Berita Terkini Nasional

CCTV Rusak Saat Penembakan di Rumah Irjen Ferdy Sambo Jadi Trending Twitter

Rata-rata netizen memberi cuitan pada keterangan kepolisian tentang CCTV yang rusak saat kejadian baku tembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

Editor: Indra Simanjuntak
Tribunnews.com
Kolase foto rumah dinas dan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Hashtag CCTV menjadi trending topic di Twitter. 

"Saya kira kalau terkait hal seperti itu (CCTV rusak), tentunya nanti terkait dengan kaitannya dengan kasus, tentunya tim gabungan yang akan memberikan masukan," kata Listyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (12/7/2022).

Mantan Kabareskrim Polri ini menyinggung soal pentingnya CCTV untuk pengamanan khususnya untuk para anggota Polri.

Melihat dari insiden baku tembak, Dia menerangkan tim yang dibentuk akan bekerja dengan baik dan mempertanggungjawabkan fakta-fakta yang didapat.

"Terkait dengan pengamanan terhadap rumah kita masing-masing tentunya kita sarankan memang terhadap pengamanan dilengkapi dengan CCTV itu kan menjadi bagian yang penting untuk pengamanan di kegiatan masing-masing," ungkapnya.

Keluarga Ingin Lihat Rekaman CCTV Demi Kebenaran

Samuel Hutabarat sadar anaknya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat yang sudah tewas ditembak, tak mungkin hidup lagi di dunia ini.

Namun, ia sangat ingin bisa melihat rekaman CCTV baku tembak di tempat kejadian perkara demi terungkapnya kebenaran.

Samuel sudah siap menyaksikannya walaupun mungkin isinya sangat mengerikan.

Menurutnya, di rumah perwira tinggi seharusnya memiliki CCTV dan juga pengawasan ketat.

"Itu kan rumah perwira tinggi, tolong diperlihatkan rekaman CCTV," katanya, saat ditemui di rumahnya di Sungai Bahar, Provinsi Jambi, Selasa (12/7/2022).

Pengamat Heran CCTV di Rumah Dinas Bisa Rusak

Pengamat Kepolisian Bambang Rukminto merasa aneh dengan pernyataan dari Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan soal CCTV yang rusak.

Ia merasa heran dengan ucapan Brigjen Ramadhan soal CCTV di rumah Ferdy Sambo mengalami kerusakan.

"Makanya Polri harus menjelaskan ke publik, kalau tidak banyak asumsi-asumsi," jelas Bambang.

Bambang Rukminto meminta kepada Kapolri untuk membentuk tim pencari fakta guna mengusut tuntas kasus tersebut.

Tim pencari fakta ini harus melibatkan pihak luar seperti Kompolnas, Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) dan beberapa lainnya.

"Ini untuk menjaga objektivitas itu ada, ini sangat perlu karena menyangkut perwira tinggi," jelasnya.

(Tribunnews.com/Tribun Jambi/Wartakota/Tribun Lampung)

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved