Bisnis
PTPN I Segera Ubah Struktur Bisnis sebagai Kebijakan Fundamental
Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menyatakan segera melakukan kebijakan fundamental dan radikal.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Endra Zulkarnain
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menyatakan segera melakukan kebijakan fundamental dan radikal.
Ini setelah dua tahun masa konsolidasi pasca dibentuk sebagai Subholding dari Holding Perkebunan Nusantara (HPN).
“Kami segera mengubah struktur bisnis cukup radikal. Dua tahun masa konsolidasi sudah cukup untuk menentukan langkah yang tepat untuk bisnis yang sustainable," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/2/2026).
"Produksi tetap kami kejar, tetapi visinya akan lebih agresif. Kalau sekarang PTPN I adalah entitas perkebunan konvensional, ke depan kami adalah perusahaan agribisnis tangguh, modern, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan,” tambah dia.
Teddy mengatakan, perjalanan menuju tahun 2029 merupakan fase krusial bagi perusahaan untuk memulihkan kinerja inti secara menyeluruh.
Melalui strategi yang terintegrasi, PTPN I tidak hanya fokus pada perbaikan operasional di lini lapangan, tetapi juga melakukan pembenahan radikal pada struktur keuangan perusahaan.
“Tujuan utama kami sangat jelas! Yakni, memulihkan kinerja, memperkuat struktur finansial, dan menciptakan pertumbuhan yang benar-benar berkelanjutan. Kami tidak ingin PTPN I hanya menjadi perusahaan yang sekadar bertahan di tengah badai ekonomi, tetapi harus mampu menjadi subjek yang mengendalikan masa depannya sendiri,” kata Teddy.
Langkah awal dari transformasi besar ini bertumpu pada pilar Capital Optimization. Teddy menjelaskan, beban keuangan masa lalu yang menjadi sandungan pertumbuhan kini diselesaikan secara terukur dan sistematis.
Melalui skema asset settlement pada komoditas sawit dan tebu, PTPN I akan melakukan pengalihan kewajiban kepada subholding terkait, yang secara langsung berdampak pada penurunan signifikan liabilitas berbunga.
“Aset PTPN I berupa kebun dan pabrik kelapa sawit dikelola dengan skema KSO dengan Palm Co (PTPN IV). Sedangkan kebun tebu KSO dengan Sugar Co (PT Sinergi Gula Nusantara). Skema KSO ini akan kita perbarui dengan skema asset settlement agar bisa lebih baik dan menguntungkan kedua belah pihak,” paparnya.
Selain itu, kata Teddy, skema debt reprofiling dan penyederhanaan struktur pembiayaan melalui re-packaging kredit sindikasi dilakukan untuk menyelaraskan tenor pinjaman dengan kemampuan arus kas perusahaan.
Efisiensi biaya bunga tahunan ini memberikan PTPN I ruang napas fiskal yang lebih lega untuk mendanai inovasi di sektor hulu dan memperkuat likuiditas melalui asset disposal yang selektif terhadap aset-aset non-core.
“Dengan neraca yang lebih sehat, kami memiliki pondasi yang kokoh untuk meningkatkan daya saing dan nilai perusahaan dalam jangka panjang. Keberhasilan finansial ini adalah tiket utama kami untuk menjalankan operasional secara lebih tenang dan terencana,” tambahnya.
Kesehatan finansial tersebut langsung diterjemahkan menjadi motor penggerak produktivitas pada komoditas inti seperti karet, teh, dan kopi.
Premi Progresif Penyadap
| Haji 2026, Indosat Dampingi Jemaah Sumatera Tetap Terhubung Sejak Embarkasi |
|
|---|
| Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perluas Akses Digital bagi Sekolah di Pelosok |
|
|---|
| RUPST Indosat Setujui Dividen Rp111 per Saham, Percepat Strategi AI Nasional |
|
|---|
| Indosat Ooredoo Hutchison Dorong Akselerasi AI Terapan Skala Nasional, Pembagian Dividen Solid |
|
|---|
| Kuartal I 2026, Indosat Catat Pertumbuhan Dua Digit dan Bukukan Kinerja Kuat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/AMBIL-KEBIJAKAN-Direktur-Utama-PTPN-I-Teddy-Y5677.jpg)