Kolom Jurnalis

Buang Ego Sektoral, Kerja BKKBN Makin Bagus

buang jauh-jauh ego sektoral. Sebab, jika ini terus dipertahankan justru akan menghambat kinerja kelembagaan

Buang Ego Sektoral, Kerja BKKBN Makin Bagus
BKKBN
BKKBN
PEGAWAI Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  agaknya tidak bisa berleha-leha. Pasalnya, mereka juga harus turut memikirkan bagaimana menurunkan  angka kematian ibu melahirkan dan kematian bayi yang dilahirkan yang masih tinggi hingga hari ini.

Bagaimana tidak. Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra), jumlah bayi yang meninggal di Indonesia mencapai 34 kasus per 1.000 kelahiran.

Jumlah tersebut lebih tinggi dari angka Millenium Development Goals (MDG's), yakni 25 kasus per 1.000 kelahiran. Sementara jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia sebanyak 228 kasus per 1.000 kelahiran.  

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi pada sebuah kesempatan mengatakan, kasus seperti disebutkan di atas terjadi (kebanyakan) akibat perdarahan serta ibu yang melahirkan dalam usia terlalu muda, terlalu rapat, dan terlalu banyak melahirkan.

Menkes mengatakan, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia tinggi karena persalinan masih banyak dilakukan di rumah.

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 tercatat, angka ibu melahirkan sebesar 228 per 100 ribu kelahiran dan angka kematian bayi sebesar 34 per seribu kelahiran hidup.

Namun hasil SDKI 2012 tercatat, angka kematian ibu melahirkan sudah mulai turun perlahan bahwa tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 23 per seribu kelahiran hidup. Pemicu tingginya angka kematian ibu melahirkan juga akibat usia ibu terlalu tua, dan kondisi ini justru memicu banyak ibu-ibu melahirkan anak cacat.

Sementara dalam konteks lebih mikro, angka kematian bayi di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, meningkat 0,7/1.000 kelahiran menjadi 9/1.000 kelahiran hingga Oktober 2012. Dibandingkan 2011 AKB di Bumi Jejama Secancanan ada 8,3/1.000 kelahiran. Sedangkan angka kematian ibu di Bumi Jejama Secancanan mencapai 105/1.000 kelahiran hingga Oktober 2012. Sementara di 2011 ada 157,6/1.000 kelahiran.

Buang Ego Sektoral

Melihat kondisi di atas tentu  BKKBN tidak boleh abai. Wajib hukumnya  BKKBN ikut mencari terobosan-terobosan dalam menangani masalah tersebut. Tapi yang terpenting adalah melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, atau dalam konteks lebih mikro, yakni melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota seluruh Indonesia.Tanpa koordinasi yang baik, maka sebagus apapun program yang digulirkan tidak akan mencapai hasil yang diinginkan.

Pendek kata, di titik inilah (koordinasi) sesungguhnya  kelebihan sekaligus kelemahan antara kedua lembaga tersebut, maka  jangan heran jika kemudian Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi meminta jangan lagi 'ada dusta' di antara dua instansi penting itu.

Walhasil, lemahnya koordinasi dari kedua lembaga tersebut  membuat program  KB selama lima tahun 2007-2012 berjalan stagnan dan jauh dari harapan; target indikator Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata wanita usia subur yang melahirkan anak nasional sebesar 2,1, dan saat ini baru tercapai 2,6; angka kelahiran menurut kelompok umur (ASFR) wanita usia subur 15-19 tahun cenderung meningkat dari 35/1.000 pada SDKI 2007 menjadi 48/1.000. Padahal target yang seharusnya dicapai 30/1.000 wanita usia subur. Hal itu juga disebabkan banyaknya pasangan usia subur yang berhenti ber-KB.

Untuk menebus "dosa" tahun sebelumnya, maka ke depan ada baiknya BKKBN lebih memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, Diskes Provinsi/Kabupaten/Kota, Ikatan Dokter Indonesia, dan Ikatan Bidan Indonesia. Tentu sebelum berkoordinasi, ada baiknya BKKBN memperbaiki komunikasi antarlembaga. Bisa jadi pemicu lemahnya koordinasi lantaran ada yang salah dalam berkomunikasi, sehingga melahirkan salah pengertian bahkan kebuntuan berkomunikasi.

Berikutnya, BKKBN harus merangkul tidak hanya Kementerian Kesehatan, tetapi juga Kementerian Koordinator Bidang Kejahteraan Rakyat dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.Tanpa peran kedua kementerian itu, terwujudnya keluarga yang sejahtera dan bahagia bisa jadi hanya angan-angan.

Selain itu, BKKBN mesti adaptif dan harus melakukan banyak terobosan dalam menghadapi masalah kependudukan. Ini bisa diwujudkan kalau BKKBN memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mempuni dan sokong program-program yang jelas dan dana yang memadai.

Tak kalah penting  adalah mengubah mentalitas dan cara pandang pegawai yang menggerakkan gerbong BKKBN. Mental yang lemah dan cara pandang yang salah hanya akan membuat kinerja BKKBN makin terpuruk. Dibutuhkan mentalitas kuat dan cara pandang visioner bagi BKKBN, sehingga ke depan mampu menutaskan masalah-masalah kependudukan yang makin mencemaskan ini. Terakhir,  buang jauh-jauh ego sektoral. Sebab, jika ini terus dipertahankan justru akan menghambat kinerja kelembagaan. Itulah point-point penting yang bisa mempertajam daya ungkit BKKBN.(taryono)

Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved