Berita Viral

Penolakan Ormas Hercules di Bali, Dinilai Meresahkan dan Merusak Hidup Warga

Heboh penolakan Organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya yang dikomandoi Hercules di Bali.

Tayang:
Editor: Kiki Novilia
TribunJabar.id/Nazmi Abdurahman
PENOLAKAN ORMAS HERCULES - Rosario de Marshall alias Hercules saat menghadiri sidang kasus suap di Mahkamah Agung (MA) dengan terdakwa Heryanto Tanaka, di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (15/5/2023). Heboh penolakan Organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya yang dikomandoi Hercules di Bali. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bali - Heboh penolakan Organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya yang dikomandoi Hercules di Bali.

Penolakan ormas Hercules diungkap langsung oleh para pecalang atau petugas keamanan adat tradisional di Bali

Bukan tanpa alasan, para pecalang mengkhawatirkan rusaknya tatanan hidup di Bali apabila ormas hadir.

"Merusak tatanan hidup di Bali. Kami sudah punya sistem sendiri, dan sistem itu terbukti berjalan, kuat, dan dihormati rakyat," ucap pecalang dalam video yang dibagikan di Instagram Senator RI, Ni Luh Djelantik, pada Minggu (4/4/2025).

Penolakan ini bermula dari unggahan viral yang memperlihatkan acara pelantikan DPD GRIB Bali.

Video tersebut memperlihatkan sosok bernama Rahmat yang memperkenalkan diri sebagai Panglima Satgas GRIB DPD Bali.

Lalu, berganti menampilkan perwakilan pecalang Bali pun menjawab perkenalan tersebut dengan menolak kehadiran ormas dari mana pun.

Para pecalang menjelaskan kekhawatiran akan rusaknya tatanan hidup di Bali apabila ormas hadir.

"Kami tidak butuh ormas dari luar, kami tidak butuh pihak asing yang datang membawa agenda," lanjut dia.

Sedangkan, masyarakat Bali sudah memiliki tatanan hidup dan sistem keamanan sendiri yang diwariskan secara turun temurun.

"Kami adalah bagian dari sistem adat yang sudah diwariskan, turun temurun untuk menjaga Bali," katanya.

Ia juga mengatakan, ribuan pecalang di Bali sudah cukup bagi mereka untuk menjaga dan melindungi desa adat Pulau Dewata.

"Di seluruh Bali ada 1500 desa adat, dan di setiap desa adat, pecalang hadir," ungkap dia, seperti dikutip dari Tribun Jabar.

"Kami ada di akar rumput, tahu apa yang kami jaga, dan apa kami lindungi," lanjutnya.

Dengan tegas, pecalang menyatakan bahwa tidak membutuhkan pihak luar untuk menjaga Bali.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved