Berita Lampung

Cerita Pedagang Bendera Merah Putih di Pesisir Barat, Ujang Rela Tidur Seadanya

Ujang Dadang (42) pedagang bendera merah putih di depan Kantor Pemkab Pesisir Barat mengaku berasal dari Garut, Jawa Barat.

Penulis: saidal arif | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Saidal Arif
Penjual bendera merah putih di depan Kantor Pemkab Pesisir Barat. 

Tribunlampung.co.id, Pesisir Barat - Menjelang peringatan HUT  Republik Indonesia 17 Agustus, para penjual bendera merah putih mulai ramai menjajakan dagangannya di pinggir jalan lintas Pesisir Barat Lampung.

Ujang Dadang (42) pedagang bendera merah putih di depan Kantor Pemkab Pesisir Barat mengaku berasal dari Garut, Jawa Barat.

"Setiap menjelang bulan Agustus saya selalu berjualan bendera merah putih," ungkapnya, Senin (5/8/2024).

Dikatakannya, sejak tahun 2015 ia sudah berjualan bendera merah putih di Pesisir Barat Lampung.

Adapun barang dagangan yang dibawanya yakni bendera merah putih, umbul-umbul dan beragam pernak-pernik terkait kebutuhan perayaan 17 Agustus.

"Untuk jumlah barang dagangan yang kita bawa seluruhnya ada sekitar 100 kodi," bebernya.

Lanjutnya, untuk harga umbul-umbul dirinya mematok harga Rp 35 ribu ukuran standar, bendera merah putih dijual mulai Rp 5 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung ukuran.

Kemudian, background atau sering disebut warga sekitar tirai dijual Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu tergantung panjang dan gelombangnya.

Sedangkan, untuk paketan dua umbul-umbul dan satu bendera merah putih ukuran standard dipatok Rp 100 ribu.

Sebagai pedagang musiman Ujang ngaku, banyak suka duka yang ia rasakan.

Mulai dari rela meninggalkan keluarga selama sebulan dan rela tidur seadanya di tempat menginap.

"Saya ke Krui sejak tanggal 25 Juli yang lalu dan rencananya baru pulang sekitar 20 Agustus mendatang," ungkapnya.

Selain itu suka duka lainnya yakni sepinya para pembeli bendera merah putih yang menyebabkan barang dagangannya tidak habis.

Dalam sehari pendapatan besar dari hasil menjual bendera tersebut bisa mencapai Rp 700 ribu.

"Namanya jualan kadang laku, kadang gak, tapi kalau pendapatan paling tinggi pernah sampai Rp 700 ribu," ucapnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved