Bandar Lampung
Asa Nelayan Rajungan Lampung Timur, Bebas Alat Tangkap Berbahaya dan Miliki Zona Konservasi Perairan
Hasil laut Pesisir Lampung salah satunya rajungan menjadi tempat menggantungkan asa ribuan nelayan.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Hasil laut Pesisir Lampung salah satunya rajungan menjadi tempat menggantungkan asa ribuan nelayan.
Disokong 41 persen lebih dari 60.200 kilometer persegi luas wilayah Lampung yang merupakan perairan, menjadikan potensi sektor perikanan rajungan begitu tinggi.
Ada 4 ribu nelayan dan 2 ribu pekerja pemilah rajungan yang berperan di sektor perikanan rajungan dimana Lampung menjadi penyumbang 15 persen produksi rajungan nasional untuk komoditas ekspor.
Seiring potensialnya tangkapan rajungan di provinsi ini, ada sekitar 40 miniplant hingga 4 unit pengelolaan ikan (UPI) yang mengelola hasil tangkapan menjadi produk pasteurisasi.
Negara tujuan ekspornya antara lain Amerika Serikat, Thailand, Hongkong, Singapura, dan Australia.
Berdasarkan data Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), volume ekspor rajungan Lampung sepanjang Januari-Mei 2021 sebesar 576 kilogram dengan nilai Rp 173 miliar.
Di luar itu ada potensi perairan lainnya yang juga mendominasi seperti udang, cumi-cumi, produk ikan beku, hingga rumput laut kering yang total nilai ekspornya mencapai Rp 853 miliar.
Di balik potensi hasil rajungan yang kaya di laut timur Lampung, ternyata tidak sedikit masalah yang mengancam keberlangsungan ekosistem rajungan di laut lepas.
Dipicu dari masih adanya nelayan yang menggunakan alat tangkap berbahaya hingga eksploitasi rajungan secara masif.
Hal ini sudah sangat disadari oleh para nelayan yang semakin merasakan kesulitan untuk mendapatkan tangkapan rajungan.
Pun saat kondisi musim rajungan.
Ketua Forum Nelayan Rajungan Lampung Miswan mengatakan, nelayan bisa makmur dari rajungan terlebih saat harganya mencapai Rp 100 ribu perkilogram.
Biasanya harga itu bisa diperoleh saat kondisi tidak musim rajungan.
"Kalau lagi musim rajungan dan tangkapan banyak harganya memang turun bisa Rp 50 ribu per kilonya atau lebih murah dari itu. Tapi kalau tangkapannya banyak tetap bisa menyejahterakan nelayan dan kami juga tetap melakukan penangkapan terukur. Nggak semua rajungan diambil," tuturnya yang juga kerap melaut di Margasari, Labuhan Maringgai, Lampung Timur kepada Tribunlampung.co.id, Kamis (21/10/2021).
Namun masih adanya nelayan yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan dan eksploitasi hasil secara berlebihan dalam melakukan penangkapan rajungan, begitu mengkhawatirkan dan mempengaruhi hasil tangkapan dalam jangka panjang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/nelayan-rajungan-lampung-timur.jpg)