Kesehatan

Halo Dokter, Apa Itu Tetanus

Sebagai penyakit berbahaya, tetanus bila tidak ditangani segera mungkin dapat menyebabkan kematian. Namun, apa itu tetanus?

Tayang:
Penulis: Virginia Swastika | Editor: Kiki Novilia
Pixabay/Alexandr Litovchenko
Ilustrasi sakit. Halo Dokter, Apa Itu Tetanus 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Satu di antara penyakit yang menyerang manusia adalah tetanus. Namun, apa itu tetanus?

Melansir dari Healthline, tetanus adalah infeksi bakteri serius yang menyerang sistem saraf.

Infeksi tersebut kemudian akan mengakibatkan otot menegang.

Kontraksi otot tersebut terasa menyakitkan, khususnya bagian otot rahang dan leher, lalu menyebar ke area lain.

Bahkan penyakit ini juga dapat menyerang sistem pernapasan dan mengancam jiwa apabila tidak ada pengobatan.

Baca juga: Halo Dokter, Cara Bedakan Gejala Gastritis dengan Sakit Perut Biasa

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), 10-20 persen infeksi tetanus berakibat fatal.

Oleh karena itu, tetanus termasuk dalam keadaan darurat medis yang membutuhkan pengobatan medis sesegera mungkin.

Penyakit ini banyak terjadi di negara dengan ekonomi menengah ke bawah yang memiliki cakupan imunisasi yang rendah serta praktik bersalin yang tidak bersih.

WHO melaporkan pada 2018 sebanyak 25 ribu bayi yang baru lahir meninggal dunia karena neonatal tetanus.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebutkan pada 2016 lalu bahwa Indonesia telah sepenuhnya bebas dari tetanus.

Baca juga: Halo Dokter, Cara Deteksi Gejala Malaria

Penyebab

Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, yang banyak ditemukan di tanah, debu, dan kotoran binatang.

Bahkan, gigitan serangga juga dapat menyebabkan infeksi tetanus.

Bakteri itu masuk melalui luka terbuka pada kulit.

Saat sudah berhasil masuk, bakteri akan mengeluarkan racun untuk menyerang sistem saraf.

Racun itu yang kemudian menyebabkan otot menegang dan kejang-kejang.

Tetanus tidak dapat ditularkan antarmanusia.

Umumnya, orang yang mengalami masalah kesehatan ini disebabkan karena belum pernah mendapatkan vaksin tetanus sebelumnya.

Jenis

Ada beberapa jenis tetanus, di antaranya:

1. Tetanus umum, yakni yang paling sering terjadi.

2. Tetanus lokal, yang cukup jarang terjadi.

Umumnya penyakit akan ditandai dengan kejang otot pada luka.

3. Tetanus sefalik, yang cukup langka dan terjadi akibat luka di kepala.

Hal tersebut dapat menyebabkan melemahnya otot-otot di wajah dan kejang otot rahang.

Bahkan jenis tetanus ini bisa berkembang ke tetanus umum.

4. Tetanus neotal, merupakan bagian dari tetanus umum yang disebabkan kurangnya kebersihan proses persalinan.

Gejala

Sebagai penyakit berbahaya, gejala tetanus baru akan muncul dalam waktu 4-21 hari dari infeksi awal.

Dilansir dari Mayo Clinic, masa inkubasinya berkisar dari 3-21 hari.

Tanda atau gejala tetanus umumnya meliputi:

1. Demam.

2. Pusing.

3. Muncul keringat berlebihan.

4. Jantung berdebar.

Sementara untuk gejala khususnya akan muncul beberapa hal di bawah ini:

1. Tegang dan kaku pada otot rahang, perut, dan leher.

2. Sulit menelan.

3. Sulit bernapas.

Komplikasi

Dikutip dari Kompas.com, saat racun telah mencapai ujung saraf dapat menyulitkan pengobatan.

Terlebih, pemulihan total dari infeksi penyakit ini membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Saat tak tertangani dengan baik, tetanus dapat menyebabkan komplikasi seperti:

1. Patah tulang.

2. Penyumbatan arteri paru-paru.

3. Kematian.

Pencegahan

Hingga saat ini, para ahli medis masih belum menemukan obat penangkal tetanus.

Akan tetapi, penyakit ini dapat dicegah melalui vaksin.

Adapun pencegahan tetanus melalui vaksin DTap (difteri, toksoid tetanus, dan aselular pertusis) umumnya diberikan ketika anak-anak.

Vaksin tersebut terdiri dari serangkaian suntikan di bagian lengan atau paha pada anak usia 2-18 bulan, serta 4-6 tahun.

Baca juga: Halo Dokter, Cara Mendeteksi Gejala Disentri Amoeba

Namun vaksinasi tetanus itu perlu dilakukan kembali setiap 10 tahun sekali agar tubuh memiliki perlindungan yang lebih kuat. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )

Baca kesehatan lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved