Berita Terkini Nasional

Kabut Asap Selimuti Palembang, Ganggu Kesehatan hingga Hambat Transportasi

Kabut asap menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan akibat karhutla dan ganggu kesehatan serta jarak pandang.

Tayang:
Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id
Kabut asap menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan akibat karhutla dan ganggu kesehatan serta jarak pandang masyarakat. 

Tribunlampung.co.id - Kabut asap menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Dampak kabut asap yang melingkupi Kota Palembang, Sumatera Selatan telah membuat resah warganya. 

Baca juga: Satgas Karhutla Polres Lamtim Polda Lampung Terus Selidiki Kebakaran Hutan di TNWK

Baca juga: Polisi Petakan Titik Hotspot Karhutla TNWK, Selidiki Penyebab Kebakaran

Masyarakat Palembang, Sumatera Selatan mulai alami ganggu kesehatan dan keterbatasan jarak pandang, baik darat maupun air.

Kabut asap di Kota Palembang merupakan kiriman dari daerah sekitar.

Dampaknya, transportasi sungai di Kota Palembang sepi.

Salah satu pemilik Kapal Jukung di bilangan Dermaga 7 Ulur, Efendi mengatakan, kabut asap membuatnya mengurangi aktivitas mengangkut barang ke Kabupaten Banyuasin.

Jarak pandang yang berkurang karena kabut asap bisa membahayakan pengguna transportasi air sungai.

"Kami tidak berani ambil rIsiko untuk berangkat malam. Jadi, lebih baik kami bermalam di kampung-kampung. Sore hari itu jarak pandang sudah terbatas, apalagi di malam hari," ungkapnya, Kamis (5/10/2023).

Ia mengatakan, kapal miliknya sudah bersandar 10 hari.

"Kapal kami sudah bersandar 10 hari. Sambil menunggu muatan barang dan makanan untuk dijual dipasar kalangan, kami lebih baik berangkat pada siang hari," ujarnya.

Mengutip Sripoku.com, tak hanya Efendi saja, Nasir, pemilik Speedboad jurusan Palembang-Sungai Baung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pun menuturkan hal senada.

Ia mengatakan, dalam satu hari, ia bisa menempuh waktu tiga jam untuk satu kali perjalanan.

Namun karena asap tebal, kini ia menempuh waktu empat jam lantaran takut membahayakan karena jarak pandan yang berkurang.

"Pada sore hari jalur Sungai sudah masuk dari Kabupaten Banyuasin menuju Kabupaten OKI itu batas sungai dan dinding tanah sudah tidak kelihatan padahal jalur hanya seluas 3-5 meter. Jadi, senter terkadang dinyalakan sebagai tanda," katanya.

Selain itu, jumlah penumpang juga berkurang, dari yang tadinya 25 orang, jadi 19 orang.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved