Berita Lampung

Warga Desa Transmigrasi Way Terusan Tagih Janji Pemkab Lampung Tengah

Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI) menagih janji Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah.

Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidik
Ngadiman (batik cokelat) selaku Koordinator UPT SP 2 Terusan Makmur mendatangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (PMK) Lampung Tengah, Jumat (16/8/2024). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Lampung Tengah - Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI) menagih janji Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah.

Dengan mendatangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (PMK) Lampung Tengah, mereka meminta Desa Transmigrasi Way Terusan di Lampung Tengah yang terdiri dari UPT SP1, SP2, dan SP3 didefinitifkan.

Wilanda Rizki selaku Sekretaris DPC PATRI Lampung Tengah mengatakan, sejak 3 November 1997 atau hampir 27 tahun desa tersebut tak kunjung didefinitifkan.

Padahal, katanya, pihaknya sempat mendapat angin segar setelah keluarnya surat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 314/PKT.03.05/X/2023.

"Tapi walaupun sudah turun surat menteri sekalipun, lagi-lagi pemerintah tidak ada tindakan untuk Desa Transmigrasi Way Terusan," katanya, Jumat (16/8/2024).

Sebab, terangnya, dalam surat itu menegaskan bahwa desa yang wilayahnya sudah tidak ada permasalahan seperti UPT SP1 Way Terusan (Karya Makmur) dan UPT SP2 Way Terusan (Terusan Makmur) sudah bisa untuk ditingkatkan statusnya menjadi desa definitif.

Kemudian, surat tersebut juga meminta pemerintah daerah untuk berkoordinasi dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan wilayah XX Bandar Lampung terkait UPT SP3 Way Terusan (Tri Tunggal Jaya) yang masuk dalam kawasan hutan register.

Ngadiman selaku Koordinator UPT SP 2 Terusan Makmur mengaku lelah dan geram kepada oknum pejabat yang silih berganti menjanjikan status definitif.

Yang paling menyedihkan, sambung Ngadiman, setelah otonomi daerah, seluruh warga Desa Transmigrasi Way Terusan diminta untuk menginduk ke Kampung Mataram Udik, Kecamatan Seputih Mataram.

Sedangkan sejauh ini sudah ada sekitar 1.200 kepala keluarga yang menetap di desa tersebut.

"Kalau memang menginduk ke Kampung Mataram Udik, tapi sampai saat ini kita terkatung-katung karena nggak ada pengaruhnya sama sekali. Bahkan pembangunan infrastruktur kita selalu patungan antarwarga," katanya.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved