Kesehatan
Halo Dokter, Bagaimana Cara Mengobati Jerawat yang Meradang
Halo Dokter, bagaimana mengobati jerawat yang sudah meradang. Jerawat yang sudah meradang perlu adanya penanganan khusus, sebaiknya ke klinik kecantik
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Ternyata mengobati jerawat tidak dapat diatasi sendiri apalagi yang sudah meradang, lantas bagaimana mengobati jerawat yang sudah meradang.
Jerawat yang sudah meradang perlu adanya penanganan khusus, maka sebaiknya segera datang ke klinik kecantikan untuk mengatasinya.
Tujuannya untuk mengatasi peradangan sesegera mungkin demi menghindari keparahan.
Bisa dengan produk otc yang mengandung sulfur, asam salisilat, niacinamid, retinol konsentrasi rendah, benzoil peroksida.
"Jangan pernah mencoba mengatasi jerawat sendiri, seperti dipencet-pencet, dipegang, atau dicungkil, karena akan menyebabkan jerawat makin parah dan setelah jerawat sembuh akan timbul bopeng," ujar Owner MOOI Aesthetic Clinic dr Harry Putri Wulandari, Jumat (29/10/2021).
Baca juga: Halo Dokter, Cara Menghilangkan Stretch Mark pada Bagian Tubuh
Caranya dengan menghindari semua faktor pemicu jerawat, dan facial satu bulan sekali.
Jangan terlalu sering facial karena justru akan menyebabkan kulit kering, iritasi, dan akhirnya timbul jerawat.
Putri mengatakan, sumbatan pada folikel pilosebaseus (pori) oleh sel kulit mati dan produksi sebum (minyak) yang berlebih menyebabkan terbentuknya komedo.
Komedo yang tidak teratasi dengan baik dan bercampur dengan bakteri propionibacterium acne.
Akibatnya, komedo mengalami peradangan lalu timbul jerawat.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Jerawat
“Jerawat semakin berpotensi muncul apabila memiliki faktor pemicu jerawat yakni genetik dan hormonal,” jelasnya.
Dimana hormon androgen yang paling berperan, kemudian ada hormon stres, pramenstruasi, kehamilan, orang dengan kondisi hiperandrogenism (PCOS, tumor adrenal, tumor ovarium, dan lain-lain).
Faktor pemicu jerawat yang lain adalah acne exposome (kondisi lingkungan), nutrisi, makanan dengan indeks glicemic tinggi (junkfood, mie instant, cilok, seblak, minuman manis, thai tea, boba, kopi aren, latte, cake, dan lain-lain), dairy product atau produk olahan susu, dan suplemen whey protein yang mengandung leusin, dan psikologis atau gaya hidup.
Ada juga faktor pemicu jerawat lain yakni stres, emosi, gangguan tidur, cahaya gelombang dari smartphone, okupasi, kosmetik dan skincare yang tidak sesuai, polutan, medikasi (yang sedang menjalani terapi hormonal yang mengandung progestin androgenik, kortikosteroid, vitamin B12, isoniazid, beberapa obat antikanker, dan radioterapi), serta iklim (cuaca panas, lembab, dan intensitas radiasi ultraviolet tinggi).
Wujud jerawat yakni white head, black head, papule, pustule, nodule, dan cystic.
Di antara semua wujud jerawat tersebut, yang paling parah adalah cystic atau yang biasa disebut sebagai acne conglobata.
"Acne conglobata adalah jerawat yang merah, meradang, besar, bernanah, dan bergerombol. Cukup banyak orang yang mengalami acne conglobata," ujar Putri.
Apa Itu Jerawat
Penjelasan Apa Itu Jerwat
Melansir Kompas.com, Jerawat adalah kondisi kulit yang menyerang banyak area tubuh, seperti wajah, dada, punggung, dan lainnya.
Saat muncul, hal tersebut dapat menyebabkan bintik-bintik, kulit berminyak, hingga rasa sakit saat disentuh.
Tak jarang pula, kondisi ini dapat menyebabkan bekas luka serta tekanan emosional.
Mengutip Mayo Clinic, terdapat beberapa faktor utama yang bisa menjadi penyebab Jerawat.
Di antaranya, produksi minyak berlebih, folikel rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, bakteri, hingga peradangan.
Tambahan, ada juga beberapa kondisi tertentu yang dapat memperburuk Jerawat.
Seperti, perubahan hormonal, penggunaan obat-obatan tertentu, konsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat, hingga stres.
Biasanya, permasalahan kesehatan kulit ini banyak terjadi pada remaja yang masih mengalami masa pertumbuhan atau pubertas.
Dikutip dari riset ilmiah asal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tahun 2020, diperkirakan sebanyak 75% remaja di dunia memiliki masalah Jerawat.
Bahkan hampir 80 persen dari total penderita jerawat mengalami jenis akne vulgaris.
Akne vulgaris merupakan penyakit yang disebabkan karena peradangan folikel polisebasea kulit yang berperan memproduksi sebum.
Sementara itu di Indonesia, prevalensi penderita jerawat berkisar 80-85% pada remaja.
Umumnya, masalah kulit tersebut terjadi pada rentang usia 15-18 tahun.
Namun kemungkinan untuk terjadi pada orang dewasa juga tidak tertutup.
Disebutkan bahwa ada 12 persen kasus jerawat yang terjadi pada wanita usia di atas 25 tahun dan 3 persen lainnya terjadi pada usia 35-44 tahun.
