Breaking News:

Lampung Selatan

Lampung Selatan Belum Maksimal dalam Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Anak

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Lampung Amelia menilai Lampung Selatan belum maksimal dalam penanganan terhadap kasus kekerasan pada anak.

Tribunlampung.co.id/Domi Desmantri Barus
Wakil Ketua LPA Lampung Amelia Nanda Sari. Lampung Selatan belum maksimal dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG SELATAN - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Lampung Amelia Nanda Sari, desak aparat penegak hukum untuk memberikan atensi khusus terhadap kekerasan pada anak, khususnya terhadap anak dibawah umur.

Amel menilai aparat penegak hukum harus bisa lebih ekstra fokus bahkan special atention terhadap kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur.

"Saya nilai Lampung Selatan belum maksimal dalam penanganan terhadap kasus kekerasan pada anak. Padahal dari data yang kami terima, kekerasan pada anak dan perempuan di Lampung Selatan cukup tinggi. Sebanyak 46 kasus di tahun lalu," kata Amel, Sabtu (15/1/2022).

"Padahal Lampung Selatan pernah mendapat penghargaan kabupaten layak anak (KLA)," jelasnya.

Amel berharap agar aparat penegak hukum bisa bekerjasama dengan baik supaya lebih konsen dalam menangani kasus kekerasan seksual yang melibatkan korban anak di bawah umur.

"Saya juga minta teman-teman LBH untuk bareng-bareng membantu memfasilitasi korban-korban kekerasan dan tindak asusila pada anak di bawah umur. Karena seperti sekarang ini, kasus yang kita lihat korbanya anak di bawah umur pelakunya bapak tirinya sendiri," tegasnya.

"Saya masih tak habis pikir, adanya paradigma yang selalu ditemukan di lapangan yakni pihak korban lebih memilih untuk tidak melapor. Karena adat norma di Lampung Selatan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang masih tabu. Terutama urusan lapor melapor tentang kasus pelecehan seksual," terangnya.

Amel mengatakan apalagi dalam kasus ini, pelakunya adalah orang terdekat dari si korban yakni bapak tiri yang semestinya turut serta melindungi dan mengawal perkembangan anak bukan malah merusak masa depannya.

"Menurut saya takaran adil untuk perkara anak di bawah umur tak ada kata adil. Hukuman pidana kurungan 10 tahun atau 15 tahun terhadap pelaku predator seksual anak itu tidak akan pernah ada kata setimpal selain kebiri kimia," jelasnya.

Amel menambahkan jika menilik dari kasus kekerasan seksual khususnya korbannya adalah anak yang masih di bawah umur, maka selain vonis hukuman kebiri bisa dipastikan tidak akan memberikan efek jera terhadap pelaku.

Baca juga: Diajak Jalan-jalan, Siswi di Lampung Selatan Jadi Korban Asusila 2 Pria

"Yang harus kita pikirkan saat ini adalah kerugian mental si anak. Masa depan si anak. Traumatik yang dialami si anak," ujarnya.

"Secepatnya kami LPA Provinsi Lampung akan menyurati dan langsung menginstruksikan kepada Ketua LPA Kabupaten Lampung Selatan untuk bisa langsung cepat tanggap responsif terhadap kasus-kasus kekerasan dan tindak asusila pada anak dibawah umur," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/ Dominius Desmantri Barus)

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved