Kesehatan

Halo Dokter, Resiko Diabetes Melitus Pada Anak

Halo Dokter, diabetes melitus ternyata bisa menyerang anak pada usia muda. Lantas seperti apa resiko anak-anak yang terserang diabetes melitus.

Editor: Hanif Mustafa
Pixabay
Halo Dokter, resiko diabetes melitus yang ternyata bisa menyerang anak pada usia muda. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Tahukah anda diabetes melitus ternyata bisa menyerang anak pada usia muda.

Penyakit diabetes melitus atau yang familiar disebut kencing manis ini tak hanya menyerang orang dewasa.

Lantas seperti apa resiko anak-anak yang terserang diabetes melitus.

dr Ismi Citra Ismail, Sp.A (K) dari RSUD Dr H Abdul Moeloek mengatakan diabetes melitus atau yang sering disebut orang sebagai kencing manis adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan atau kerusakan pada pankreas, yang dipicu oleh banyak faktor.

Namun yang paling sering adalah autoimun.

Baca juga: Halo Dokter, Bagaimana Metode Pengobatan Radang Usus

Kerusakan pankreas ini mengakibatkan tidak memiliki insulin untuk mengubah glukosa jadi tenaga.

Diabetes melitus yang tidak memiliki insulin adalah diabetes melitus tipe 1, yang merupakan diabetes melitus yang paling sering dialami anak-anak usia mulai dari usia enam bulan.

Sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2, masih memiliki insulin tapi kondisinya kurang bagus, yang mirip seperti diabetes melitus pada orang dewasa.

Umumnya yang mengalami diabetes melitus tipe 2 adalah anak-anak yang obesitas.

Selain itu ada juga diabetes melitus tipe 3. Tapi diabetes melitus tipe 3 jarang sekali terjadi.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Radang Usus

Gejala anak mengalami diabetes melitus adalah banyak minum, banyak buang air kecil, dan banyak makan seperti orang yang kelaparan.

Namun walaupun banyak makan, anak-anak berat badannya menurun.

"Biasanya karena berat badan anak yang menurun, yang membuat orangtua membawa anaknya ke dokter, dan setelah diperiksa tidak tahunya anak mengalami diabetes melitus," kata dokter yang juga praktek di Rumah Sakit Hermina Lampung itu.

Tapi, lanjut dr Ismi, ada juga orangtua yang membawa anaknya ke dokter karena pandangan anaknya tiba-tiba buram dan kaki kesemutan.

Ini disebabkan oleh diabetes melitus tipe 2 dan sudah kronik.

Ada juga diabetes melitus kronik yang menyebabkan anak mengalami gangguan ginjal.

Selain kronik, ada juga diabetes melitus akut yang menyebabkan gula darah sangat tinggi yang disertai kerusakan organ lain.

Diabetes melitus akut ini yang sering menyebabkan anak meninggal dunia. 

Itu sebabnya diabetes melitus tidak bisa dibiarkan.

Harus segera datang ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Menurut dr Ismi, penanganan diabetes melitus tipe 1 hanya suntik insulin.

Harus diketahui, insulin bukan obat melainkan hormon yang diperlukan oleh tubuh. 

Sedangkan untuk diabtes melitus tipe 2, terkadang tidak butuh suntik insulin.

Tapi butuh obat untuk memperbaiki kerja insulinnya.

Selain itu juga harus diet dan olahraga.

Berbicara mengenai suntik insulin, dr Ismi mengatakan, suntik insulin harus dilakukan tujuh kali sehari seumur hidup.

Sebab hingga saat ini belum ada obat yang bisa memperbaiki kerusakan pankreas. 

Dosis suntik insulinnya disesuaikan dengan jumlah makanan yang dimakan anak.

Oleh sebab itu orangtua harus bisa mengontrol makanan anaknya.

Makanan itu bebas apa saja, kecuali gula.

Selain itu orangtua juga harus mengajari anaknya untuk diet jika anaknya diabetes melitus tipe 2, dan juga harus mengajari anaknya untuk olahraga.

Satu hal lagi orangtua jangan bosan mencari ilmu tentang diabetes melitus, dan harus mengedukasi keluarganya tentang diabtes, karena anak dan orangtua butuh dukungan keluarga.

"Orangtua harus tau, kalau anak yang mengalami diabtes melitus, bisa tumbuh dan berkembang, bahkan bisa sukses seperti anak yang lainnya," kata dr Ismi.

Karies Gigi

Rupanya penyakit diabetes melitus juga bisa menjadi faktor perusak gigi.

Namun hal tersebut jarang diperhatikan, orang tua lebih khawatir meluhat anak mengalami karies gigi

Hal ini disebabkan makanan manis yang disukai oleh anak-anak.

Lantas bagaimana cara mencegah karies gigi pada anak? Berikut penjelasannya.

Seperti yang dijelaskan Owner Happydenta drg Aprilia Denta, karies gigi adalah rusaknya lapisan email gigi akibat hilangnya komposisi mineral atau demineralisasi.

Ciri-ciri karies gigi adalah ada makanan tersangkut di gigi, rasa tidak nyaman pada gigi, bau mulut, dan gigi terasa linu. Selain itu gigi yang normalnya berwana putih gading menjadi berwarna cokelat, kuning mendekati cokelat, dan menghitam.

Penyebab karies gigi pada anak-anak paling sering adalah karena sering minum susu pakai dot sebelum tidur dan dotnya tidak dilepas hingga bangun pagi harinya.

Sedangkan penyebab karies gigi pada orang dewasa paling sering adalah sering mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula atau yang manis, tidak rajin menyikat gigi, dan cara menyikat gigi tidak benar.

Jika sudah mengalami karies gigi sebaiknya datang langsung ke dokter gigi untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Sebab jika karies dibiarkan lama kelamaan akan menjadi lubang gigi. 

Dokter gigi akan memberikan penanganan sesuai dengan kondisi kariesnya.

Kalau kariesnya belum parah, dokter akan menanganinya dengan cara memberikan mineral.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Penuaan Dini

Tapi kalau kariesnya sudah parah dan sudah menjurus ke lubang gigi, dokter akan melakukan penambalan.

Namun daripada ditangani, lebih baik dicegah karies giginya.

Caranya dengan rajin menyikat gigi setiap hari. Terutama saat selesai sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Cara menyikat gigi juga harus benar yakni dengan cara diputar. 

Kemudian setiap habis makan atau minum yang dingin, tidak perlu langsung menyikat gigi. Tapi segera berkumur dengan air dingin atau air hangat.

Untuk anak-anak kalau giginya masih satu atau dua dan belum MPASI, orangtua bisa membantu menyikat gigi anak.

Caranya orang tua menggulung tangan dengan kasa steril, lalu mencelupkannya kedalam air hangat, kemudian sikat gigi anak. 

"Kalau anaknya sudah MPASI bisa menggunakan odol. Saat ini sudah banyak odol yang aman untuk anak-anak yang dijual di pasaran. Kalau anak sudah di atas usia 2 tahun bisa diajari berkumur," ujar drg Aprilia.

Gigi Sensitif

Simak berikut ini permasalahan gigi yang kerap dialami setiap orang yakni gigi sensitif.

Tentu gigi sensitif membuat tidak nyaman, karena gigi akan terasa ngilu saat makan makanan manis atau dingin.

Owner Happy Denta drg Aprilia Denta mengatakan, penyebab gigi sensitif karena lubang kecil yang terdapat pada gigi.

Kalau lubangnya besar yang terjadi bukannya gigi sensitif, tapi giginya terasa sakit.

Penyebab lain adalah karena terjadinya penurunan gusi yang mengakibatkan email gigi terkikis dan akar gigi keluar.

Penurunan gusi ini paling sering terjadi pada orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas.

Tapi ada juga orang-orang yang masih berusia di bawah 40 tahun sudah mengalami penurunan gusi karena sikat giginya lurus dan ditekan.

Padahal seharusnya sikat gigi yang benar diputar.

Selain itu, gigi sensitif juga bisa disebabkan oleh gingivitis gravidarum yang biasanya terjadi pada ibu hamil karena faktor hormonal, walaupun gigi ibu hamil itu sehat dan tidak ada plak.

Satu lagi penyebab gigi sensitif adalah kebiasaan menggretak gigi, yang bisa membuat email gigi terkikis.

Menggeretak gigi biasanya dilakukan orang secara tidak sadar pada saat tidur.

Saat mengalami gigi sensitif, yang harus dilakukan adalah mengganti pasta gigi khusus untuk gigi sensitif.

Jika setelah menggunakan pasta gigi ini ternyata gigi masih sensitif, segera ke dokter gigi.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Hollywood Peel dan Apa Fungsinya untuk Kulit

"Tujuannya ke dokter gigi untuk melihat apa yang menjadi penyebab gigi sensitif, sehingga penyebab itu bisa segera diatasi. Misal penyebabnya adalah gigi berlubang, maka gigi berlubangnya harus ditambal," kata drg Aprilia, Minggu (3/10/2021). ( Tribunlampung.co.id / Jelita Dini Kinanti )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved