Berita Terkini Nasional

Profil Hoho Alkaf, Kades Purwasaba yang Diteror OTK dengan Bom Molotov

Profil Hoho Alkaf, kades di Desa Purwasaba Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, yang diteror orang tak dikenal (OTK).

Penulis: Reny Fitriani | Editor: Reny Fitriani
TribunJateng/Dokumentasi pribadi Hoho Alkaf
PROFIL - Profil Hoho Alkaf, kades di Desa Purwasaba Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, yang diteror orang tak dikenal (OTK). 

Tribunlampung.co.id, BanjarnegaraProfil Hoho Alkaf, kades di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah yang diteror orang tak dikenal (OTK).

Peristiwa pelemparan bom molotov terjadi pada Kamis (23/4/2026) sekitar pukul 04.10 subuh. 

Mobil Honda Civic Turbo milik Hoho terbakar, setelah dilempar bom molotov oleh orang tak dikenal.

Atas kejadian tersebut kerugian diperkirakan mencapai Rp 400 juta.

Ternyata bukan kali ini saja Kades Hoho muncul di pemberitaan. Sebelumnya, ia viral karena curhat di media sosial menjadi korban pengeroyokan.

Baca Juga: Kades Hoho Diteror OTK, Mobil Mewah Dilempar Bom Molotov, Beraksi Saat Sepi

Lantas, siapa Kades Hoho?

Dikutip dari Skripsi Strategi Pemenangan Calon Kepala Desa Bertato Pada Pilkades Tahun 2019 yang ditulis mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Al Hafizs Munandar, diketahui Kades Hoho lahir Banjarnegara, 11 Juni 1983.

Ia kini telah berumur 43 tahun.

Kades Hoho memiliki nama lengkap Welas Yuni Nugroho.

Nama itu diberikan oleh kedua orang tuanya, Hartati dan Siswoyo Siswoharsono.

Anak bungsu dari empat bersaudara ini berasal dari keluarga terpandang.

Sang ayah merupakan anggota DPRD Banjarnegara yang menjabat empat kali periode.

Siswoyo juga mantan Kepala Desa Purwasaba periode 1990-1998.

Di usia sekolah, Hoho dikenal sebagai anak 'nakal'.

Meski demikian ia berhasil menyelesaikan pendidikannya, bahkan sampai perguruan tinggi.

Ia mengambil jurusan S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Untuk S2, ia mengambil jurusan yang sama.

Berikut riwayat pendidikannya:

SD di Desa Purwasaba

SMP di Desa Purwasaba

SMA 1 Purwonegoro

S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang

S2 Magister Hukum Universitas Jenderal Soedirman

Ikut Jejak sang Ayah

Hoho kemudian melanjutkan perjuangan sang ayah menjadi kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ia merupakan calon incumbent yang maju lagi di Pilkades 31 Juli Tahun 2019 yang lalu.

Kala itu dia bertarung dengan dua calon lain, bernama Bondan Apriyanto dan Huru Purwanto.

Pada akhirnya, Hoho menang dengan memperoleh 1.899 suara sah.

Selama memimpin desa, Hoho dikenal nyentrik.

Selain karena memiliki tato di hampir seluruh tubuhnya, ia juga berani membuat gebrakan di desanya, khususnya di sektor pariwisata.

Kades Hoho juga aktif di media sosial.

Ia memiliki akun Instagram @hoho_alkaff dengan jumlah pengikut lebih dari 894.000.

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kabar kurang mengenakan dari kepala desa nyentrik dari Desa Purwasaba atau yang dikenal dengan nama Kades Hoho.

Dalam video singkat yang beredar di media sosial, nampak Kades Hoho dengan pakaian dinas yang terkoyak keluar dari kantor desa dengan pengawalan polisi.

Peristiwa itu rupanya rentetan dari kericuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa yang digelar ratusan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (11/3/2026). 

Demonstrasi yang awalnya berlangsung sebagai forum penyampaian aspirasi tersebut berubah menjadi insiden kekerasan.

Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang dikenal dengan nama Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh massa.

Peristiwa itu dipicu oleh tuntutan sejumlah peserta aksi yang meminta agar hasil penjaringan perangkat desa dibatalkan dan diulang. 

Ketegangan semakin meningkat ketika pemerintah desa menolak permintaan tersebut karena proses seleksi dinilai telah dilakukan sesuai aturan yang berlaku. 

Situasi yang memanas akhirnya berujung pada aksi penyerangan terhadap kepala desa saat ia hendak meninggalkan lokasi setelah audiensi dengan massa.

Hoho Alkaf mengaku mengalami serangan fisik dari berbagai arah hingga menyebabkan atribut kedinasannya rusak dan dirinya mengalami luka. 

Insiden tersebut bahkan membuat kacamata yang dikenakannya pecah akibat pukulan dari massa.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Instagram @hoho_alkaff, Hoho menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya saat hendak keluar dari aula balai desa.

"Waktu saya baru keluar dari pintu aula, sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan," ungkap Hoho, dikutip Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa dirinya belum sempat mendapatkan pengawalan aparat ketika serangan tersebut terjadi. 

Massa yang berada di sekitar lokasi langsung memukul dari berbagai arah.

"Saya hendak keluar dari balai desa, tapi langsung diserang dan dikeroyok. Kacamata saya pecah dan baju saya robek," ungkap Hoho dalam unggahan yang kemudian viral di media sosial.

Akibat kejadian itu, kacamata yang dikenakannya pecah, pakaian dinasnya robek, serta atribut kepala desa yang melekat pada seragamnya terlepas karena ditarik-tarik oleh massa.

"Logo atribut saya juga pada rogol. Papan nama jatuh karena ketarik-ketarik," katanya.

Hoho juga menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

Menurutnya, rekaman tersebut memperlihatkan kondisi saat dirinya sudah berada dalam pengamanan aparat.

"Di video itu memang suruh keluar semua, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dan ada yang bilang saya tidak dikeroyok. Memang di video itu saya sudah diamankan karena sudah di belakang mobil," jelasnya.

Kericuhan Dipicu Hasil Seleksi Perangkat Desa

Hoho menyebut aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam proses seleksi perangkat desa. 

Massa menuntut agar proses penjaringan perangkat desa yang sudah mencapai tahap pengumuman hasil dibatalkan dan diulang kembali.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh pemerintah desa karena seluruh tahapan seleksi dinilai telah dilaksanakan sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku.

"Saya minta keadilan, saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan, pekerjaan saya sebaik-baiknya, begitupula dengan panitia. Tetapi saya dipaksa mengulang, karena anggota dari LSM itu nilainya di bawah, tapi maunya diulang, kita kiblatnya regulasi tapi mereka tetap tidak mau tahu," katanya.

Hoho menegaskan bahwa hasil seleksi perangkat desa tidak mungkin dibatalkan hanya karena adanya tekanan dari pihak tertentu.

Proses penjaringan perangkat desa, menurutnya, telah dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku sehingga pemerintah desa tidak memiliki alasan untuk membatalkan hasil seleksi.

Kades Hoho Minta Perlindungan Hukum

Selain mengungkapkan kronologi kejadian, Hoho juga menyoroti respons aparat keamanan di lokasi yang dinilai kurang sigap dalam memberikan perlindungan saat kericuhan terjadi.

Ia mengaku kecewa dengan situasi tersebut dan berencana mencari keadilan melalui jalur hukum hingga melaporkan peristiwa itu ke Propam Mabes Polri.

"Saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya. Saya minta keadilan kepada Camat, Bupati, hingga Propam Mabes Polri," pungkasnya.

Insiden ini kini menjadi perhatian masyarakat Banjarnegara, terlebih sosok Hoho Alkaf dikenal cukup aktif di media sosial dan memiliki pengikut yang cukup besar. 

Hingga saat ini, proses hukum terkait dugaan pengeroyokan terhadap kepala desa tersebut masih menjadi sorotan publik. 

Mobil Kades Hoho dibom pada Kamis (23/4/2026) sekitar pukul 04.10 subuh. Mobil Honda Civic Turbo milikn Hoho terbakar, setelah dilempar bom molotov oleh orang tak dikenal.  

Api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebagian badan kendaraan.  

Tak hanya itu, bagian atap garasi rumah juga ikut terdampak.

Hoho bersama istrinya sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sebelum akhirnya warga berdatangan seusai subuh.

Akibat kejadian tersebut, mobil yang dibeli sekitar tahun 2020 dengan harga lebih dari Rp 400 juta itu rusak parah.

"Untuk perbaikan kami sendiri belum tahu harus seperti apa karena kondisinya terbakar seperti itu.  Bagian dalamnya juga ikut terbakar," ujar Hoho kepada Tribun Jateng, Jumat (24/4/2026).

Hoho menjelaskan, secara tampilan luar kendaraan kemungkinan masih bisa diperbaiki melalui pengecatan ulang.

Namun, seluruh bagian interior dipastikan harus diganti.

"Kalau dicat mungkin bisa terlihat seperti semula, tapi dalem-dalemannya harus beli semua,” kata Hoho.  

“Jadi rusaknya parah, udah kaya rongsok," sambungnya.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Banjarnegara dan kini tengah dalam proses penyelidikan.  

Bahkan, tim Resmob dari Polda disebut sudah turun langsung ke lokasi kejadian.

"Resmob Polda juga sudah datang ke sini," katanya.

Lebih jauh, Hoho menilai aksi pembakaran tersebut bukanlah kejahatan biasa.

Ia menyebut, kejadian ini sudah sangat serius dan terindikasi sebagai ancaman terhadap keselamatan jiwa dirinya dan keluarga. 

"Saya yakin kejahatan ini sudah frontal sekali, sudah kriminal sekali.  Bahkan saya anggap ini seperti rencana pembunuhan," tegasnya.

Menurut Hoho, pelaku menggunakan bahan bakar jenis tiner untuk memicu kebakaran.

Ia juga menduga adanya penggunaan botol berisi bahan bakar yang dilempar ke arah mobilnya.

Kobaran api itu juga berdampak pada atap garasi.

"Sepertinya mobil sudah disiram tiner dulu, terus dilempar seperti bom molotov. Jadi apinya langsung besar. Soalnya saya lihat itu mobil sudah berlumur tiner," ucap dia.

Menurutnya, mobil yang dibakar berada di garasi rumah sehingga potensi bahaya sangat besar karena api bisa dengan cepat merembet ke seluruh bangunan.

"Ini kan rumah, garasinya di rumah. Mobil memang yang dibakar, tapi tujuannya apa? Dalam hitungan detik api bisa langsung besar.  Itu bisa merembet ke seluruh rumah," ungkapnya.

Saat kejadian, Hoho mengaku sempat melihat pelaku.  

Namun, ia memilih tidak mengejar karena lebih memprioritaskan keselamatan keluarganya yang berada di dalam rumah. 

"Saya lihat orangnya, tapi tidak saya kejar. Saya mikir rumah, istri saya di dalam, anak saya di dalam," katanya.

Ia juga meyakini aksi tersebut tidak dilakukan secara tunggal dan kuat dugaan ada pihak yang menjadi dalang di balik kejadian ini.

Meski demikian, Hoho menegaskan selama ini dirinya tidak memiliki konflik pribadi dengan pihak mana pun, baik LSM, organisasi masyarakat, maupun individu tertentu.

Namun, ia mengakui bersikap tegas terhadap pihak yang dianggap mengganggu jalannya pemerintahan desa.

Terkait dugaan motif, Hoho menyebut, kemungkinan aksi tersebut berkaitan dengan konflik penjaringan perangkat desa yang sebelumnya sempat memanas.

Ia juga menilai, kecil kemungkinan aksi itu dilakukan oleh warga setempat tanpa adanya pihak yang menyuruh.

Pascakejadian, pengamanan sempat dilakukan oleh pihak terkait, namun hanya berlangsung hingga sore hari.

Untuk malam hingga subuh, Hoho bersama warga harus berjaga secara mandiri.

Bahkan, teror diduga belum berhenti.  

Pada malam hari setelah kejadian, Hoho mengaku melihat dua mobil mencurigakan melintas di sekitar rumahnya.

"Saya tantang juga di media sosial, kalau berani datang lagi," katanya.

Hoho bersama warga sempat melakukan pengejaran terhadap dua kendaraan tersebut, yang disebut berwarna putih dan satu lagi diduga Avanza hitam.

"Kami kejar dua mobil itu. Ditanya malah bingung, terus kabur. Saya bilang kalau perlu tangkap saja, tapi mereka lari," ungkapnya.

"Tidak tahu berapa orangnya, tapi ada dua mobil," sambungnya.

Ke depan, Hoho menegaskan akan terus mendorong pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus ini secara profesional. 

CCTV mati

Dalam kesempatan terpisah, Satuan Reskrim Polres Banjarnegara mengusut kasus dugaan pembakaran mobil Kades Hoho.  

Polisi memulai dengan menelusuri benda menyala yang dilempar pelaku ke arah kendaraan korban.

Kasat Reskrim Polres Banjarnegara, AKP Sugeng Tugino, menyampaikan telah menerima laporan terkait dugaan aksi pembakaran mobil milik Hoho, yang diajukan oleh istri kades.

Ia menjelaskan, peristiwa itu bermula dari adanya pelemparan benda menyerupai kain yang dibalutkan pada bambu atau kayu dengan panjang kurang lebih 50 sentimeter, yang saat itu dalam kondisi menyala.  

Benda tersebut dilempar ke arah mobil sedan Honda Civic berwarna putih milik kepala Desa Purwasaba tersebut.

Pascakejadian, Hoho melaporkan peristiwa itu ke Polsek Mandiraja. Laporan kemudian diteruskan ke piket Reskrim Polres Banjarnegara, yang selanjutnya menghubungi jajaran terkait.

Pihak Satreskrim Polres Banjarnegara kemudian mendatangkan tim Inafis bersama piket Reskrim dan SPKT untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Di lokasi, petugas memasang garis polisi serta mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aksi pembakaran tersebut.

Barang bukti yang diamankan antara lain sisa kain dan potongan kayu sepanjang kurang lebih 50 sentimeter yang diduga digunakan sebagai alat untuk membakar mobil.

Selanjutnya, penyidik melakukan pendalaman lebih lanjut.  

Pada hari yang sama, tim juga mendatangkan Laboratorium Forensik (Labfor) dari Polda Jawa Tengah untuk melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.

"Dimungkinkan itu bensin, cuma belum kami cek apakah itu disiram dulu ataupun bersamaan," ujar Sugeng.

Ia juga mengungkapkan di sekitar lokasi kejadian sebenarnya terdapat kamera CCTV, namun saat peristiwa terjadi, CCTV tersebut dalam kondisi tidak aktif.

Sugeng menambahkan, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan guna mengungkap pelaku serta motif di balik dugaan penyiraman dan pembakaran mobil Hoho. 

Sumber: TribunJateng.com

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved