Kesehatan

Halo Dokter, Apa Itu Pneumonia dan Siapa yang Rentan Terinfeksi

Tercatat, sebanyak 809.694 anak di bawah usia lima tahun meninggal karena pneumonia pada 2017. Lalu apa itu pneumonia?

Tayang:
Penulis: Virginia Swastika | Editor: Dedi Sutomo
Pixabay/Daniel Roberts
Ilustrasi virus. Halo Dokter, Apa Itu Pneumonia dan Siapa yang Rentan Terinfeksi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Sering menyerang balita, pneumonia menjadi penyakit yang yang cukup berbahaya. Lalu apa itu pneumonia?

Dalam bahasa awam, pneumonia disebut dengan radang paru akut.

Sebenarnya pneumonia merupakan gangguan kesehatan yang bisa diatasi.

Sayangnya, satu orang anak meninggal dunia setiap 20 detik karena infeksi penyakit ini.

Berdasarkan data WHO, tercatat sebanyak 15% dari populasi anak-anak di dunia meninggal karena pneumonia.

Bahkan pada tahun 2017, penyakit ini telah membunuh 809.694 anak di bawah usia lima tahun.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Malaria dan Pencegahannya

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus, yang menular lewat percikan cairan pernapasan saat batuk atau bersin.

Sedangkan menurut laman resmi American Lung Association, pneumonia adalah penyakit infeksi yang membuat kantung udara paru-paru (alveoli) meradang.

Radang paru-paru tersebut membuat kantung udara berisi cairan atau nanah.

Akibatnya, pasokan oksigen yang masuk ke tubuh dan beredar ke aliran darah jadi terhambat.

Pneumonia bisa berat maupun ringan. Hal itu dipengaruhi jenis kuman biang infeksi, usia, dan kondisi kesehatan penderita.

Faktanya, penyakit ini tergolong menular. Pneumonia bisa menyebar ke orang lain melalui inhalasi tetesan udara dari bersin atau batuk.

Tak hanya itu, bersentuhan dengan benda yang terinfeksi penyebab penyakit ini pun bisa membuat seseorang terserang pneumonia.

Orang yang paling berisiko terkena pneumonia adalah bayi, anak di bawah dua tahun, kalangan lansia di atas 65 tahun.

Baca juga: Halo Dokter, Gejala Bronkitis yang Perlu Dikenali

Pasien yang dirawat di ruang intensif rumah sakit, penderita penyakit kronis, perokok aktif dan pasif, penderita HIV/AIDS, pasien kemoterapi, sampai orang yang pernah menjalani transplantasi organ juga rentan terserang pneumonia.

Gejala pneumonia

Penyakit ini pun memiliki beberapa gejala yang bisa muncul dalam hitungan jam atau hari sejak penderita terinfeksi. Berikut gejala pneumonia:

1. Batuk kering atau batuk berdahak dengan lendir kental berwarna kuning, hijau, atau cokelat.

2. Sesak napas atau kesulitan bernapas.

3. Jantung berdebar.

4. Demam atau suhu tubuh tinggi.

5. Tidak enak badan.

6. Badan berkeringat dan menggigil.

7. Tidak selera makan.

8. Sakit dada terasa lebih parah saat digunakan untuk bernapas atau batuk.

Di samping itu, adapula gejala pneumonia yang jarang terjadi namun tetap bisa dirasakan sebagian penderitanya, antara lain:

1. Batuk berdarah.

2. Sakit kepala Kelelahan.

3. Badan terasa nyeri.

4. Mengi.

5. Nyeri sendi dan otot.

6. Linglung atau merasa bingung, biasanya dialami oleh lansia.

Apabila gejala pneumonia di atas diikuti demam dengan suhu di atas 39 derajat Celsius, sesak napas, dan sakit dada, segera konsultasi ke dokter.

Sebab, pneumonia bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan penanganan yang tepat sesegera mungkin.

Penyebab pneumonia

Pneumonia sendiri ini memiliki banyak penyebab mulai dari bakteri, virus, maupun jamur.

1. Bakteri

Penyebab premunonia bisa berasal dari Streptococcus pneumoniae.

Bakteri ini jamak muncul setelah flu. Ada juga organisme mirip bakteri jenis Mycoplasma pneumoniae biang pneumonia ringan.

2. Jamur

Infeksi jamur kerap memicu pneumonia pada penderita dengan masalah kesehatan kronis atau daya tahan tubuh lemah.

Jamur ini bisa hidup di tanah sampai kotoran burung.

3. Virus

Virus penyebab pneumonia antara lain virus biang flu sampai virus corona biang Covid-19.

Jenis virus ini kerap menyerang anak-anak di bawah lima tahun.

Untuk mengetahui penyakit ini dibutuhkan adanya pemeriksaan dokter untuk segera diobati.

Hal ini karena penyakit ini merupakan jenis penyakit yang bisa diobati.

Faktor risiko

Dikutip dari Kompas.com, puluhan ribu jiwa di Amerika Serikat meninggal akibat penyakit menular dan mematikan ini setiap tahunnya.

Umumnya, kasus terbanyak terjadi pada lansia, yang berusia di atas 65 tahun.

Kebiasaan merokok serta penyalahgunaan narkoba dan alkohol dapat meningkatkan risiko pneumonia.

Selain itu, paparan polutan, termasuk asap rokok bisa menyebabkan seseorang rentan terserang penyakit ini.

Namun, kondisi medis juga bisa memberikan tingkatan risiko yang sama berbahayanya.

Menurut lung.org, orang-orang dengan faktor kondisi medis berikut ini rentan terserang pneumonia:

1. Penyakit paru-paru kronis, seperti COPD, bronkiektasis, atau fibrosis kistik. Penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan penyakit sel sabit.

2. Lemahnya sistem kekebalan tubuh karena HIV/AIDS, transplantasi organ, kemoterapi atau penggunaan steroid jangka panjang.

3. Kesulitan menelan karena stroke, demensia, penyakit

4. Parkinson atau kondisi neurologis lain yang dapat mengakibatkan aspirasi makanan, muntah, atau air liur ke dalam paru-paru yang kemudian menjadi terinfeksi.

5. Infeksi pernapasan virus, seperti pilek, radang tenggorokan, influenza, dan lainnya. Rawat inap, terutama saat dalam perawatan intensif dan menggunakan ventilator.

Penanganan pneumonia

Sebagai bentuk penanganan pneumonia, disarankan agar diberikan vaksinasi sejak dini. Berikut merupakan daftar vaksin yang bisa mencegah pneumonia.

1. Prevnar 13 dan Pneumovax 23

Kedua vaksin ini dipercaya mampu membantu melindungi dari pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus.

Melansir dari Healthline, Prevnar 13 efektif melawan 13 jenis bakteri pneumokokus.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan vaksin ini untuk anak di bawah usia dua tahun, lansia berusia di atas 65 tahun, serta orang yang berusia di antara 2-64 tahun dengan kondisi kesehatan kronis.

Sementara Pneumovax 23 efektif melawan 23 jenis bakteri pneumokokus dan disarankan untuk orang di atas usia 65 tahun, orang berusia 19-64 tahun yang aktif merokok, serta orang yang berusia di antara 2-64 tahun dengan kondisi kesehatan kronis.

2. Vaksin flu

Biasanya, pneumonia seringkali dapat menjadi komplikasi flu. Oleh karena itu, pastikan Anda mendapatkan suntikan flu tahunan.

CDC menyarankan setiap orang yang berusia 6 bulan ke atas untuk mendapatkan vaksinasi, terutama mereka yang mungkin berisiko mengalami komplikasi flu.

3. Vaksin Hib

Vaksin ini melindungi terhadap Haemophilus influenzae tipe b (Hib), yaitu sejenis bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia dan meningitis.

Dalam hal ini, CDC merekomendasikan vaksin ini untuk:

1. Semua anak di bawah usia 5 tahun

2. Anak-anak yang lebih tua yang tidak divaksinasi atau orang dewasa yang memiliki kondisi kesehatan tertentu

3. Individu yang telah mendapatkan transplantasi sumsum tulang

Menurut Institut Kesehatan Nasional (NIH), vaksin pneumonia tidak akan mencegah semua kasus kondisi tersebut.

Hanya saja, melalui vaksinasi kondisi penyakit yang diderita akan lebih ringan dan pendek, serta risiko komplikasinya lebih rendah.

Selain divaksin, penanganan pneumonia ini bisa dicegah melalui perubahan pola gaya hidup, seperti berhenti merokok, rajin mencuci tangan, menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, istirahat cukup, makanan makanan sehat, serta berolahraga secara terartur. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )

Baca apa itu penyakit lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved