Berita Lampung
2 Anak Harimau Sumatera Diberi Nama Puspa dan Muli Sikop, Ini Artinya
Nama tersebut diberikan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan sang istri Purnama Wulan Sari.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dua anak Harimau Sumatera yang lahir di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung diberi nama Puspa dan Muli Sikop.
Nama tersebut diberikan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan sang istri Purnama Wulan Sari.
Adapun arti Puspa yakni bunga yang melambangkan keindahan dan kecantikan.
Sementara Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang memiliki arti gadis cantik.
Dua anak harimau betina tersebut lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan Harimau Sumatera Kyai Batua dan Sinta.
Baca Juga: Kabar Gembira, 2 Bayi Harimau Sumatera Lahir di Taman Wisata Lembah Hijau
Kelahiran Puspa dan Muli Sikop menjadi sejarah baru karena merupakan keberhasilan pertama kelahiran Harimau Sumatera melalui program konservasi ex-situ di Provinsi Lampung.
Gubernur Mirza mengaku bersyukur atas lahirnya dua anak Harimau Sumatera tersebut.
Menurutnya, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa upaya pelestarian satwa langka masih memberikan harapan besar bagi kelestarian satwa liar Indonesia.
"Alhamdulillah, Lampung mendapatkan kabar bahagia dengan lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang sehat. Ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan bersama mampu memberikan harapan bagi kelestarian satwa langka Indonesia," kata Mirza.
Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, dan pihak Taman Satwa Lembah Hijau.
Dalam kesempatan itu, Mirza juga menyoroti kisah kedua induk harimau yang sebelumnya menjadi korban jerat liar di habitat asalnya.
Kyai Batua diselamatkan pada 2019 setelah terkena jerat di Lampung Barat.
Akibat luka parah, kaki kanan depannya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya.
Sedangkan Sinta mengalami kejadian serupa setelah terkena jerat di Bengkulu pada akhir 2024.
Luka berat membuat kaki kanan belakangnya juga harus diamputasi sebelum akhirnya dirawat di Lembah Hijau.
"Kisah Kyai Batua dan Sinta menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ancaman jerat liar masih nyata dan membahayakan satwa dilindungi. Karena itu, menjaga hutan dan satwa liar harus menjadi tanggung jawab bersama," ujarnya.
Mirza mengatakan lahirnya dua anak harimau dari induk yang sama-sama bertahan hidup dengan tiga kaki menjadi simbol keberhasilan konservasi satwa liar.
Menurutnya, hal itu juga menunjukkan ketulusan para perawat satwa dalam menjaga satwa langka tetap hidup dan berkembang biak.
"Ini bukan hanya tentang kelahiran satwa, tetapi juga tentang harapan dan semangat untuk terus menjaga kekayaan alam Indonesia," ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini agar generasi muda memiliki rasa cinta terhadap alam dan satwa liar.
Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko mengatakan ancaman terhadap Harimau Sumatera hingga kini masih sangat tinggi, terutama akibat pemasangan jerat di kawasan hutan.
Menurutnya, kedua induk harimau yang kini dirawat di Lembah Hijau merupakan satwa hasil penyelamatan setelah terkena jerat, baik yang dipasang pemburu maupun jerat untuk babi hutan.
"Jerat tidak mengenal jenis satwa. Walaupun tujuannya untuk menangkap babi hutan, jika yang terkena harimau maka dampaknya tetap sama dan sangat membahayakan," terangnya.
Satyawan menegaskan, Lampung masih menjadi salah satu habitat penting bagi Harimau Sumatera sehingga diperlukan dukungan semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi memasang jerat liar di kawasan hutan.
Ia mengatakan, keberhasilan konservasi Harimau Sumatera nantinya dapat dilihat dari pertumbuhan populasi di habitat alaminya.
Namun demikian, upaya pelestarian juga harus memperhatikan keseimbangan ekosistem agar tidak memicu konflik antara manusia dan satwa liar.
"Harimau harus tetap bisa berkembang biak dengan baik di habitat yang masih utuh dan minim aktivitas manusia, sehingga keseimbangan antara kelestarian satwa dan keselamatan masyarakat tetap terjaga," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza juga berinteraksi dan berfoto bersama Gajah Sumatera bernama Mega dan anaknya, Rawana.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)
| Gubernur Mirza Perkenalkan 2 Anak Harimau Sumatera di Lembah Hijau, Puspa dan Muli Sikop |
|
|---|
| Warga Kampung Wates Lampung Tengah Tinggal di Rumah Lapuk yang Ditopang Tiang Bambu |
|
|---|
| Upaya Kekasih Selamatkan D yang Ingin Akhiri Hidup Gagal, Korban Ditemukan Meninggal |
|
|---|
| Detik-detik Polisi di Lampung Selamatkan Bocah Tenggelam, Spontan Nyemplung ke Rawa |
|
|---|
| Polsek Talang Padang Gerebek Rumah Diduga Tempat Pesta Miras dan Prostitusi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/anak-harimau-sumatera-diberi-nama-Puspa-dan-Muli-Sikop.jpg)