Harga Plastik Naik
Meroketnya Harga Plastik Bisa Picu Krisis Nasional
Konflik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama berkurangnya pasokan bijih plastik di kawasan Asia Pasifik, mulai dari Indonesia, Singapura.
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Meroketnya harga plastik akibat terhambatnya pasokan bahan baku nafta dari Timur Tengah disebut dapat mengancam rantai distribusi bahan pokok, bahkan memicu krisis nasional.
Hal itu disampaikan Sukardi Soegiarto, Direktur PT Trigunung Padutama, sebuah perusahaan plastik konverter di Bandar Lampung.
Sukardi menuturkan, konflik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama berkurangnya pasokan bijih plastik di kawasan Asia Pasifik, mulai dari Indonesia, Singapura, hingga Vietnam.
Kondisi ini memicu perebutan bahan baku di tingkat pedagang besar dan produsen global.
Menurut Sukardi, kondisi ini telah menempatkan pengusaha pada posisi terjepit antara lonjakan harga dan keterbatasan stok.
"Sekarang harga biji plastik murni telah meroket hingga 120 persen akibat terhentinya kontrak pasokan dari produsen besar," Ujar Sukardi saat diwawancarai, Selasa (7/6/2026).
Ia menuturkan, kenaikan ini terjadi sejak awal perang di akhir Februari lalu, yang diikuti dengan pernyataan force majeure (keadaan memaksa) oleh produsen bijih plastik pada awal Maret.
Akibatnya, kontrak kuota dipotong hingga 50 persen, bahkan pada minggu-minggu berikutnya pabrik tidak mendapatkan kuota sama sekali.
Sukardi memaparkan, plastik sendiri terdiri dari banyak jenis, mulai KW 3 sampai bahan murni.
"Untuk yang KW 3 kenaikannya antara 15 sampai 30 persen, untuk bahan murni kenaikannya sampai 120 persen. Sebelumnya kita jual di harga Rp 27.000 sekarang itu di Rp 52.000 sampai Rp 55.000 per kilonya," kata dia.
Bahkan, lanjutnya, saat ini produsen tidak memberikan kontrak sama sekali, sehingga pihaknya harus membeli dengan harga yang lebih tinggi.
Ia pun menyebut bahwa dampak dari kelangkaan bahan baku plastik ini sebenarnya tidak hanya menyasar pelaku UMKM, melainkan meluas ke berbagai sektor vital.
Pasalnya, plastik merupakan komponen utama dalam industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), minyak goreng, gula, mi instan, dan berbagai produk lainnya.
"Dampaknya bukan hanya besar, bisa krisis. Bayangkan jika plastik di pasaran tidak ada, mungkin produk seperti mi instan, minyak goreng dan yang lainnya tidak bisa melakukan distribusi dengan baik," ujar Sukardi.
Ia menekankan bahwa ketiadaan kemasan akan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok secara masif.
Ia pun menyebut bahwa saat ini telah memaksa industri menurunkan kapasitas produksi.
"Bahkan sudah banyak pabrik di Jawa memilih tutup, ada juga yang memperpanjang libur Lebaran hingga satu bulan karena kesulitan bahan baku," imbuhnya.
Untuk menyiasati situasi ini di tingkat konsumen dan UMKM, Sukardi menyebut pihaknya juag telah melakukan evaluasi teknis pada kemasan guna menekan biaya produksi agar tidak terlalu membebani harga jual.
Hal itu dilakukan dengan menurunkan ketebalan produk sesuai permintaan konsumen.
"Misalnya contoh plastik yang dipakai ketebalannya 40 mikron, mungkin dia harus dievaluasi bisa menggunakan 30 mikron atau 25 mikron. Jadi kenaikan harga yang 100 ini diimbangi dengan evaluasi ukuran, sehingga jumlah lembarnya dalam satu kilonya lebih banyak. Jadi biayanya bisa ditekan," jelasnya.
Selain efisiensi ukuran, ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak menggunakan plastik, seperti menghindari penggunaan plastik berlapis jika kualitas plastik yang digunakan sudah cukup kuat.
Sebagai solusi jangka pendek, Sukardi meminta pemerintah segera melakukan langkah luar biasa (eksperimen kebijakan) layaknya penanganan alat kesehatan saat pandemi Covid-19.
"Menurut saya yang paling baik adalah pemerintah harus gerak cepat. Mungkin harus ada peraturan presiden yang membebaskan bea masuk (impor) terkait dengan plastik," tegasnya.
Selain relaksasi pajak, ia mengusulkan adanya jalur logistik khusus untuk impor bahan baku plastik.
"Kedua, mungkin diperlukan jalur khusus terkait dengan impor, karena jika ini tidak segera, dampaknya akan luas, karena segalanya sekarang sudah menggunakan plastik," ujar Sukardi.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sejauh ini perusahaan mereka masih mampu bertahan dengan kondisi yang ada.
Bahkan, pihaknya terbuka bagi pelaku UMKM yang ingin berkonsultasi mencari solusi terkait harga plastik yang meroket.
"Kami dari PT Trigunung Padutama siap berdiskusi dengan pelaku UMKM untuk mencari solusi. Silahkan hubungi kontak 0811-7970-030 atau 0853-6634-1525," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)
| Cegah Penyalahgunaan, Polda Lampung Periksa Ketat Senpi Personel |
|
|---|
| WFH di Lampung Belum Tentu Hemat, Disiplin dan Karakter Kerja Jadi Penentu |
|
|---|
| Klaim Didukung 9 Kabupaten, Gunawan Raka Siap Bangun PASI Lampung |
|
|---|
| Pencarian Korban Terseret Arus Sungai di Pringsewu Diperluas hingga Pesawaran |
|
|---|
| Terekam CCTV, Kelakuan Pria di Metro Lampung Asusila Anak Usia 14 Tahun di Warung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Direktur-PT-Trigunung-Padutama-Sukardi-Soegiarto-harga-plastik-naik.jpg)