Berita Lampung

Akademi Unila: Air yang Tercemar Limbah TPA Bakung Tidak Boleh Dikonsumsi

Masyarakat Keteguhan diminta untuk tidak mengkonsumsi air yang sudah tercemar limbah TPA Bakung.

Penulis: kiki adipratama | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Kondisi air pada  aliran drainase di pemukiman warga Keteguhan, Telukbetung Timur Bandar Lampung berwarna hitam pekat, Rabu (29/6/2022). Akademisi Unila: Air yang tercemar limbah TPA Bakung tidak boleh dikonsumsi. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Akademisi Unila dari Fakultas Teknik Ofik Taufik Purwadi ikut menyoroti persoalan limbah hitam dari TPA Bakung yang sampai  Keteguhan Bandar Lampung

Menurutnya, limbah sangat berdampak buruk bagi kehidupannya masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.

Salah satu dampak dari limbah yakni masalah kesehatan.

"Limbah itu tidak bisa dikonsumsi. Jika air sumur tercemar limbah juga tidak bisa dikonsumsi. Jika dikonsumsi berbahaya untuk kesehatan," kata Ofik kepada Tribunlampung.co.id, Kamis (30/6/2022).

Dia menjelaskan ada parameter kualitas air yang baik untuk dikonsumsi.

Baca juga: Hitungan Detik Maling Bawa Kabur Motor di Halaman Rumah di Bandar Lampung

Baca juga: Budiman AS Soroti Limbah Sampah TPA Bakung yang Cemari Lingkungan Warga Keteguhan Bandar Lampung

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum pasal I menyebutkan air minum adalah air yang melalui proses atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

"Jadi kalo dia harus diolah dulu itu adalah air baku. Kalo air limbah maka itu bukan air yang bisa diminum karena tidak bisa memenuhi persyaratan," kata dia.

Terkait ikhwal tersebut, dia menuturkan masyarakat Keteguhan diminta untuk tidak mengkonsumsi air yang sudah tercemar limbah.

"Kalo sudah tercemar air limbah ini gak bisa dipake atau harus ditreatemen lagi. Karena limbah air itu akan meresap melalui pori-pori tanah," ujarnya.

Untuk itu, dia meminta pemerintah kota Bandar Lampung untuk segera memperbaiki tata kelola limbah sampah TPA Bakung.

Sebab, menurut dia warga saja jika limbah saat ini semakin meluas.

Karena antara volume TPA Bakung dengan kolam limbah tidak sesuai.

"Volume TPA Bakung 14,2 hektare, sementara kolam Lindi nya itu 60 meter persegi maka gak kuat nampung," ungkapnya.

"Maka harus ada perbaikan disini. Harus ada tata kelola terhadap kolam dan drainase itu," tandasnya.

Limbah Hitam Pekat dari TPA Bakung Serang Warga Keteguhan Bandar Lampung

Sebelumnya diberitakan, warga Keteguhan Telukbetung Timur Bandar Lampung hidup berdampingan dengan limbah sampah.

Sejak tahun 2000an, mereka sudah berteman akrab dengan sampah juga limbah.

Yang cukup mencolok, limbah berbahaya berwarna hitam pekat dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung juga menjadi penyumbang di Keteguhan.

Bahkan limbah hitam pekat itu tak jarang masuk ke rumah warga lantaran terbawa air yang meluap saat hujan lebat.

Hal tersebut biasa terjadi dan dirasakan oleh warga kelurahan Keteguhan Telukbetung Timur Bandar Lampung.

Sebab, pemukiman padat penduduk itu  memang menjadi muara sampah dari berbagai arah yang berada di dataran tinggi.

Pantauan Tribunlampung.co.id, aliran limbah sampah TPA Bakung berwarna hitam pekat langsung menuju ke pesisir laut di  Keteguhan.

Selain itu, ada juga aliran sungai atau drainase dari berbagai pemukiman yang mengarah ke pesisir laut di Keteguhan.

Penelusuran yang dilakukan, aliran limbah dari hulu TPA Bakung hingga ke hilir pesisir laut di Keteguhan sekira 3 km.

Aliran limbah hitam pekat dan berbau menyengat itu mengitari rumah-rumah warga.

Aliran yang berliku-liku itu bahkan hanya berjarak 1 meter saja dari rumah-rumah warga.

Selain limbah hitam pekat, aliran air juga didominasi limbah rumah tangga dan pabrik berbahan plastik.

Jika hujan deras mengguyur, aliran limbah tersebut tersumbat sampah.

Akibatnya, terjadi banjir bahkan air yang meluap masuk kerumah-rumah warga.

Selain warga langsung yang terkena dampak, laut di Keteguhan juga ikut tercemar.

Pesisir pantai yang dahulu bersih berpasir putih kini sudah menjadi lumut hitam yang menyeramkan.

Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari laut yang menyeramkan itu.

Ekosistem bawah laut rusak, ikan-ikan juga turut menghilang.

"Tadinya masih ada pasir putihnya sekarang udah lumpur semua hitam limbah sampah itu. Kalo hujan meluap semua banjir sampe masuk kerumah-rumah warga," kata Ketua RT Lingkungan II Kelurahan Keteguhan saat diwawancarai baru baru ini.

Dia menjelaskan Keteguhan memang menjadi muara sampah dari berbagai pemukiman warga yang ada di dataran tinggi termasuk TPA Bakung.

Hebatnya lagi, jika terjadi banjir cukup besar, sampah yang ditemukan  mencapai berat hampir satu ton atau sekira dua mobil dump truk.

"Selain limbah. Di sini juga banyak sampah kiriman. Kalo banjir itu dari mana-mana larinya kesini," kata dia.

"Setiap kali banjir, bisa sampe dua truk sampahnya, ada macem-macem sampe sampah kasur, baju, kayu, bambu apa aja ada," imbuhnya.

Kata dia, jika hal itu terjadi maka menimbulkan bau menyengat.

Dia berharap pemerintah Kota Bandar Lampung bisa langsung melihat kondisi pemukiman warga Keteguhan yang diwarnai limbah dan sampah.

"Ya sangat berharap bisa ada solusi apa kan yang bisa buat kami disini lingkungan nya bersih dan hidup sehat,"kata dia.

Air Tak Bisa Digunakan

Hal serupa diungkapkan oleh Edy warga Keteguhan.

Edy menuturkan dia bersama warga sangat berharap solusi dari pemerintah Kota Bandar Lampung.

Selain masalah limbah, masalah banjir yang menyebabkan air limbah masuk kerumah warga diharapkan bisa diatasi.

Air sumur yang menjadi sumber milik mereka tidak bisa digunakan karena kotor dan berwarna cokelat.

"Air gak bisa dimanfaatkan jangan buat minum, buat nyuci aja gak bisa. Kalo maksain ya bisa tapi risiko bajunya jadi kuning," kata Edy.

Saat ini, kata Edy warga masyarakat memanfaatkan air PAM yang ada.

Sementara untuk minum mereka ada yang membeli atau masak sendiri menggunakan air PAM.

"Pake PAM kalo ada kebutuhan apa, kalo minum ya kadang beli," sebutnya.

(Tribunlampung.co.id/Kiki Adipratama)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved