Ramadan 2022
Bacaan Niat dan Tata Cara Salat Tarawih Ramadan 2022
Bacaan niat dan tata cara salat tarawih bulan suci Ramadan 2022. Salat tarawih bisa dikerjakan di rumah atau masjid.
Penulis: Virginia Swastika | Editor: taryono
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Memasuki bulan suci Ramadan 2022, kegiatan yang tak pernah dilewatkan kaum muslimin adalah salat tarawih.
Meski masih dalam kondisi pandemi, hal tersebut tak menyurutkan semangat masyarakat untuk mengerjakannya.
Apalagi ibadah ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki keutamaan yang baik walaupun hukumnya sunnah.
Sama seperti ibadah salat lainnya, terdapat bacaan niat yang perlu diamalkan terlebih dulu sebelum melaksanakan salat tarawih.
Dilansir dari Tribunnews (13/4/2021), berikut beberapa bacaan niat salat tarawih.
Baca juga: Doa Setelah Salat Tarawih dan Salat Witir, Termasuk Doa Kamilin
1. Niat salat tarawih sebagai imam
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَ
Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”
2. Niat salat tarawih sebagai makmum
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”
3. Niat salat tarawih secara infirad atau sendiri
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT.”
Tata cara salat tarawih
Sementara untuk tata cara salat tarawih, berikut panduannya.
1. Mengucapkan niat shalat Tarawih sesuai posisinya sebagai imam atau makmum
2. Niat di dalam hati
3. Ketika takbiratul ihram mengucap takbir
4. Saat takbiratul ihram membaca Surat Al-Fatihah
Baca juga: Doa yang Dianjurkan setelah Salat Tarawih dan Salat Witir
5. Kemudian membaca salah satu surat dalam Al-Qur'an
6. Rukuk
7. I’tidaal
8. Sujud pertama
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua
12. Bangkit dari duduk
13. Mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama
14. Salam pada rakaat kedua (Jika mengikut kepada yang dua rakaat-dua rakaat), lanjut sampat rakaat keempat baru salam (Jika mengikut kepada pendapat yang empat rakaat-empat rakaat).
Asal Usul
Asal muasal salat Tarawih dimulai ketika Nabi Muhammad Saw. mengerjakan salat sunnah pada malam bulan Ramadan.
Salat tarawih ini dikerjakan oleh Nabi pada tanggal 23 Ramadan tahun kedua hijriah.
Pada masa itu Nabi Muhammad Saw. tidak mengerjakan salat Tarawih di masjid secara terus-menerus.
Kadang Rasulullah mengerjakannya di masjid, kadang juga mengerjakannya di rumah.
Hal tersebut tertuang dalam hadis berikut riwayat Bukhari Muslim berikut:
“Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin ra: sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam pada suatu malam hari salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau, beliau salat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke-3 dan ke-4 orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi.
Ketika pagi-pagi, Nabi bersabda: “sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali kalau salat ini diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw memang pernah melaksanakan salat Tarawih, pada malam hari yang kedua beliau datang lagi mengerjakan salat dan pengikutnya tambah banyak.
Pada malam yang ketiga dan keempat Nabi tidak datang ke masjid, dengan alasan bahwa beliau takut salat tarawih itu akan diwajibkan bagi umat Muslim.
Hal ini sebagaimana keterangan dibawah ini:
“Sesungguhnya Nabi ketika menekuni sesuatu dari amal kebaikan dan diikuti ummatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas ummatnya”.
Langkah bijaksana tersebut adalah bukti rasa sayang Nabi Muhammad Saw kepada umatnya.
Dari hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan:
- Nabi melaksanakan Salat tarawih berjamaah di Masjid hanya dua malam.
- Nabi tidak hadir melaksanakan salat Tarawih bersama-sama di masjid karena takut atau khawatir Salat tarawih akan diwajibkan kepada ummatnya.
- Salat Tarawih hukumnya adalah sunnah, karena sangat digemari oleh rasulullah dan beliau mengajak orang-orang untuk mengerjakannya.
- Dalam hadis di atas tidak ada penyebutan bilangan rakaat dan ketentuan rakaat salat Tarawih secara rinci.
Rakaat Salat Tarawih
Dalam pelaksanaannya, salat Tarawih dikenal dengan dua cara pengerjaan yang berbeda jika dilihat dari jumlah rakaatnya.
Terdapat dua pendapat umum tentang jumlah rakaat dalam salat Tarawih.
Pertama, salat Tarawih dikerjakan dengan 8 rakaat dan ditambah dengan witir 3 rakaat.
Dengan demikian secara total salat malam yang dikerjakan adalah 11 rakaat.
Kedua, salat Tarawih dikerjakan dengan 20 rakaat dan ditambah dengan witir 3 rakaat.
Sehingga, secara total jumlah rakaat salat Tarawih adalah 23 rakaat.
Kedua pendapat tersebut sama-sama memiliki dalil.
Dalil Salat Tarawih 8 Rakaat
Dalil salat tarawih dikerjakan dengan 8 rakaaat adalah hadis Nabi Muhammad Saw. diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari Aisyah r.a. sebagai berikut.
“Dari Aisyah, istri Nabi Saw., (diriwayatkan bahwa) ia berkata, "Pernah Rasulullah melakukan salat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau salat witir satu rakaat.”
(Hadis Riwayat Muslim)
Dalam "Dasar Salat Tarawih Empat Rakaat Satu Kali Salam" di situs web resmi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, terdapat pula riwayat lain dari Abī Salamah Ibn ‘Abd ar-Raḥmān, bahwa ia bertanya kepada ‘Ā’isyah mengenai salat Rasulullah di bulan Ramadhan.
"Aisyah menjawab, "Nabi tidak pernah melakukan salat sunah di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat.”
(Hadis Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
Dalil Salat Tarawih 20 Rakaat
Sementara dikutip dari Buku Saku Sukses Ibadah Ramadhan (2017:28), beberapa tabiin meriwayatkan pengerjaan salat tarawih dengan jumlah 20 rakaat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Pertama, "Said bin Yazid, yang menyampaikan, "Umar [bin Khattab] mengumpulkan umat Islam di bulan Ramadhan dengan Imam Ubay bin Ka’b dan Tamim al-Dari, dengan 21 rakaat [dalam riwayat lain 23 rakaat]. Mereka membaca ayat-ayat ratusan. Baru selesai ketika menjelang Subuh.”
(Riwayat al-Baihaqi dalam al-Sunan 2/496, Abdurrazzaq dalam alMushannaf 4/260)
Selain itu, "Yazid bin Rauman menyebutkan, "Umat Islam di masa Umar beribadah di malam bulan Ramadan dengan 23 rakaat.”"
(al-Muwatha’ Malik, 1/115).
Sedangkan, "Yahya bin Said al-Qathan menyatakan, "Umar memerintahkan seseorang menjadi imam salat Tarawih dengan umat Islam sebanyak 20 rakaat.”
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/163).
Imam al-Tirmidzi sendiri pernah berkata, "Mayoritas ulama mengikuti riwayat Umar, Ali dan sahabat Rasulullah yang lainnya sebanyak 20 rakaat.
Ini adalah pendapat al-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dan al-Syafii.
Al-Syafii berkata: Seperti ini yang saya jumpai di Negeri kami Makkah. Umat Islam salat 20 rakaat.”
(Sunan al-Tirmidzi 3/169). (4)
( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/pemkab-lampung-utara-tiadakan-salat-idul-fitri-di-halaman-kantor.jpg)