Berita Viral

Kisah Pilu Chen Shih Tsuan, Terusir dari Taiwan hingga Melahirkan di Tegal

Kisah berliku wanita bernama Chen Shih Tsuan (41) kembali menjadi warga negara Indonesia (WNI) setelah sempat menjadi warga negara Taiwan.

Editor: Kiki Novilia
TRIBUN JATENG/REZANDA AKBAR
KISAH PILU - Chen-chen di Panti Sosial PGOT Mardi Utomo Semarang, Senin (26/5/2025). Kisah berliku wanita bernama Chen Shih Tsuan (41) kembali menjadi warga negara Indonesia (WNI). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Tegal - Kisah berliku wanita bernama Chen Shih Tsuan (41) yang sempat terusir dari negeri Taiwan.

Adapun Chen Shih Tsuan awalnya adalah warga negara Indonesia (WNI), namun pindah menjadi warga negara Taiwan setelah menikah. 

Namun, kini wanita yang akrab disapa Chen-chen ini kembali ke tanah air menggunakan nama lamanya yakni Magdalena.

Akan tetapi, orang-orang sudah terbiasa memanggil dirinya dengan nama Chen-chen.

Adapun Chen-chen lahir di Belawan. Ketika dewasa, dia dipinang oleh seorang pria dari Taiwan.

Karena harus hidup bersama suami dan tinggal di Taiwan, Magdalena menjadi warga negara Taiwan dengan menggunakan nama Chen Shih Tsuan.

Awalnya, ia hidup bahagia seperti pasangan pada umumnya. Dia dikaruniai dua anak saat bersama suaminya.

Usia pernikahannya sampai 15 tahun, karena suaminya yang meninggal.

Namun, setelah kematian suaminya, keluarga besar mantan suami tak lagi menerima Chen-chen yang bukan orang asli Taiwan.

Keluarga besarnya hanya mau mengakui kedua anak Chen-chen yang asli keturunan Taiwan.

Dengan berat hati, Chen-chen meninggalkan kedua anaknya dan rumah mertuanya karena tak diakui oleh keluarga besar mantan suaminya.

Chen-chen kemudian mulai kehidupan barunya bekerja di Taiwan.

Pada saat itu, dia bertemu dengan pelaut asal Tegal. Lambat laun bibit cinta tumbuh di antara mereka berdua.

Waktu berjalan, keduanya memadu kasih hingga Chen-chen hamil.

Karena hamil, dirinya sudah tak diterima lagi di tempat bekerjanya.

Chen-chen kala itu kelimpungan dan disarankan oleh kekasihnya untuk pulang ke Tegal dan dijanjikan bakal dinikahi.

Ia mengikuti kata sang kekasih dan kembali ke Indonesia menuju Tegal, sampai melahirkan Ijal di rumah orang tua kekasihnya.

Namun, kekasihnya tak kunjung pulang dan juga ingkar janji untuk menikahi Chen-chen.

Termasuk juga keluarga kekasihnya yang tak mau menghidupinya dan Ijal yang baru dilahirkan.

Dia merasa ditipu oleh pacarnya, sehingga harus mencari pekerjaan dan menjadi pelayan di warteg untuk mencukupi kebutuhan Ijal yang masih bayi orok.

Suatu ketika, saat pulang dari bekerja, Chen-chen sempat kaget tak menemukan Ijal di tempat tinggalnya.

Tiba-tiba orang tua dari sang kekasih memberikan uang Rp 10juta kepadanya.

Chen-chen menolak uang tersebut dan meminta anaknya, Ijal, dikembalikan ke pelukannya.

Oleh karena hal itu, Chen-chen mengurus surat administrasi ke balai desa.

Karena tak pernah mengenyam pendidikan dan kesulitan komunikasi, petugas balai desa tak memahami maksud Chen-chen.

Karena Chen-chen yang masih berstatus sebagai warga negara Taiwan, petugas membawanya ke Kantor Imigrasi di Malang.

Dari Malang, Chen-chen dibawa ke Rudenim Semarang dan tinggal selama sembilan tahun di sana, hingga mendapatkan kembali kewarganegaraannya.

"Membutuhkan waktu 9 tahun karena ada beberapa hal. Antara satu stakeholder dan lainnya menginginkan semua sesuai aturan yang berlaku."

"Antara Ditjen Ahu, Imigrasi, dan Teto sebagai perwakilan negara Taiwan di Indonesia," tutur Agus Triharto.

Selama sembilan tahun, Agus bersama pihaknya sudah berusaha mencari keluarga Chen-chen, dengan berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Belawan dan Medan.

Selama itu pula, hasil yang didapatkan nihil.

"Kami hanya memegang paspor 1999, di belakang tak ada alamat dia."

"Karena sudah lama juga belum digital, dan kami hanya datang ke Belawan, alamatnya sudah tidak ditemukan," tuturnya.

Sementara itu, di Rumah Sosial PGOT Mardi Utomo Semarang, Chen-chen mendapatkan tempat tinggal yang dirasa nyaman bagi dia dan Ijal.

Chen-chen berharap ketika tinggal di Rumah Sosial PGOT ini, bisa membuatnya kembali mandiri.

"Ingin diajarkan (pelatihan) memasak dan menjahit, ingin punya usaha sendiri dan mandiri," ujar Chen-chen.

Namun dalam lubuk hatinya terdalam, Chen-chen ingin bertemu dengan ibunya yang di Belawan.

"Saya tidak tahu ibu masih ada atau sudah tidak ada, saya ingin bertemu ibu."

"Nama cinanya Tan Chu An, nama Indonesia Elipa," jelasnya, mengutip Tribun Jateng.

Baca juga: Nasib Tragis TKW Asal Magetan, Tewas Usai Jadi Korban Tabrak Lari di Taiwan

( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / TRIBUN JATIM )

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved