Berita Lampung

PT Tanjungkarang Bandar Lampung Akan Beri Sanksi Pelaku yang Salah Upload Amar Putusan Hakim

PT Tanjungkarang, Bandar Lampung akan beri sanksi pelaku salah upload amar putusan hakim untuk terdakwa narkotika.

Penulis: Bayu Saputra | Editor: Dedi Sutomo
Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra
Humas PT Tanjungkarang Bontor Aroean saat diwawancarai Tribun di depan kantor PT Tanjungkarang, Rabu (25/1/2023). PT Tanjungkarang tegaskan akan memberi sanksi pada pengupload yang salah dalam upload amar putusan terdakwa kasus narkotika. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang, Bandar Lampung, Provinsi Lampung akan memberikan sanksi bagi penguload dan pihak lain yang bertanggung jawab atas kesalahan upload putusan terhadap salah seorang terdakwa kasus narkotika dengan terdakwa Suhun.

Humas PT Tanjungkarang Bontor Aroean menegaskan, PT Tanjungkarang akan memberikan sanksi kepada pengupload dan bertanggungjawab atas kesalahan upload putusan tersebut.

"Kalau ada unsur kesengajaan dan kekeliruan kami akan berikan sanksi kepada orang yang salah mengupload putusan dalam sistem elektronik," kata Humas PT Bontor Aroean saat diwawancarai Tribun Lampung, Rabu (25/1/2023).

Ia mengatakan, tidak hanya pegawai PT yang salah mengupload putusan. Mereka yang bertanggung jawab juga akan diberikan sanksi.

Menurut Bontor, ia saat ini masih musyawarah dahulu terkait sanksi akan diberikan bagi pelaku yang salah upload putusan tersebut.

"Akan kami laporkan dulu kepada ketua PT untuk sanksi apa yang akan diambil, kami masih menunggu hasilnya," ucap Bontor.

Lebih lanjut dikatakan olehnya, pihaknya akan menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada awak media minggu depan.

Bontor menegaskan, untuk majelis hakim clear tidak ada masalah karena elektronik documen (e-doc) tidak ada perbaikan.

"Perlu dipahami tidak ada perbaikan dari e-doc, tidak ada putusan yang dirubah, jadi diduga itu salah copy paste," ujar Bontor.

Menurutnya, tim telah meminta klarifikasi kepada tiga majelis hakim PT, panitera pengganti satu orang, dan satu orang yang membantu mengupload.

"Kami pengadilan tinggi tidak merubah atau memperbaiki hasil putusan."

"Putusan merupakan putusan menguatkan untuk menghukum terdakwa," ucap Bontor.

Dijelaskannya, kesalahan terjadi ketika dokumen putusan diupload tidak terupload yang amar putusan, pengupload hanya mengambil upload itu dari tengah putusan.

"Jadi e-doc tidak ada yang dirubah satu huruf pun, ketika membuat kesimpulan dari amar itu keliru menguploadnya."

Halaman
123
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved