Berita Terkini Nasional

Arsjad Rasjid: Ganjar Pranowo Mengerti Perasaan Rakyat

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat mulai efektif menjalankan tugas sebagai Ketua TPN Ganjar.

Editor: Kiki Novilia
tribunnews.com / jeprima
Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Presiden, Arsjad Rasjid saat menjadi narasumber pada sesi wawancara dengan Tribunnews di Gedung Tribun Network, Jakarta Pusat,Senin (25/9/2023). 

Sekarang kepercayaan dunia terhadap Indonesia sejak pemerintahan Pak Jokowi, misalnya bagaimana kita melihat itu KTT G20, KTT ASEAN, semuanya percaya dengan Indonesia karena ini modal utama.

Jadi kalau bisnis ya kalau usaha yang paling penting itu apa kepercayaan ya. Kalau tidak ada kepercayaan susah kita berbisnis. Makanya sayang sekali kita harus memastikan dan akhirnya menentukan pilihan. Pasti semua pilihan baik menurut saya tapi yang cocok, yang tepat itu baru kita pilih.

Setelah menotifikasi Pak Jokowi lalu feedbacknya apa kepada Anda?

Buat saya Pak Jokowi itu kan bapak bangsa, Presiden RI. Buat beliau siapa pun yang mau melakukan suatu proses untuk membantu bangsa Indonesia, beliau pasti mendukung.

Intinya ujung-ujungnya, begini, sudahlah cukup yang namanya ribut-ribut politik menurut saya. Kita bikin dong yang asyik-asyik. Kita bikin dong bahwa politik itu sejuk. Kita pikirkan dong ke depannya ini kita anggaplah mencari ketua kelas.

Jadi kita cari ketua kelas, ya kan, siapa yang menang yang lainnya sudah lah kita bergotong royong karena kita tidak bisa diadu domba lagi. Sudah cukup kita harus bersatu. Pertumbuhan ekonomi hanya bisa terjadi bilamana ada stabilitas politik dan stabilitas keamanan.

Kalau nggak ada itu, forget about that. Dan kalau tidak ada pertumbuhan ekonomi bagaimana kita bisa menyejahterakan dan memberikan keadilan kepada masyarakat. Kuncinya itu kita mesti memastikan.

Selama pertemuan dengan Pak Jokowi berarti Anda bisa menangkap model orang seperti apa yang bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi?

Kalau bapak menanyakan itu saya seakan-akan berspekulasi dan berasumsi. Saya nggak suka berasumsi, karena belajar kalau asumsi kadang-kadang salah.

Lebih baik saya tidak berasumsi. Yang bisa saya katakana, adalah diskusinya panjang, beliau (Presiden Jokowi, Red) concern bagaimana kebijakan ke depan, kepercayaan yang ada, memastikan ekonomi kita maju. Indonesia harus bisa lebih hebat.

Dan apa yang sudah dilakukan ini bisa dioptimalisasi. Hal-hal tersebut yang selalu beliau utarakan. Saya bilang beliau itu hebat, beliau seorang presiden yang memikirkan ke depan. Walaupun istilahnya beliau sudah mau selesai tapi masih mau berpikir ini bagaimana.

Itu kan menunjukkan sayangnya beliau kepada bangsa ini. Jadi saya harus applause terhadap Pak Jokowi.

Apakah TPN ini nantinya juga mengurusi siapa yang akan menjadi pendamping Pak Ganjar?

Itu kita juga dong. Misalnya perusahaan kita kan mesti menganalisa calon A,B, C, dan D. Kita lihat dari semua perspektif. Bisa dilihat satu dari survei dan kompetensi. Karena begini bukan hanya soal kemenangan, tapi bagaimana rakyat Indonesia juga harus menang.

Untuk itu kita harus berpikir jangka panjang. Lima tahun ke depan, mau ngapain saja. Itu harus dipikirkan kan. Bukan memenangkan Ganjar saja, namun memenangkan rakyat Indonesia.

Kita akan menggodoknya, kita akan pilih siapa yang paling cocok. TPN nanti jabarkan. Ya jelas pertanyaan yang akan ditanya siapa cawapresnya, lalu para stakeholders.

Kita akan jelaskan kalau kita lihat survei begini, kalau lihat kompetensi begini, kita lihat dari perspektif ini begitu. Habis itu keputusannya objektif dan subjektif.

Sebenarnya pilihannya sudah ada belum sekarang ini di TPN?

Kan banyak sekarang pilihannya. Kita kan mesti jabarin semuanya.

Ada deadlinenya tidak karena sebelah sudah ada pasangannya?

Kalau dibilang deadline itu kan saat registrasi dibuka. Kalau memang sudah siap analisanya. Capres, ketua umum, seluruh pihak sudah sepakat mari kita putuskan, kita jabarkan ini semua.

Ini bukan masalah lambat, karena kita harus berhati-hati. Memikirkan ini tuh harus seksama sebab tadi bukan hanya memenangkan, ini soal bagaimana mencari partner Mas Ganjar selama lima tahun ke depan.

Nggak bisa sembarang lho, tunjuk si anu, kita perlu menjabarkan. Tapi tadi keputusan akhir ada di capres, ketua umum parpol koalisi bersama stakeholder. Tugas saya kan memberikan gambaran dan pendapat.

Anda mengatakan bahwa pemangku kepentingan harus ditanya, kalau begitu Presiden Jokowi perlu ditanya?

Anggaplah Presiden itu Dirut mau memilih Dirut baru. Dirut yang lama mesti dipanggil. Kita tanyakan gimana kecocokannya, mesti diajak ngomong. Beliau ini CEO-nya Indonesia, beliau sudah paling tahu tantangan yang ada. Wajar dong ngobrol-ngobrol.

Sebagai seorang pengusaha, seberapa besar endorsement Pak Jokowi terhadap bakal capres dan cawapres?

Saya tidak bisa jawab tapi sudah pasti Pak Jokowi sangat concern terhadap masa depan Indonesia. Terhadap negara ini agar bisa maju supaya rakyatnya sejahtera dan makmur.

Bukannya saya tidak mau ditanya-tanya, tetapi seperti tadi saya ilustrasikan soal memilih direktur utama. Sudah gamblang dan jelas.

Kalau boleh menyampaikan dalam tiga kalimat kekuatan Pak Ganjar apa?

Pertama, beliau mengerti dan bisa merasakan. Kedua, beliau tahu apa yang diinginkan rakyat. Ketiga, beliau punya track record.

Saya tadi bilang, di legislatif membuat produk hukum, kemudian selama 10 tahun menjadi CEO-nya Jawa Tengah. Banyak hal yang sudah beliau lakukan. Track record beliau jelas apa yang sudah dilakukan.

Kalau menurut Pak Arsjad seorang calon presiden dan wakil presiden membutuhkan berapa biaya?

Terus terang saya kan baru mengatakan iya. Jadi sekarang saya baru mulai ngitung-ngitung. Kan ini saya buat kaya perusahaan, lalu programnya bagaimana, dan berapa biayanya.

Jadi nantinya ada budgetnya sebab akan dipertanggungjawabkan nantinya. Kita mesti nyari tadi sponsorship. Tapi sponspornya juga mesti yakin efisien atau tidak, kalau nggak mana mau bayar.

Kan sponsor gitu dia akan lihat dulu berapa budgetnya, apa yang akan didapat, masuk akal tidak. Buat saya itu pertanggungjawaban penting.

Apa reaksi keluarga setelah Anda menerima tawaran menjadi Ketua TPN?

Di awal mereka marah, menurut saya wajar karena mendengarnya dari berita. Bukan dari saya langsung. Dan saya menjelaskan, alhamdulillah setelah didiskusikan bersama mereka mendukung saya.

Dan mengatakan kalau memang ini tantangannya keluarga mendukung 1.000 persen. Sama juga korporasi partner saya juga pemegang saham lainnya juga mengatakan memberikan blessing.

Organisasi juga demikian tetapi secara tata kelola saya harus cuti dan clear. Itu tata kelola karena itu bagian dari tanggung jawab dan harus diselesaikan dengan baik.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

( Tribunlampung.co.id / Tribunnews.com / Reynas Abdila/Fransiskus Adhiyuda/ Endrapta Pramudhiaz )

Sumber: Tribunnews
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved