Berita Lampung
Diskes Pesawaran Imbau Anak Bergejala Campak Tidak Masuk Sekolah
Diskes Kabupaten Pesawaran mengimbau anak-anak yang mengalami gejala campak untuk sementara tidak berangkat ke sekolah.
Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: taryono
Ringkasan Berita:
Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pesawaran mengimbau anak-anak yang mengalami gejala campak untuk sementara tidak berangkat ke sekolah.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan guna menekan risiko penularan yang lebih luas, menyusul meningkatnya kasus campak sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pesawaran Chris Manurung mengatakan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular.
Penularannya tidak hanya terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, tetapi juga dapat menyebar melalui udara dari percikan batuk atau bersin.
“Penularan campak tidak hanya terjadi melalui kontak langsung, tetapi juga lewat udara dari percikan batuk dan bersin,” kata Chris kepada Tribun Lampung, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, tren kasus campak di Kabupaten Pesawaran dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan peningkatan, meski jumlahnya masih fluktuatif setiap minggu. Dalam satu bulan, jumlah kasus bahkan tercatat mencapai puluhan.
Menurut Chris, lonjakan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan sektor kesehatan, karena jumlahnya meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Beberapa faktor diduga turut memengaruhi meningkatnya kasus campak, di antaranya kelengkapan dan pemerataan imunisasi campak, kondisi cuaca, serta tingginya potensi penularan virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau pilek.
Diskes juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri apabila terdapat anggota keluarga yang diduga terinfeksi campak. Langkah ini dinilai penting untuk memutus rantai penularan di lingkungan rumah maupun sekolah.
“Jika satu kasus tidak segera tertangani, berpotensi menularkan ke orang di sekitarnya, baik di rumah maupun di sekolah,” ujar Chris.
Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala awal campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta munculnya ruam atau bercak kemerahan pada kulit. Jika gejala tersebut muncul, warga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dalam upaya pengendalian, Pemerintah Kabupaten Pesawaran telah mengaktifkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) agar setiap kasus yang ditemukan di fasilitas kesehatan dapat segera dilaporkan.
“Melalui sistem ini, pemantauan perkembangan kasus menjadi lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat dilakukan secara terkoordinasi,” katanya.
Selain itu, Diskes juga mengingatkan pentingnya imunisasi campak-rubella (MR) sebagai langkah pencegahan. Vaksin ini diberikan kepada anak usia 9–12 bulan dan dilanjutkan dengan booster pada usia 5–6 tahun.
Chris menambahkan, hingga saat ini belum ada obat khusus yang dapat menghilangkan virus campak. Penanganan yang dilakukan umumnya bertujuan meredakan gejala, seperti dengan istirahat cukup dan pemberian obat penurun demam.
Antibiotik baru diberikan jika muncul komplikasi akibat infeksi bakteri lain, misalnya infeksi telinga atau pneumonia.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan segera memeriksakan diri ke puskesmas apabila menemukan gejala campak pada anak maupun anggota keluarga lainnya.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)
| Itera Tetapkan Tiga Calon Rektor Periode 2026–2030, Diisi Guru Besar ITB dan IPB |
|
|---|
| Waspada Efek Domino, Pemprov Lampung Fokus Cegah Lonjakan Konsumsi Energi Subsidi |
|
|---|
| Nenek 95 Tahun Jadi Calhaj Tertua asal Lampung |
|
|---|
| 8 Jemaah Lampung Gagal Berangkat Haji, Keluarga Ditawari Pilih Tunggu atau Tarik Dana |
|
|---|
| Libatkan Kader hingga Tingkat Kelurahan, Bandar Lampung Perkuat Upaya Putus Rantai TBC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Kabid-P2P-Chris-Manurung.jpg)