Opini

Kejahatan Seksual oleh Remaja, Salah Siapa?

KASUS kekerasan terhadap anak dan remaja sering disebut fenomena gunung es

Tayang:
Penulis: Gustina Asmara | Editor: taryono

Anak-anak dan remaja disuguhkan, tayangan-tayangan yang tidak mendidik, seperti cara berpakaian yang mini, pacaran-pacaran di usia belia, peluk-pelukan, rangkul-rangkulan, dan banyak lagi.

Hal ini memberikan contoh yang tidak baik bagi perkembangan jiwa anak dan remaja. Padahal, anak dan remaja secara psikologi membutuhkan role model yang positif. Masa remaja adalah masa yang sangat rawan, dimana anak-anak masih mencari jati dirinya.

Lingkungan dan role model yang positif akan memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan jiwa dan mental mereka. Begitupun sebaliknya. Ketika lingkungan dan role modelnya bersikap negatif, maka anak dan remaja pun akan bersikap negatif.

Semua faktor di atas pada akhirnya ikut mendorong anak melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia. Mulai dari melakukan pelecehan seksual, hingga berujung penghilangan nyawa seseorang.

Seperti kasus Yuyun, para pelaku sebelumnya telah menegak minuman keras dan suka menonton film porna dari gadget mereka.

Berdasarkan teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, remaja berusaha mencari identitas dirinya yang positif dari orang-orang yang mereka kenal atau orang di sekelilingnya. Nilai dan hal yang dilakukan orang di sekelilingnya akan mereka tiru dan terapkan dalam kehidupan mereka.

Karena itu, lingkungan keluarga menjadi benteng pertama bagi perlindungan dan pembentukan jati diri seorang anak. Ketika lingkungan keluarganya baik, positif, penuh kasih sayang, maka anak pun akan berkembang secara positif.

Kembali ke Pendidikan Keluarga

Di era teknologi seperti saat ini, peran dan tugas orangtua semakin berat. Karena saat ini, seorang anak bisa mendapatkan banyak sekali informasi dari mana saja. Berbeda dengan jaman dulu, yang hanya mengandalkan televisi.

Saat ini, semua hal bisa didapat dan ditemui di internet yang cukup diakses dari gadget mereka. Apalagi, hampir setiap orang tua kini telah membekali anaknya dengan gadget.

Tidak hanya itu, tuntutan zaman dan ekonomi saat ini telah membuat banyak orangtua mempercayakan pendidikan anaknya kepada institusi formal semata.

Sementara, pendidikan di dalam keluarga, begitu minim. Banyak sekali orangtua yang "menitipkan" anaknya di sekolah formal sejak pagi hari hingga sore.

Akibatnya, sedikit sekali interaksi antara orangtua dan anak. Padahal, pendidikan di dalam keluarga memegang peranan besar dalam membentuk karakter dan jati diri anak.

Anak-anak yang hidup di lingkungan keluarga yang hangat dan penuh cinta kasih, akan tumbuh menjadi pribadi yang positif.

Sebaliknya, anak yang hidup di lingkungan yang kurang perhatian akan menjadi pribadi yang kurang positif.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved