Berita Lampung

2 Anak Harimau Sumatera Terus Dipantau, Divaksin hingga Dipasang Microchip

Pihak Taman Satwa Lembah Hijau menyebut kedua anak Harimau tersebut terus dilakukan pemantauan secara intensif.

Tayang:
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Dokumentasi
DIPANTAU - Dua anak Harimau Sumatera yang lahir di Taman Satwa Lembah Hijau. 2 anak Harimau Sumatera terus dipantau, divaksin hingga dipasang microchip. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dua anak Harimau Sumatera betina yang lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung kini mulai melewati fase rawan. 

Dua anak predator bernama Puspa dan Muli Sikop tersebut terpantau tumbuh sangat lincah, aktif bermain, hingga hobi bergulingan di dalam kandang asuhan.

Pihak Taman Satwa Lembah Hijau menyebut kedua anak Harimau tersebut terus dilakukan pemantauan secara intensif lantaran terlahir di luar habitat aslinya.

Terlebih, kedua anak pemangsa puncak ini lahir dari sepasang induk (Kyai Batua dan Sinta) penyintas cacat akibat kaki diamputasi setelah terkena jerat liar di hutan.

Komisaris Taman Wisata Lembah Hijau, Irwan Nasution, memaparkan bahwa salah satu kunci kebugaran kedua anak harimau ini adalah kondisi kesehatannya yang terus dipantau dalam kebersamaan penuh dengan induknya.

Baca Juga: 2 Anak Harimau Sumatera Diberi Nama Puspa dan Muli Sikop, Ini Artinya

Saat ini, manajemen secara bertahap mulai memperkenalkan ruang terbuka kepada anak bayi harimau tersebut.

"Utamanya kita keluarkan ke area luar itu secara bertahap. Mungkin untuk tahap awal dari jam 08.00 sampai jam 10.00 pagi dulu. Nanti seiring bertambahnya tahapan umur mereka, durasinya bisa ditambah dari jam 08.00 sampai jam 12.00 siang," ungkap Irwan Nasution, Jumat (22/6/2026).

Skenario pembagian jam ini bertujuan psikologis anak Harimau Sumatera ini tidak kaget dengan lingkungan baru, sekaligus memastikan mereka mendapat asupan vitamin D yang cukup dari alam.

"Kita jaga betul agar mereka tidak kaget. Dan yang paling penting, lewat cara dijemur itu mereka mendapatkan pasokan sinar matahari pagi yang sangat bagus untuk kesehatan," tuturnya.

Irwan juga menegaskan bahwa zona asuh Harimau saat ini masih diberlakukan aturan area terbatas demi menjaga higienitas dan sterilisasi total dari ancaman penyakit luar.

"Karena umurnya saat ini masih masuk fase sangat rawan, area di dalam sangat kami batasi. Hanya keeper (perawat satwa) dan tim medis saja yang boleh masuk ke dalam, di luar itu hanya itu saja yang bisa masuk," tegas Irwan.

Dokter Hewan Taman Satwa Lembah Hijau, drh. Rasyid Ibransyah, memambahkan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan klinis terhadap kedua anak Harimau Puspa dan Muli Sikop demi membentengi imunitasnya.

Tepat pada tanggal 12 Mei lalu, tim medis telah menyuntikkan vaksinasi virus pertama serta melakukan pemeriksaan fisik atau morfometri secara mendetail untuk mencatat grafik pertumbuhan biologisnya.

"Kami lakukan pengukuran morfometri secara menyeluruh. Mulai dari tinggi badan, panjang badan, panjang kaki, lebar telapak, hingga lebar kepala. Datanya semua ada dicatat," jelas drh. Rasyid.

Pada momen pemeriksaan itu pula, tim medis menanamkan teknologi identitas resmi berupa microchip ke dalam tubuh masing-masing anak harimau.

"Kami pasang ID microchip pada tiap individu. Fungsinya persis seperti KTP kalau di manusia. Jadi ke mana pun satwa ini pergi atau dipindahkan nantinya, nomor ID di dalam tubuhnya itu yang akan dipakai," imbuhnya.

Mengenai asupan makanan, drh. Rasyid menyebutkan bahwa pihak manajemen menerapkan metode mother-rearing atau membiarkan kedua anak harimau menyusu secara alami tanpa intervensi dot buatan.

"Mereka masih sama induknya karena kita menerapkan sistem ASI eksklusif sampai nanti bayinya bosan menyusu sendiri. Kalau merujuk literatur di alam liar, proses menyusu ini bisa sampai umur 2 tahun," kata drh. Rasyid.

Namun, drh. Rasyid memprediksi proses menyusu di penangkaran bisa selesai lebih cepat seiring dengan pengenalan pakan padat. 

"Biasanya di usia 1,5 bulan mereka sudah mulai mengenali dan bisa makan daging sedikit-sedikit. Nah, semakin banyak porsi daging yang mereka makan nanti, otomatis frekuensi menyusunya akan berkurang dengan sendirinya," tambahnya.

Lebih lanjut, drh. Rasyid memastikan bahwa tingkah polah kedua anak Harimau yang aktif menjadi indikator kuat bahwa kondisi psikologis mereka sangat sehat dan bebas dari stres.

"Indikator perilaku atau psikologisnya itu sebenarnya mirip seperti kita manusia. Kalau mereka aktif, senang lompat sana-sini, main, dan guling-gulingan, artinya mereka tidak stres," kata drh. Rasyid.

Terkait masa depan jangka panjang Puspa dan Muli Sikop, pihak Lembah Hijau menyebut seluruh data rekam medis serta pemasangan mikrokontroler telah dilaporkan secara resmi kepada pihak Seksi Wilayah III BKSDA. 

Pihak Lembah Hijau menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi mendukung program konservasi pemerintah.

"Harapan besar kami, karena ini adalah kelahiran pertama yang sangat bersejarah di Lembah Hijau, ke depan kedua bayi ini bisa tetap dikembangbiakkan di sini. Namun, sebagai lembaga konservasi, kami tentu menyerahkan keputusan ini dan siap mengikuti apa pun arahan resmi selanjutnya dari Kementerian Kehutanan," pungkas Irwan.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved