Berita Lampung

Banting Setir, Penjual Baju di Bandar Lampung Pilih Dagang Es Cendol, Favorit Mahasiswa

Cendol Ketan Khas Padang di area parkir Universitas Lampung menjadi salah satu stan yang paling mencuri perhatian karena dipadati pembeli.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Bintang Puji Anggraini
ES CENDOL - Uni Pipit saat ditemui di stan Cendol Ketan Khas Padang miliknya di area Parkir Universitas Lampung, Sabtu (6/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Marsusi Fitrina beralih dari bisnis pakaian ke usaha kuliner Cendol Ketan Khas Padang akibat penurunan omzet.
  • Usaha cendol tersebut menggunakan resep unik berbahan tepung ketan dan sagu dengan proses masak dua setengah jam.
  • Stan cendol di area parkir Universitas Lampung menjadi favorit mahasiswa dan mampu menjual hingga 100 cup per hari.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Suasana cerah menyelimuti area parkir Universitas Lampung (Unila) yang berlokasi di Jalan Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. 1, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Sabtu (6/6/2026) pagi. 

Baca juga: Resep Takjil Es Cendol Tepung Beras

Deretan stan makanan dan minuman tampak memadati kawasan tersebut, di antara banyaknya stan yang berjejer, Cendol Ketan Khas Padang menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian karena dipadati pembeli.

Marsusi Fitrina atau yang akrab disapa Uni Pipit bercerita awal mula dirinya berjualan es cendol karena penurunan omzet usaha pakaian miliknya di Bambu Kuning.

“Saya dari dulu berjualan baju di Bambu Kuning, karena omzet jualan baju makin menurun, akhirnya saya putar otak buat buka usaha lain,” ungkapnya saat ditemui di stan miliknya pada Sabtu (6/6/2026).

Kondisi pasar yang lesu membuat omzet bisnis pakaiannya menurun drastis. Situasi tersebut mendorongnya untuk mencari alternatif usaha lain.

Saat kebingungan mencari ide usaha, ia terinspirasi untuk berjualan es cendol dari saudaranya di Jakarta.

"Waktu itu saudara saya buka usaha cendol di Jakarta. Saya coba rasanya enak, lalu kepikiran kenapa tidak mencoba jualan juga di Lampung," kenangnya.

Saat menghadiri sebuah acara keluarga, ia mendapat kesempatan mencicipi minuman tersebut dan langsung tertarik. Saat itu, Pipit masih aktif menjalankan bisnis pakaian.

“Setelah coba, saya akhirnya mulai buat sendiri di rumah, coba-coba resep yang saya ketahui,” jelasnya.

Menurut Pipit, cendol yang dibuatnya memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan cendol Padang lainnya. 

Jika kebanyakan cendol menggunakan tepung beras sebagai bahan utama, cendol racikannya dibuat dari campuran tepung ketan dan tepung sagu.

"Kalau cendol pada umumnya banyak yang pakai tepung beras. Kalau punya saya dari tepung ketan dan tepung sagu, jadi teksturnya lebih kenyal dan berbeda," ujar Pipit.

Tak hanya berbeda dari segi bahan, proses pembuatannya pun membutuhkan waktu lebih lama. 

Pipit mengungkapkan bahwa adonan harus dimasak hingga sekitar dua setengah jam agar menghasilkan tekstur yang sempurna.

"Kalau yang lain mungkin sekitar satu jam sudah selesai. Kalau saya bisa sampai dua setengah jam,  gulanya juga lebih kental dan prosesnya lebih lama," katanya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved