Berita Terkini Nasional
Suara Anak Bangsa Hadapi Kegalauan Ekonomi Akibat Sindrom FOMO dan YOLO
48 persen Suara Anak Bangsa menghadapi kesulitan ekonomi akibat jeratan sindrom FOMO dan YOLO di tengah cepatnya arus informasi platform media digital
Tribunlampung.co.id – 48 persen Suara Anak Bangsa menghadapi kesulitan ekonomi akibat jeratan sindrom Fear of Missing Out (FOMO) dan You Only Live Once (YOLO) di tengah cepatnya arus informasi platform media digital.
Hal ini sebagaimana dari hasil survei Aspirasi Anak Muda Indonesia oleh Tim Research and Analytics KG Media bekerja sama dengan Litbang Kompas yang diterima, Rabu (21/4/2022).
Sementara anak muda yang lebih galau dengan kesulitan non-ekonomi sebesar 39 persen dan 8 persen anak muda yang beruntung merasa tidak menemui kesulitan apa pun dalam hidup.
Dari 48 persen Suara Gen Z dan Generasi Milineal yang mengalami kegalauan ekonomi tersebut, ada dua hal kesulitan hidup yang mendasar yakni finansial dan mendapat pekerjaan.
Adapun bentuk kesulitan finansial yang dihadapi oleh anak muda antara lain pendapatan yang tidak menentu, penghasilan menurun, besaran gaji yang kurang, pemborosan, dan kehabisan uang jajan.
Baca juga: Sosiolog Unila: Pendidikan Jadi Benteng tidak Terjebak FOMO dan YOLO
Baca juga: Generasi Muda di Lampung Terjerat FOMO, Rela Ngutang Demi Tampil Keren
Setidaknya Tim Research and Analytics KG Media melihat ada empat penyebab kesulitan tersebut, yaitu sindrom Fear of Missing Out , fenomena You Only Live Once, rendahnya literasi keuangan, dan menurunnya pendapatan karena pandemi.
Keterbukaan dan kecepatan arus informasi melalui berbagai platform media digital membuat sebagian anak muda terjerat sindrom Fear of Missing Out (FOMO), atau khawatir tertinggal sesuatu.
Bukan hanya tertinggal informasi, tetapi juga tren terbaru tentang apa yang dilakukan dan dimiliki orang lain.
FOMO ditandai dengan keinginan untuk selalu merasa menang dan tidak tertinggal dari orang lain.
Ketertinggalan dari orang lain akan membuat orang-orang dengan sindrom ini mengalami kecemasan.
Melansir artikel Kompas.com berjudul “Hidup Tenang Terbebas dari Sindrom FOMO”, FOMO bisa membuat seseorang merasa kesepian, memiliki self-esteem rendah, dan kurang mengasihi diri sendiri.
Orang-orang dengan sindrom ini rela menghabiskan uangnya, bahkan nekat berutang, untuk hal-hal yang cenderung tidak penting demi tetap up to date.
Baca juga: Anak Muda Kerap Dijangkiti Sindrom FOMO dan YOLO
Jadi, FOMO bukan hanya merugikan kesehatan mental, tetapi juga berdampak buruk pada kondisi finansial anak muda.
Beralih ke penyebab berikutnya, fenomena You Only Live Once (YOLO).
YOLO merupakan gaya menikmati hidup yang berfokus pada apa yang dialami hari ini tanpa memikirkan risiko atau kemungkinan di masa depan.
Anak muda yang mengikuti fenomena ini sering sekali menghabiskan
uangnya sekaligus untuk menikmati hidup tanpa menyisihkannya untuk ditabung.
YOLO memiliki prinsip “bagaimana nanti”, bukan “nanti harus bagaimana”.
Penyebab terakhir kesulitan finansial generasi kami adalah menurunnya pendapatan karena pandemi Covid-19.
Seperti diketahui, pagebluk tidak hanya menjadi bencana non-alam global yang mengguncang sektor kesehatan.
Sektor perekonomian masyarakat pun terpukul hebat.
Berdasarkan hasil survei LIPI bersama Badan Litbang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD UI) pada 2020, hanya 45 persen pekerja yang pendapatannya tetap selama pandemi Covid-19.
Sementara itu, 15 persen pekerja tidak punya pendapatan karena PHK.
Lalu ada 40 persen pekerja yang mengalami penurunan pendapatan, sebanyak 7 persen di antaranya mengalami penurunan pendapatan hingga 50 persen.
Paralel dengan kesulitan hidup, masalah finansial dan mendapat pekerjaan juga menjadi ketakutan dominan bagi generasi kami di seluruh wilayah dalam 5-10 tahun mendatang.
Persepsi ketakutan terhadap keduanya lebih tinggi dibandingkan masalah lain, termasuk yang terkait variabel non-ekonomi.
Namun, jika melihat persentase secara keseluruhan, berbagai topik yang terkait variabel non-ekonomi justru mendominasi ketakutan di masa depan bagi generasi muda.
Perbandingannya, variabel ekonomi 20 persen dan non-ekonomi 49 persen.
Di samping itu, ada 9 persen anak muda yang mengaku tidak atau belum memiliki ketakutan mengenai masa depannya.
Berbeda dengan ketakutan di masa depan terkait variabel ekonomi yang cenderung homogen di seluruh penjuru tanah air, ketakutan terkait variabel non-ekonomi yang dominan di berbagai wilayah justru cukup beragam. (*)
Untuk memperoleh hasil survei “Aspirasi Anak Muda Indonesia” yang lebih lengkap dalam format PDF, kunjungi https://kitabangkit.id/sabi/
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/suara-anak-bangsa-menghadapi-kesulitan-ekonomi-akibat-jeratan-sindrom-fomo-dan-yolo.jpg)