Apa Itu

Apa Itu La Nina, serta Kaitannya dengan El Nino

Dalam cuaca dan iklim, terdapat fenomena alam berupa La Nina. Lalu, apa itu la nina?

Tayang:
Penulis: Virginia Swastika | Editor: Kiki Novilia
Tribun Jabar/ Firman Wijaksana
Ilustrasi banjir bandang. Apa Itu La Nina 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Satu di antara fenomena alam adalah La Nina. Namun, apa itu la nina?

Nama La Nina diambil dari bahasa Spanyol yang berarti gadis kecil.

Dilansir dari National Geographic, La Nina adalah pola iklim yang menggambarkan pendinginan permukaan air laut.

Sementara dikutip dari Kompas.com, La Nina adalah peristiwa alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin.

La nina juga dikenal sebagai kebalikan dari fenomena alam berupa el nino, yang menjadi penyebab panas di Indonesia.

Baca juga: Apa Itu Internet dan Perbedaannya dengan Intranet

Tak hanya itu, peristiwa ini juga bisa menyebabkan meningkatnya curah hujan.

Istilah ini banyak disinggung saat membahas soal cuaca dan iklim pada suatu wilayah.

Sebab, La Nina menjadi bagian dari faktor penyebab musim hujan di Indonesia.

La nina disebabkan oleh penumpukan air yang lebih dingin dari biasanya di Pasifik tropis,

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam Kompas.com menjelaskan suhu muka laut di Samudera Pasifik akan mengalami pendinginan.

Baca juga: Apa Itu Peribahasa dalam Bahasa Indonesia

Akibatnya, pertumbuhan awan akan berkurang dan menyebabkan embusan angin menjadi lebih kuat dari biasanya.

Embusan angin tersebut juga akan menyebabkan massa air hangat berpindah menuju Pasifik Barat.

Perpindahan massa air tersebut membuat air dingin pada laut Pasifik naik dan menggantikan massa air hangat.

La nina dicirikan oleh tekanan udara yang lebih rendah dari normal di atas Pasifik barat.

Zona bertekanan rendah ini berkontribusi pada peningkatan curah hujan.

Hal tersebut yang kemudian menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.

Peristiwa ini biasanya berdampak positif pada industri perikanan di Amerika Selatan bagian barat

Selain itu, kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan musim hujan berlangsung lebih lama.

La nina dapat berlangsung antara satu dan tiga tahun, tidak seperti El Nio, yang biasanya berlangsung tidak lebih dari satu tahun

Dalam mengukur La Nina, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, di antaranya menggunakan:

1. Sea surface temperature (SST)

Dalam pengukuran ini, La Nina dapat dibedakan menjadi tiga:

a. La nina lemah.

b. La nina sedang.

c. La nina kuat.

2. Southern Oscilation Index (SOI)

Cara ini lebih menekankan perbedaan tekanan udara di daerah Pasifik Timur dengan Indo-Australia.

Dalam pengukurannya, SOI lebih lama jika dibandingan dengan metode sebelumnya.

Sebab, SOI ini diukur selama enam bulan. Sementara SST hanya tiga bulan.

Dampak La Nina

Fenomena La Nina diketahui mampu menyebabkan tingginya curah hujan di Indonesia.

Seberapa besar dampaknya tergantung dari kategori fenomena La Nina itu, apakah lemah, sedang, atau justru kuat.

Pada kondisi yang parah, dampak La Nina bisa menyebabkan beragam bencana alam, termasuk banjir bandang dan longsor.

Akan tetapi, fenomena La Nina tidak terjadi di semua bagian wilayah Indonesia.

Simak juga fenomena alam lainnya.

Satu di antara fenomena alam yang begitu indah adalah aurora.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aurora adalah gejala berupa cahaya di langit yang berbentuk berkas, pita, atau tirai, biasanya berwarna merah, hijau, dan ungu.

Dikenal sebagai fenomena alam yang indah membuat aurora sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang.

Sebab, aurora akan hadir dalam bentuk cahaya yang bergerak di langit yang gelap.

Umumnya, warna cahaya aurora didominasi dengan hijau pucat serta merah muda.

Akan tetapi, ada juga aurora yang menampilkan warna merah, kuning, hijau, biru, hingga ungu.

Kemunculannya itu pun akan terasa begitu magis, sehingga tak heran merupakan ketampakan alam yang ditunggu-tunggu sebagian besar orang.

Sebagian besar cahaya aurora diketahui berasal dari elektron yang mengenai atom dan molekul oksigen serta nitrogen di atmosfer.

Jangkauan cahaya aurora bisa terbentang sekitar 600 mil atau 965,6 km.

Variasi warna aurora terbentuk berkat tipe partikel yang bertabrakan.

Warna hijau yang mendominasi fenomena alam aurora diketahui merupakan hasil dari benturan partikel oksigen yang berada di ketinggian 96,5 km di atas permukaan bumi.

Sementara warna merah, terbentuk dari oksigen yang berada pada ketinggian 321 km di permukaan bumi.

Sedangkan untuk warna lain seperti biru atau ungu, hal tersebut diproduksi dari gas nitrogen.

Di bawah kondisi yang tepat, sebenarnya aurora bisa disaksikan kapan saja sepanjang tahun dari banyak tempat di seluruh dunia.

Hanya saja, biasanya fenomena ini muncul di dekat kutub serta beberapa wilayah seperti Alaska, Kanada, Skandivania, Siberia, dan Antartika.

Bumi bukanlah satu-satunya planet yang menyediakan kenampakan magis seperti aurora.

Sebab fenomena ini juga ada di dekat planet lain seperti Venus, Uranus, Jupiter, Saturnus, dan Neptunus.

Peneliti menemukan bahwa aurora terjadi secara berulang.

Cahaya yang paling terang biasanya akan terjadi setiap 11 tahun.

Periode puncak berikutnya dari fenomena ini diperkirakan terjadi pada Juli 2025.

Di bumi, keberadaan aurora tak bisa dijangkau oleh semua orang, termasuk Indonesia.

Sebab, Nusantara secara geografis terletak di garis lintang rendah.

Fenomena alam yang bermakna fajar dalam bahasa Latin ini pun diketahui hanya bisa diamati di kutub utara dan selatan.

Aurora di kutub utara disebut dengan Aurora borealis, sementara di selatan disebut Aurora australis.

Namun ternyata ada satu kejadian unik perihal aurora pada 1859.

Kala itu, aurora bisa diamati dari negara di posisi lintang rendah seperti Jepang dan Hawaii.

Peristiwa langka itu pun kemudian dikenal sebagai The Carrington Event.

Baca juga: Apa Itu Gagasan Utama

Itulah rangkuman tentang apa itu la nina. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )

Baca apa itu lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved