Berita Lampung
Kafe di Puncak Gunung Balau Ambruk, Dispar Bandar Lampung: Sudah Pernah Diingatkan
Salah satu kafe di destinasi wisata Puncak Gunung Balau Bandar Lampung ambruk.
Penulis: Bobby Zoel Saputra | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Salah satu kafe di destinasi wisata Puncak Gunung Balau Bandar Lampung, Lampung ambruk.
Menurut informasi, kafe yang itu ambruk karena tak kuat menampung banyak wisatawan yang berasal dari Bandar Lampung maupun luar kota.
Apalagi, kontruksi dari kafe yang ada di wisata alam Bandar Lampung itu terbuat dari kayu sehingga berisiko tinggi untuk ambruk.
Setidaknya, ada lebih dari 50 orang yang berada pada kafe tersebut sebelum cafe tersebut ambruk dan runtuh ke bawah.
Akibatnya, puluhan pengunjung mengalami luka-luka di lokasi tersebut tepat pada perayaan malam pergantian tahun baru.
Kepala Dinas Pariwisata Pemkot Bandar Lampung Adiansyah mengatakan, pihaknya sudah pernah memberi peringatan pada destinasi tersebut.
“Destinasi wisata itu ambruk karena overload. Pernah kita tinjau juga ke sana, kita kasih tau untuk melihat kelayakan fasilitas,” ujarnya, Rabu (1/1/2025).
“Jika sekiranya ada yang tidak layak, segera diperbaiki atau diganti. Itulah yang saya bilang ke mereka, jangan memaksakan,” sambungnya.
Ia menegaskan, pengelola wisata maupun pelaku usaha wisata harus memperhatikan Clean, Health, Safety, dan Environment (CHSE).
“Kebersihannya, kesehatannya, keamanan dan lingkungannya harus diperhatikan oleh pengelola wisata maupun pelaku usaha di destinasi wisata,” jelasnya.
“Semua unsur itu harus dipenuhi oleh pengelola wisata maupun pelaku usaha wisata. Sehingga destinasi itu bisa dibilang layak,” tambahnya.
Saat ini pihaknya masih berusaha menghubungi pengelola wisata maupun cafe untuk meminta keterangan namun belum mendapat respon.
“Sudah saya konfrim ke pokdarwis yang merupakan masyarakat di sana, tapi belum ada respon merekanya,” ungkapnya.
“Karena yang mendirikan cafe-cafe di sana (Puncak Gunung Balau) ya masyarakat di sana. Jadi itu milik masyarakat setempat,” lanjutnya.
Terkait upaya ke depan, pihaknya bakal kembali meninjau lokasi wisata tersebut untuk diberikan evaluasi.
Setidaknya pengelola wisata maupun pelaku usaha wisata dapat memenuhi kriteria dari CHSE untuk kelayakan destinasi.
“Sudah kita pantau dan sudah kita kasih tau. Intinya saya minta ke pokdarwis di sana untuk mulai memperhatikan lagi faktor keamanan,” ucapnya.
“Besok akan kita tinjau dlu, dan koordinasi dengan pokdarwisnya lagi. Kita akan minta mereka untuk memenuhi standar CHSE itu,” pungkasnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Bobby Zoel Saputra)
| Sindikat Solar PT GGP Dibongkar, 26 Karyawan Ditangkap Polres Lampung Tengah |
|
|---|
| Resmi Bebas, Thio Stefanus Digendong Pengacaranya Keluar Bui, Nazar Lunas |
|
|---|
| Kasus Tambang Ilegal di Lampung Selatan, Polisi Limpahkan Tersangka ke Kejaksaan |
|
|---|
| Penjualan Pertamax di SPBU MBK Bandar Lampung Stabil, Konsumen Banyak yang Beli |
|
|---|
| 1.320 Pil Ekstasi dan 14,26 Gram Sabu Dimusnahkan, 1.350 Jiwa Warga Lampung Selamat dari Narkoba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Kondisi-di-lokasi-pasca-kafe-ambruk.jpg)