Opini
Kejahatan Seksual oleh Remaja, Salah Siapa?
KASUS kekerasan terhadap anak dan remaja sering disebut fenomena gunung es
Penulis: Gustina Asmara | Editor: taryono
KASUS kekerasan terhadap anak dan remaja sering disebut fenomena gunung es. Namun, pepatah itu nampaknya tidak berlaku lagi saat ini. Satu per satu, kasus kekerasan baik fisik, emosional hingga seksual, terungkap.
Bahkan sepanjang 2016 ini, masyarakat dibuat syok dan terkaget-kaget dengan banyaknya kasus pelecehan seksual yang melibatkan remaja dan anak dibawah umur.
Bahkan mereka tak segan melakukan tindak kekerasan yang berujung pada penghilangan nyawa seseorang.
Kasus yang menimpa perempuan muda Eno P, salah satu buktinya. Korban tidak hanya diperkosa tapi juga dibunuh oleh tiga orang pemuda. Dari tiga orang ini, satu diantaranya siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang masih berusia 15 tahun.
Belum lagi kasus kematian Yuyun yang membuat seluruh masyarakat Indonesia berduka, bahkan Presiden Joko Widodo pun berkomentar dan meminta pelakunya ditangkap.
Siswi SMP di Rejanglebong, Bengkulu ini tidak hanya diperkora tapi juga dibunuh oleh 14 pemuda pada 2 April lalu.
Sebanyak 6 dari 14 pelaku merupakan remaja berusia dibawah 18 tahun. Seperti juga kasus Eno, pelaku-pelaku ini memperkosa dan membunuh korbannya dengan sadis.
Ada juga kasus pemerkosaan anak perempuan yang dilakukan beramai-ramai oleh teman-temannya sendiri yang masih berusia dibawah umur di Bengkulu. Korban selamat, namun mengalami trauma yang mendalam.
Dan masih puluhan kasus kekerasan disertai pemerkosaan dan pembunuhan lain yang terjadi sepanjang 2016. Berita-berita kematian Eno, Yuyun, dan lainnya, mewarnai setiap media massa di Indonesia, mulai cetak hingga elektronik. Hampir setiap hari, ada saja kasus serupa terjadi atau terungkap di belahan bumi Indonesia.
Berdasarkan catatan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), kasus kekerasan seksual tahun 2016 naik menjadi peringkat kedua dengan jumlah kasus perkosaan mencapai 2.399 kasus atau 72 persen.
Kemudian, kasus pencabulan mencapai 601 kasus atau 18 persen. Sementara, kasus pelecehan seksual mencapai 166 kasus atau 5 persen.
Pergaulan Bebas hingga Pengaruh Internet
Apa yang menyebabkan para remaja dan anak dibawah umur tega melakukan hal-hal diluar nalar manusia itu? Ada banyak pihak berpendapat, pergaulan remaja yang bebas, tanpa kontrol orangtua, menjadi faktor pemicu utama.
Belum lagi, kehadiran gadget yang menembus segala lini membuat anak-anak hingga remaja bebas mengakses internet, situs-situs berkonten porno dan tidak mendidik serta lainnya, membuat mereka menyerap informasi secara membabi buta tanpa bimbingan.
Tayangan-tayangan sinetron remaja di televisi yang lebih banyak mencontohkan hal-hal tidak baik, memperburuk kondisi di atas.