi rasa takut dan tekanan saat bertugas.

"Pengabdian khusunya pada tenaga kesehatan wajib untuk dilindungi. Artinya jaminan keamanan harus maksimal oleh Pemda dan TNI/Polri.”ujarnya.

“Tidak mungkin tenaga medis bisa masuk ke daerah tersebut kalau tidak ada jaminan keamanan,"katanya.

Pihaknya berharap kejadian kekerasan yang menimpa nakes tidak terjadi kembali.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved