Berita Lampung
Diskes Pringsewu Targetkan Zero New Stunting di 2026
Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pringsewu menargetkan tidak ada lagi kasus stunting baru (zero new stunting) pada tahun 2026.
Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pringsewu menargetkan tidak ada lagi kasus stunting baru (zero new stunting) pada tahun 2026.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan intervensi spesifik pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga anak usia dua tahun.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan Pringsewu Rahmadi mengatakan, fokus kebijakan gizi saat ini telah bergeser dari penanganan ke pencegahan dini.
“Fokus kami adalah penguatan intervensi spesifik pada 1.000 HPK. Kami tidak lagi menunggu anak jatuh pada kondisi stunting, tetapi melakukan pencegahan sejak remaja putri sebelum hamil, ibu hamil, sampai anak usia dua tahun,” kata Rahmadi kepada Tribun Lampung, (13/1/2025).
Ia menjelaskan, langkah tersebut sejalan dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas.
Selain itu, Diskes Pringsewu juga mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak agar pemantauan status gizi dilakukan sesuai standar global WHO.
Rahmadi menyebutkan, sejumlah program intervensi spesifik terus dijalankan untuk mendukung target tersebut.
Di antaranya pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin kepada remaja putri di sekolah, pemeriksaan kehamilan minimal enam kali melalui layanan ANC terpadu, serta pemantauan pertumbuhan balita setiap bulan menggunakan alat antropometri standar di seluruh pekon.
Selain itu, Diskes Pringsewu juga menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronik (KEK) dan balita dengan berat badan kurang, sebagai langkah pencegahan sebelum anak masuk kategori stunting dan gizi buruk.
“Sekarang kami tidak lagi menggunakan PMT pabrikan. Fokusnya pada protein hewani seperti telur, ikan, dan daging, karena lebih efektif untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, puskesmas dan posyandu memegang peran penting.
Puskesmas berfungsi sebagai pusat rujukan dan validasi data, sementara posyandu menjadi garda terdepan di masyarakat.
Para kader posyandu juga dilatih untuk mendeteksi dini weight faltering atau kenaikan berat badan yang tidak memadai.
Untuk menjangkau keluarga berisiko stunting, Diskes Pringsewu memanfaatkan sistem surveilans gizi berbasis masyarakat melalui e-PPGBM serta melakukan kunjungan rumah bagi keluarga yang tidak rutin datang ke posyandu.
“Kalau ada yang tidak hadir, kami lakukan kunjungan rumah. Sekaligus kami cek kondisi lingkungan dan sanitasi,” kata Rahmadi.
| Gubernur Mirza Bakal Bangun 101 SPKLU, Ramadan 2026 Taksi Listrik Beroperasi di Lampung |
|
|---|
| Pemprov Lampung–BPKP Sepakat Perkuat Pengawasan Infrastruktur dan Pangan |
|
|---|
| Konsep Desaku Maju di Lampung, Mirza: Beda dengan Dana Desa |
|
|---|
| Ketua Sikambhara Lampung Harap Era John Herdman Bawa Prestasi Timnas Indonesia |
|
|---|
| Empat E-TLE Baru Belum Difungsikan, Polda Lampung Fokus Uji Coba Kamera |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Kabid-Kesehatan-Masyarakat-Rahmadi.jpg)