Berita Lampung
Cium Kaki Yesus di Kayu Salib Jadi Momen Pengingat Penebusan Dosa Manusia
Prosesi mencium kaki Yesus di Kayu Salib, menjadi momen pengingat penebusan dosa manusia.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Prosesi mencium kaki Yesus di Kayu Salib, menjadi momen pengingat penebusan dosa manusia.
Peringatan Jumat Agung 2026 yang diselenggarakan di Katedral Kristus Raja Tanjungkarang kali ini membawa pesan mendalam bagi umat Katolik.
Dengan tema Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup, perayaan ini tidak hanya memfokuskan perhatian pada kehidupan sosial dan alam, tetapi juga mengajak umat untuk merenungkan makna pengorbanan Kristus yang luar biasa.
Dengan warna tema liturgi berwarna merah, umat mendominasi menggunakan pakaian serba merah.
Perayaan Liturgi Jumat Agung adalah momen khidmat mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus, ditandai dengan warna liturgi merah.
Ibadat berlangsung hening tanpa Perayaan Ekaristi (Misa), difokuskan pada tiga bagian utama: Liturgi Sabda (kisah sengsara), Penghormatan Salib, dan Ritus Komuni. Umat juga mengadakan Jalan Salib.
Tiga Bagian Utama Liturgi Jumat Agung:
Liturgi Sabda: Pembacaan Kitab Suci mengenai kisah sengsara Yesus, termasuk nubuat dan Passion (biasanya dari Injil Yohanes).
Penghormatan Salib: Prosesi penyembahan salib sebagai simbol pengorbanan Yesus, di mana umat memberikan penghormatan khusus.
Ritus Komuni: Pembagian komuni yang berasal dari Hosti yang dikonsekrasi pada misa Kamis Putih, menandai kebersatuan dengan penderitaan Kristus
Saat Jumat Agung yang menjadi prosesi ikonik ialah mencium kaki salib tuhan Yesus.
Reverendus Dominus (RD) JB Sujanto, Pastor Kepala Paroki Kristus Raja, mengungkapkan bahwa perayaan Jumat Agung tahun ini memberikan kesempatan bagi umat Katolik untuk merefleksikan pengorbanan Yesus di kayu salib.
"Jumat Agung adalah momen penting dalam perjalanan iman umat Katolik. Ini adalah hari ketika kita merenungkan penderitaan Kristus, yang rela mengorbankan diri demi keselamatan umat manusia. Pengorbanan-Nya mengajarkan kita untuk meneladani kasih yang tidak mengenal batas," kata RD Sujanto, Jumat (3/4/2026).
Namun, tahun ini, pesan dari Jumat Agung membawa dimensi yang lebih luas, yakni panggilan untuk menjaga kehidupan dan lingkungan.
"Melalui perayaan ini, kita diajak untuk lebih menghargai kehidupan yang diberikan Tuhan, sekaligus merawat bumi sebagai rumah bersama. Setiap umat Katolik diingatkan akan pentingnya merawat sesama dan alam dengan penuh kasih, sebagaimana Yesus merawat kita dengan pengorbanan-Nya," tambahnya.
Dalam konteks ini, tema Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup menjadi relevan dengan kondisi dunia saat ini, yang dilanda kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial.
| Pemilik Toko Emas JSR Diperiksa, Polda Lampung Dalami Aliran Hasil Tambang Emas Ilegal |
|
|---|
| KKKS SD Bandar Lampung Sambut Positif Wacana Kantin Sekolah Kelola MBG |
|
|---|
| Curi Uang Rp 86 Juta, Remaja dari Pringsewu Lampung Foya-foya Beli Narkoba dan Motor |
|
|---|
| Kesaksian Korban Saat Remaja Pelaku Curanmor Tewas Diamuk Massa di Jati Agung |
|
|---|
| Resepsi Pernikahan Diserang Tawon Vespa, Tamu hingga Pemain Organ Tunggal Kalang Kabut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Jumat-Agung-Paskah-Bandar-Lampung.jpg)