Berita Lampung

BMKG: Bibit Siklon Tropis Penyebab Cuaca Buruk di Wilayah Lampung

Cuaca buruk mulai hujan deras, angin kencang, hingga banjir rob melanda Provinsi Lampung beberapa hari belakangan.

Tayang:
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Indra Simanjuntak
Dokumentasi Tribunlampung.co.id
Ilustrasi cuaca buruk di Lampung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Cuaca buruk mulai hujan deras, angin kencang, hingga banjir rob melanda Provinsi Lampung beberapa hari belakangan.

Kordinator Bidang Data BMKG Lampung, Rudi Harianto menjelaskan, berdasarkan analisa, cuaca buruk yang belakangan terjadi di sekitar Lampung disebabkan pergerakan angin di Laut Cina Selatan serta bibit siklon tropis di Samudera Hindia.

"Analisa penyebab cuaca buruk di Lampung karena Bibit Siklon Tropis 95W terpantau di Laut Cina Selatan dengan tekanan di pusat sistem 1006.4 hPa dan kecepatan angin maksimum 15 knot bergerak ke arah Barat- Barat Laut," 

"Selain itu terdapat bibit siklon tropis 99S di Samudera Hindia Barat Daya Bengkulu dengan tekanan di pusat sistem 1009.7 hPa dengan kecepatan angin maksimum 20 knot bergerak ke arah Timur," ujarnya saat dikonfimasi, Kamis (5/12/2024).

Ia melanjutkan, bibit siklon tropis ini menginduksi peningkatan kecepatan angin (low level jet) di Samudera Hindia sekitar sistem termasuk lampung.

Kemudian, lanjut Rudi, Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau di fase 4 (Maritime Continent) yang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Lampung

Dipole mode aktif, kata dia, berpengaruh terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia bagian barat khususnya wilayah Lampung

"Kombinasi antara gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuator, dan gelombang Low Frequency pada wilayah dan periode yang sama terpantau aktif di Samudra Hindia barat Sumatra sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah tersebut," ucapnya.

Dia menjelaskan, Suhu Muka Laut yang menghangat dapat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Perairan, Samudra Hindia barat Sumatra dan Selat Sunda.

"Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di pesisir barat Bengkulu hingga Perairan Barat Daya Banten, kemudian daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Selat Sunda. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang konvergensi/konfluensi tersebut," jelas Rudi.

Rudi menambahkan, peningkatan kecepatan angin hingga mencapai >25 knots terpantau di perairan barat Bengkulu hingga Lampung.

Di mana, terdapat Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal di wilayah Lampung.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved