Lampung

Komisaris Utama PTPN VII Pantau Pembibitan di Unit Bekri: Ini Masa Depan Perusahaan

Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat meninjau areal pembibitan kelapa sawit PTPN VII Unit Bekri di Lampung Tengah, Selasa (24/10/23).

Tayang:
Istimewa
Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat meninjau areal pembibitan kelapa sawit PTPN VII Unit Bekri di Lampung Tengah, Selasa (24/10/2023). 

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat meninjau areal pembibitan kelapa sawit PTPN VII Unit Bekri di Lampung Tengah, Selasa (24/10/2023).

Hadir bersama R Wiwin Istanti, komisaris anggota, dan tim komite audit dan disambut SEVP Operation 1 Budi Susilo, SEVP Operation 2 Wiyoso, dan beberapa pejabat utama PTPN VII. Sedangkan Agus Faroni, Manajer PTPN VII Unit Bekri dan jajaran.

Nurhidayat dan tim tampak memberi perhatian khusus kepada kebun pembibitan. Ia mengatakan, bibit, baik kualitas fisik dan perlakuan agronomisnya adalah pondasi utama untuk keberlangsungan seluruh siklus budi daya yang amat panjang.

Menurut dia, tanaman kelapa sawit yang memiliki siklus hidup sekitar 25 tahun adalah pertaruhan masa depan.

"Saya tekankan, masalah bibit ini harus sangat ketat. Semua aspek agronomis dan aspek lainnya harus sesuai prosedur," katanya.

"Jangan menganggap ini cuma menanam pohon kelapa sawit, tetapi kita sedang menyemai masa depan perusahaan. Sekali salah perlakuan kita kepada bibit, masa depan kita terancam," sambung dia.

Pak Nur, sapaan akrabnya menambahkan, kultur teknis dalam menyiapkan bibit harus dikawal khusus. Hal itu karena ia menyakini benih yang disiapkan produsen mempersyaratkan perlakuan yang sesuai dengan model rekayasanya.

"Kultur teknis dalam menyiapkan bibit ini sangat penting. Benihnya bagus, perlakuannya pas, timing atau waktunya harus pas, pupuknya harus pas, dan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang pas juga," ujarnya.

Hal senada disampaikan R Wiwin Istanti, proses tanam ulang komoditas kelapa sawit adalah investasi mahal dan panjang.

Selain itu, kata dia, resikonya juga sangat tinggi karena proses dari awal Investasi sampai mulai menghasilkan tidak bisa segera diketahui prospeknya.

"Saya ingin memberi penekanan kepada aspek pembibitan. Seperti yang disampaikan Pak Komut tadi, bibit ini faktor krusial. Sebab, investasi di bidang agro ini sangat mahal, menunggu sampai menghasilkannya lama, dan hasilnya seperti apa juga tidak mudah diprediksi. Oleh karena itu, tolong pastikan semua aspek teknis dan non teknis dipenuhi secara ketat," urainya.

Wiwin juga mengingatkan bahwa dana yang diinvestasikan harus bisa dipertanggung =jawabkan. Ia memerinci, untuk menanam kelapa sawit baru akan bisa menghasilkan setelah tiga tahun lebih. Selama tiga tahun menunggu, tanaman membutuhkan perawatan, pemupukan, dan biaya lain yang tidak sedikit.

"Kita bisa bayangkan resiko yang harus ditanggung jika salah treatment. Ini harus menjadi perhatian khusus semua yang terlibat," katanya.

Manajer PTPN VII Agus Faroni dalam presentasinya menyatakan siap mengawal proses ini. Agus melaporkan, PTPN VII Unit Bekri mendapat mandat untuk menyemai bibit kelapa sawit untuk kepentingan sendiri, yakni untuk tanam ulang tiga unit kerja di PTPN VII. Yakni, untuk Unit Bekri, Unit Padangratu, dan Unit Rejosari-Pematang Kiwah.

Jumlah bibit yang disiapkan sebanyak 135 ribu butir kecambah terdiri dari empat varietas yang diproduksi PPKS, Socfin, Sriwijaya, dan Bakrie. Pihaknya menyiapkan lahan pembibitan seluas 10 hektar di Afdeling 5 yang dekat dengan sumber air dari sungai.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved