Berita Lampung
Warga Kampung Wates Lampung Tengah Tinggal di Rumah Lapuk yang Ditopang Tiang Bambu
Sebuah gubuk miring berdinding gedek, anyaman bambu, yang telah lapuk berdiri sunyi di tengah rimbunnya pohon
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: taryono
Ringkasan Berita:
- Gubuk miring berdinding gedek lapuk di Kampung Wates, Lampung Tengah, menopang diri dengan bambu darurat.
- Rumah nyaris roboh, berisiko saat hujan dan angin kencang; barang berserakan gambarkan kemiskinan.
- Dihuni suami sopir tembak berpenghasilan tidak menentu dan istri pekerja serabutan.
Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Sebuah gubuk miring berdinding gedek, anyaman bambu, yang telah lapuk berdiri sunyi di tengah rimbunnya pohon kelapa di Kampung Wates, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah.
Rumah itu tidak sekadar tua; ia seolah sedang berjuang melawan gravitasi.
Bangunan tersebut tampak miring signifikan ke arah kanan.
Untuk mencegah ambruk, pemiliknya terpaksa menopangnya dengan beberapa batang bambu panjang sebagai tiang penyangga darurat di sisi luar.
Penyangga ala kadarnya itulah satu-satunya benteng agar rumah tidak roboh saat diterjang angin kencang atau hujan deras.
Dari pantauan di lokasi, kondisi rumah ini sangat memprihatinkan dan membahayakan keselamatan penghuninya.
Meski kabel listrik dan meteran kecil terpasang di dinding depan menunjukkan akses energi dasar, barang-barang rumah tangga yang berserakan di tanah menggambarkan potret kemiskinan yang nyata.
“Kondisi rumah seperti ini sangat berisiko, terutama saat musim penghujan dengan angin kencang. Penyangga bambu di samping rumah sewaktu-waktu bisa patah jika tidak segera mendapatkan renovasi total,” ujar Kepala Kampung Wates, Deni Ariyanto, Jumat (22/5/2026).
Deni menjelaskan, rumah nyaris roboh ini menjadi ruang hidup bagi sepasang suami istri yang terjebak dalam ketidakpastian ekonomi.
Sang suami bekerja sebagai sopir tembak yang jarang pulang, kadang seminggu hingga setengah bulan sekali, dengan penghasilan tidak menentu.
Sementara sang istri hanya ibu rumah tangga yang sesekali mengambil pekerjaan serabutan, seperti menjadi buruh cuci pakaian untuk tetangga.
“Rumah warga kami ini memang sangat memprihatinkan. Pemiliknya termasuk warga tidak mampu,” tambah Deni, saat meninjau lokasi di tengah cuaca mendung.
Menurut Deni, gubuk miring ini hanyalah puncak gunung es dari persoalan kemiskinan dan ketimpangan hunian layak di Kampung Wates.
Berdasarkan data yang dimilikinya, sekitar 40 rumah di kampung tersebut memiliki kondisi serupa dan dihuni oleh warga di bawah garis kemiskinan.
Sebagai aparatur kampung, Deni mengaku tidak tinggal diam. Berbagai langkah birokrasi telah ditempuh untuk menyelamatkan puluhan kepala keluarga.
| Upaya Kekasih Selamatkan D yang Ingin Akhiri Hidup Gagal, Korban Ditemukan Meninggal |
|
|---|
| Detik-detik Polisi di Lampung Selamatkan Bocah Tenggelam, Spontan Nyemplung ke Rawa |
|
|---|
| Polsek Talang Padang Gerebek Rumah Diduga Tempat Pesta Miras dan Prostitusi |
|
|---|
| Modus Kakek di Bandar Lampung Rudapaksa Bocah 7 Tahun, Korban Diimingi Uang |
|
|---|
| Perempuan Asal Kediri Akhiri Hidup di Kamar Kos, Sempat Video Call Pacar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/KONDISI-rumah-warga-di-Kampung-Wates.jpg)