Jenis jerawat
Dikutip dari Kompas.com, setidaknya terdapat 10 jenis jerawat, antara lain:
1. Whitehead
Tipe jerawat ini terjadi saat lapisan tipis kulit menutupi pori-pori dengan kulit mati atau kotoran.
Tertutupnya pori-pori kulit itu akan menciptakan gumpalan bulat putih pada kulit.
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan jerawat jenis ini.
Akan tetapi, paling umum disebabkan karena minyak, sel kulit mati, serta perubahan hormonal.
2. Blackhead
Jika whitehead adalah jerawat yang berwarna putih, blackhead atau yang juga disebut dengan komedo ini justru berwarna hitam.
Warna hitamnya tersebut disebabkan karena pori-pori tertutup lapisan kulit dan dibiarkan terbuka dan terkena udara.
3. Jerawat di zona T
Ini adalah jerawat yang umum terjadi di area dahi, hidung, dagu yang berada dalam formasi bentuk T.
Biasanya, jerawat ini muncul karena paparan polusi.
4. Jerawat hormonal
Jerawat jenis ini muncul karena adanya minyak berlebih yang dihasilkan hormon.
Penumpukan minyak tersebut akan menyebabkan pori-pori tersumbat dan menimbulkan jerawat.
5. Pustula
Pustula merupakan benjolan yang berisikan cairan atau nanah, hasil dari infeksi bakteri di pori-pori.
Tingkat keparahannya bervariasi, tergantung pada berapa banyak dan cepat jerawat tersebut terbentuk.
6. Papula
Kondisi ini biasa muncul dalam bentuk benjolan kecil berwarna merah.
Kemunculannya bisa berkelompok dan terasa menyakitkan.
7. Jerawat kistik
Disebutkan bahwa jerawat ini umum terjadi di bawah permukaan kulit dan terasa begitu menyakitkan.
Biasanya, jerawat ini disebabkan kareana adanya perubahan hormon.
8. Jerawat fulminans
Dokter kulit asal New York, Melissa Kanchanapoomi Levin mengatakan jenis jerawat ini ditandai oleh nodul dengan radang yang parah dan plak serta luka terbuka.
Umumnya banyak terjadi pada remaja laki-laki.
9. Nodul
Nodul merupakan bentuk jerawat yang butuh bantuan dokter untuk bisa mengatasinya.
Jerawat ini bisa bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan saat tak mendapatkan perawatan yang tepat/
Permasalahan kulit ini memiliki warna yang sama dengan kulit tetapi dapat berubah menjadi merah saat meradang.
10. Jerawat mechanica
Ahli dermatologi, Lily Talakoub mengatakan jerawat ini disebabkan karena panas dan gesekan.
Namun pengunaan perlengkapan olahraga atau pakaian basah, tekanan pada kulit dapat memunculkan jerawat tipe ini.
Gejala jerawat
Tanda atau gejala jerawat bisa bervariasi tergantung dengan jenis yang dialami serta tingkat keparahannya.
1. Whiteheads (pori-pori tersumbat tertutup)
2. Komedo (pori-pori tersumbat terbuka).
3. Benjolan kecil berwarna merah dan lunak (papula).
4. Pustula, berupa papula yang berisi nanah.
5. Benjolan besar, padat, nyeri, di bawah kulit (nodul).
6. Benjolan isi nanah di bawah kulit yang menyakitkan (lesi kistik).
Perawatan
Dalam perawatan jerawat, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sesuai dengan faktor tertentu, misalnya usia, jenis jerawat, serta tingkat keparahan.
Berikut ini beberapa cara mengobati jerawat yang dikutip dari Kompas.com:
1. Cuci area bermasalah dengan pembersih yang memiliki bahan lembut.
2. Hindari produk tertentu yang menyebabkan iritasi.
3. Menggunakan obat jerawat yang mengandung benzoil peroksida.
4. Menggunakan krim.
5. Hindari kosmetik berminyak, sunscreen, concealer yang bisa memperburuk kondisi jerawat.
6. Hindari gesekan atau tekanan pada kulit.
7. Hindari menyentuh area rawan jerawat.
8. Mandi setelah aktivitas berat.
Ada juga beberapa perawatan medis yang bisa dicoba dalam mengobati jerawat, seperti obat topikal, obat oral, serta terapi.
Beberapa contoh obat topikal untuk jerawat adalah retinoid, antibiotik, asam azelaic, asam salisilat, dapson.
Sementara untuk obat oral, di antaranya antibiotik, kontrasepsi oral kombinasi, agen anti-androgen, juga isotertinoin.
Untuk terapi jerawat, hal tersebut dapat dilakukan melalui terapi cahaya, drainase dan ekstrasi, serta injeksi steroid.
Pencegahan
Agar tidak memunculkan atau memperburuk kondisi jerawat, Cleveland Clinic menyarankan beberapa hal:
1. Cuci wajah setiap hari dengan air hangat dan pembersih wajah berbahan ringan.
2. Rutin menggunakan pelembab.
3. Bagi yang hobi dandan, disarankan menggunakan produk nonkomedogenik dan hapus riasan di penghujung hari.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Kurap dan Cara Pencegahannya
4. Menjauhkan tangan dari wajah untuk mencegah terjadinya jerawat pada kulit. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika / Jelita Dini Kinanti )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/penyebab-jerawat_20181106_104300.jpg)